Kondisi Inflasi di Provinsi Lampung Hingga Saat Ini Masih Terkendali Dengan Baik
Spektroom - Meski di tingkat nasional Inflasi pada Minggu ke 4 Januari 2026 naik dari tahun sebelumnya yakni menjadi 2,92 persen, tetapi masih dalam rentang yang normal dan belum menyentuh angka 3 persen, sementara di Provinsi Lampung hingga saat ini masih terkendali dengan baik.
Hal itu disampaikan Staf Ahli Gubernur Bidang Ekubang Bani Ispriyanto, usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Daerah Tahun 2025, bersama Tim Pengendalian Inivlasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung, secara Virtual dari ruang Command Centre (Pusat Kendali Data) Diskominfotik Provinsi Lampung, Selasa (27/1/2026).
Bani Ispriyanto menegaskan bahwa pemerintah daerah diminta untuk terus menjaga inflasi agar tidak melewati batas psikologis tersebut, mengingat dampaknya akan lebih dirasakan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.
"Kalau sampai menyentuh angka 3 persen, dampaknya akan mulai terasa, terutama bagi masyarakat kelas bawah. Karena itu kita diminta untuk terus menahan dan mengendalikan inflasi," tambahnya.
Bani juga menjelaskan bahwa ketersediaan stok bahan pokok di Provinsi Lampung saat ini masih aman. Namun demikian, terdapat beberapa komoditas yang perlu diwaspadai pergerakan harganya.
"Stok masih tersedia dengan baik. Hanya ada beberapa komoditas yang perlu kita waspadai seperti cabai, bawang merah, telur, dan daging ayam. Tetapi sampai saat ini, harganya masih relatif terkendali," jelasnya.
Berdasarkan informasi yang dikeluarkan BPS Lampung terkait harga telur ayam ras yang di sejumlah pasar mencapai Rp30.000 per kilogram, Bani menyebutkan bahwa kondisi tersebut masih bersifat fluktuatif dan belum melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
"Harga telur di pasar itu fluktuatif, ada yang Rp25.000, Rp27.000, hingga Rp30.000 per kilogram. Harga Rp30.000 itu masih sesuai HET telur, jadi belum melebihi ketentuan," ujarnya.
Menurutnya, perbedaan harga di tingkat pasar dipengaruhi oleh faktor jarak dan biaya distribusi, khususnya bagi pedagang kecil yang mengambil barang dari distributor yang relatif jauh.
"Kemungkinan ada pengaruh biaya transportasi. Tapi karena tidak merata, saya kira masih dalam batas wajar dan tidak menjadi masalah," katanya.
Terkait pakan ternak, Bani menambahkan bahwa tidak terdapat kendala signifikan, meskipun harga jagung sebagai bahan baku pakan ternak masih relatif tinggi di tingkat distributor dan pabrik
Pakan ternak relatif tidak ada masalah, hanya memang harga jagung di tingkat distributor agak tinggi, padahal saat ini sedang masa panen raya. Ini yang sedang kita cari penyebabnya," pungkasnya.
Sementara Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Daerah Tahun 2025 yang dirangkai dengan Evaluasi Dukungan Pemerintah Daerah dalam Program 3 Juta Rumah, berlangsung secara luring di Sasana Bhakti Praja Kemendagri, Jakarta Pusat, dipimpin Mentri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.(@Ng,).