Konsep Jakarta sebagai "Kota Venesia"

back to nature

Konsep Jakarta sebagai "Kota Venesia"
Kiri Prof. Dr. Ir. Eddy Hermawan, M.Sc. dan Tengah Dr. Dipl Ing. (FH) Budi Heru Santosa, M.Sc. (Foto Spektroom. AA)

Spektroom - Kota Jakarta diusulkan beradaptasi menjadi kota air seperti Venesia, Italia, daripada terus menghabiskan anggaran untuk solusi yang belum tentu berhasil membendung perubahan lingkungan.


Jakarta sangat rentan karena tanahnya yang aluvial, pantainya yang landai, serta posisinya yang menjadi pusat pertemuan uap air dari Monsun Asia dan Samudra Hindia. Fenomena cuaca seperti siklon tropis di Australia turut memperburuk kondisi dengan menarik uap air ke arah Indonesia, dengan gerbang utamanya berada di Sumatera Utara. Dan daya dukung lahan di Jakarta juga semakin tipis.

Usulan itu disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ir. Eddy Hermawan, M.Sc, pada diskusi Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset, di Media Lounge Discussion Gedung B.J. Habibie Jakarta, Rabu (04/02/2026).

"Toh juga itu akan menyelamatkan banyak orang, menyelamatkan struktur tanpa mengubah. Mungkin sebagian besar masyarakat kaget ya, tetapi saya lebih kepada lebih banyak menyelamatkan nyawa. Karena terus terang saja, walaupun kawasan ini sepertinya bebas dari tropical cyclone yang besar seperti Cempaka, tapi kawasan ini sepertinya tidak/belum akan bebas dari serangan Monsun Asia, ataupun dari yang ada di Laut Hindia, atau bahkan dari yang ada di selat, dari Samudra Indonesia itu sendiri. Mengingat tropical cyclone yang terbentuk di atas Australia itu memperburuk kondisi itu," kata Eddy Hermawan kepada Spektroom.


Perlunya memahami mekanisme cuaca di lapisan atmosfer tinggi (500 hektopaskal) melalui teknologi data seperti machine learning dan Artificial Inteligent (AI) untuk prediksi yang lebih akurat.

Selama tidak memahami mekanismenya, itu semuanya akan menjadi sia-sia saja. Pahami mekanismenya, pahami bagaimana itu terbentuk, kemudian bagaimana kejadian seperti itu bisa disimulasikan kembali dengan resolusi data yang tinggi, pada akhirnya nanti bisa memprediksi kira-kira itu kapan itu akan terjadi lagi.

Untuk menjawab global warming atau pemanasan global adalah teknologi.Kalau terjadi global warming, Jakarta tenggelam. Belajar dari Belanda dan Skandinavia, Negara-negara itu berhasil bertahan dari ancaman tenggelam karena penguasaan teknologi manajemen air dan kesadaran masyarakat untuk tidak memperparah penurunan muka tanah (land subsidence).

Manusia tidak punya bumi lain tempat tinggal, maka sepahit apa pun kondisinya mari bertahan. Dan teknologi itulah yang mereka terapkan. Teknologi, teknologi. Nah Indonesia, kalau teknologinya belum secanggih itu, ya kita back to nature, hidup berdampingan dengan alam.

Jika teknologi Indonesia belum setara dengan Belanda, maka adaptasi infrastruktur seperti menaikkan posisi rumah atau mengubah tata ruang kota menjadi berbasis air, sebagai jalan yang lebih realistis untuk menyelamatkan nyawa.


Venesia, atau Kota Air (Kota Apung), adalah kota unik di Italia yang dibangun di atas laguna dengan ratusan kanal sebagai jalan utama, menggantikan jalan aspal, serta dihubungkan oleh ratusan jembatan; transportasi utamanya adalah perahu, gondola, dan bus air (vaporetto), menjadikannya destinasi romantis terkenal di dunia dengan arsitektur bersejarah dan budaya yang kaya, meskipun menghadapi tantangan penurunan tanah dan kenaikan air laut.

Berita terkait

INACRAFT 2026 Jadi Panggung Kriya Pontianak Bidik Buyer Internasional

INACRAFT 2026 Jadi Panggung Kriya Pontianak Bidik Buyer Internasional

Spektroom — Pemerintah Kota Pontianak kembali menunjukkan keseriusannya mendorong perajin lokal naik kelas dan menembus pasar internasional. Bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Pontianak, Pemkot ambil bagian dalam The Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2026, pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara yang menjadi etalase utama produk kriya Indonesia ke

Apolonius welly, Julianto
Ancaman Virus Nipah Tekankan Pentingnya Kesiapsiagaan, Penguatan Regulasi, dan Surveilans Berbasis Masyarakat

Ancaman Virus Nipah Tekankan Pentingnya Kesiapsiagaan, Penguatan Regulasi, dan Surveilans Berbasis Masyarakat

Spektroom - Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI) mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan nasional menyusul merebaknya kembali kasus infeksi virus Nipah di sejumlah negara. Penyakit zoonotik dengan tingkat kematian tinggi ini menunjukkan bahwa ancaman pandemi berikutnya bisa muncul kapan saja, dan Indonesia harus memperkuat sistem pencegahan sebelum terjadi transmisi

Anggoro AP