Ketika Tarian Menjadi Bahasa, Anak-anak Tuli Menaklukkan Panggung RRI Fest

Ketika Tarian Menjadi Bahasa, Anak-anak Tuli Menaklukkan Panggung RRI Fest
Keterbatasan pendengaran bukan alasan untuk berhenti bermimpi.kisah penari difabel. (Foto : Sigit B.R,)

Semarang-Spektroom: Mereka tidak mendengar suara gending. Tidak pula bisa menikmati alunan musik sebagaimana penonton pada umumnya.

Namun, ketika tubuh mereka mulai bergerak di atas panggung, seolah tak ada yang kurang dari penampilan itu.

Tangan terayun lembut. Tubuh bergerak gemulai. Langkah kaki berpadu. Tatapan mata saling menguatkan. Senyum pun sesekali mengembang.

Tujuh anak didik Sanggar Tari Larasati Kusuma Ayu, sanggar seni bagi difabel tuli, tampil di panggung RRI Fest 2026 Semarang, Minggu (6/9/2026).

Mereka adalah Diki, Arif, Edo, Gita, Arina, Fauzan, dan Ena. Dengan penuh percaya diri, mereka membawakan tari di hadapan masyarakat yang memadati arena RRI Fest.

Bagi mereka, panggung itu bukan sekadar tempat untuk menampilkan kemampuan menari. Ada pesan yang jauh lebih dalam, keterbatasan pendengaran bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Di balik penampilan yang terlihat ringan dan penuh senyum itu, ada proses panjang. Mereka belajar mengenali irama melalui gerak, hitungan, getaran, dan isyarat. Mereka membangun kekompakan dengan cara mereka sendiri.

Pembimbing sekaligus penasihat Sanggar Tari Larasati Kusuma Ayu, Puas Setyaningsih, tak kuasa menyembunyikan rasa harunya.

"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan RRI untuk anak-anak kami. Mungkin suara gending tidak mereka dengar, tetapi gerak gemulai mereka bisa selaras dengan irama yang mengiringi," ujarnya Puas saat mendampingi anak-anak asuhnya di panggung RRI Fest.

Sanggar Tari Larasati Kusuma Ayu telah berdiri sekitar delapan tahun. Sanggar yang didirikan dan dibimbing oleh Ibu Een itu menjadi ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus tuli untuk mengembangkan bakat sekaligus membangun kepercayaan diri.

Menari bukan satu-satunya kegiatan yang mereka jalani.
Mereka juga belajar fashion show, membuat kue dan masakan, hingga belajar merias wajah. Bahkan ketika tampil di berbagai kesempatan, mereka mampu berdandan sendiri.

Anggotanya kini memiliki jalan hidup yang beragam. Ada yang masih bersekolah, menempuh pendidikan di perguruan tinggi, hingga sudah bekerja.

Prestasi mereka pun tak hanya datang dari panggung seni.
Salah seorang anggota sanggar bahkan dipercaya menjadi Duta UNICEF. Ia aktif menyuarakan hak-hak anak serta memberikan edukasi mengenai anak berkebutuhan khusus kepada masyarakat.

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret tersebut bahkan beberapa kali mendapat kesempatan berkunjung ke luar negeri untuk menyampaikan gagasannya dalam forum UNICEF.

Kisah mereka rupanya mampu menyentuh hati penonton RRI Fest.
Riyanto, 59 tahun, salah seorang pengunjung, terlihat berkaca-kaca menyaksikan penampilan mereka.

"Masya Allah, luar biasa, hebat, semangat, baik, bagus," katanya haru.

Di tengah riuh tepuk tangan penonton, ketujuh anak itu tetap tersenyum. Mereka mungkin tidak mendengar suara tepuk tangan tersebut. Namun, mereka bisa melihatnya. Dan mungkin, mereka bisa merasakannya.

Dari sorot mata penonton, senyum yang diberikan, serta tepuk tangan yang bergemuruh, ada sebuah pesan sederhana yang sampai kepada mereka: perjuangan mereka dihargai.

Tarian akhirnya menjadi bahasa yang tidak membutuhkan suara.
Gerak tubuh menjadi kalimat. Senyum menjadi jawaban. Dan panggung menjadi ruang untuk membuktikan bahwa setiap anak memiliki cara sendiri untuk bersinar.

"Terus berkarya, anak-anakku. Allah memberi kelebihan di setiap keterbatasan. Ukir prestasimu, masa depan cerah menantimu," pesannya Puas.

Berita terkait

Kagama Kalbar Salurkan Sembako untuk Relawan Karhutla, Hotspot Kubu Raya Turun Drastis

Kagama Kalbar Salurkan Sembako untuk Relawan Karhutla, Hotspot Kubu Raya Turun Drastis

Kubu Raya – Spektroom : Perjuangan para petugas dan relawan dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya mulai menunjukkan hasil positif. Ditengah upaya yang telah berlangsung hampir dua bulan, jumlah titik panas (hotspot) di wilayah tersebut dilaporkan mengalami penurunan signifikan. Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi para petugas di

Apolonius Welly, Anggoro AP