Kota Apel Tanpa Apel, Damir Berjuang Menjaga Identitas Batu
Batu - Spektroom : Sebutan Kota Apel telah melekat begitu lama pada Kota Batu. Apel menjadi bagian dari identitas, cerita pariwisata, sekaligus komoditas yang diperkenalkan kepada wisatawan yang datang ke kota berhawa sejuk ini.
Namun, di balik label tersebut, muncul paradoks yang dirasakan para pedagang. Ketika wisatawan datang mencari apel Batu, pasokan apel lokal justru semakin sulit diperoleh.
Damir, salah satu pedagang apel di Kota Batu, merasakan persoalan itu secara langsung. Ia tidak ingin hanya diam ketika buah yang menjadi ikon kotanya semakin sulit ditemukan.

Bagi Damir, mempertahankan apel bukan sekadar mempertahankan barang dagangan. Ada identitas kota yang menurutnya harus tetap dijaga.
“Sejak lahir sudah mengenal bahwa Batu dikenal sebagai Kota Apel. Oleh karena itu saya bertekad memperjuangkan agar Batu tetap ada apelnya,” ungkap Damir di kediamannya di Kelurahan Temas.
Perjuangan itu dilakukan dengan cara sederhana, tetapi tidak mudah. Ketika apel dari Batu tidak mencukupi, Damir mencari pasokan hingga ke luar wilayah.
Poncokusumo, Kabupaten Malang, dan Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, menjadi wilayah yang ia datangi untuk mendapatkan apel. Jenis Manalagi dan Rome Beauty menjadi salah satu incarannya.
“Saya berupaya mencari buah apel dari Poncokusumo dan Nongkojajar, terutama jenis apel Manalagi dan Rome Beauty. Kalau apel Anna banyak di Batu,” ujarnya.
Apel dari luar daerah tersebut kemudian dibawa kembali ke Kota Batu. Damir bahkan tidak hanya memikirkan kebutuhan dagangannya sendiri. Apel itu dibagikan kepada pedagang lain yang menjajakan apel di sejumlah titik, termasuk Pasar Among Tani dan kawasan wisata.
Ada alasan mengapa ia melakukan itu.
Wisatawan, kata Damir, sudah telanjur mengenal Batu sebagai Kota Apel. Mereka datang dengan ekspektasi bahwa apel menjadi salah satu buah khas yang mudah ditemukan.
“Wisatawan tahunya apel dari Kota Batu. Oleh karena itu saya berupaya mendatangkan apel luar kota kemudian dibagikan ke pedagang yang ada di Kota Batu, baik di Pasar Among Tani maupun tempat wisata,” tuturnya.
Di titik inilah persoalan apel Batu menjadi lebih dari sekadar persoalan perdagangan.
Jika apel yang dijual di Kota Apel semakin banyak didatangkan dari luar daerah, apa yang sesungguhnya sedang dipertahankan?
Nama Kota Apel tentu masih bisa dipertahankan sebagai identitas pariwisata. Tetapi keberlanjutan apel sebagai komoditas lokal membutuhkan persoalan yang jauh lebih kompleks untuk diselesaikan.
Petani membutuhkan kepastian produksi dan pasar. Lahan pertanian membutuhkan perlindungan. Budidaya membutuhkan inovasi. Sementara generasi muda membutuhkan alasan ekonomi agar tetap mau meneruskan profesi sebagai petani apel.
Damir melihat persoalan itu dari sisi paling dekat dengan konsumen: pasar.
Ketika stok apel Batu semakin sulit, pedagang harus mencari alternatif. Pilihannya adalah mendatangkan apel dari daerah lain atau membiarkan wisatawan pulang tanpa menemukan buah yang selama ini menjadi salah satu simbol Batu.
“Bagaimana lagi, apel Batu sudah habis,” tandasnya.
Kalimat pendek itu terdengar seperti keluhan seorang pedagang. Namun, jika ditarik lebih jauh, ia merupakan gambaran tentang tantangan mempertahankan identitas sebuah kota.
Damir tidak memiliki kewenangan membuat kebijakan. Ia tidak bisa menentukan arah pertanian Kota Batu. Ia juga tidak bisa menghentikan perubahan fungsi lahan atau menentukan harga jual apel di tingkat petani.
Yang bisa ia lakukan hanyalah bergerak mencari apel.
Dari Poncokusumo ke Nongkojajar, kemudian membawanya kembali ke Batu.
Ironisnya, apel dari luar daerah itulah yang kemudian membantu menjaga agar pasar di Kota Batu tetap dipenuhi buah yang dicari wisatawan.
Di tengah kondisi tersebut, perjuangan Damir menyimpan pesan sederhana: identitas tidak cukup hanya diwariskan melalui nama. Identitas harus dirawat melalui tindakan nyata.
Batu boleh memiliki gedung-gedung wisata, hotel, pusat oleh-oleh dan berbagai destinasi baru. Tetapi jika ingin tetap disebut Kota Apel, keberadaan petani dan kebun apel lokal tidak boleh menjadi catatan kaki dalam pembangunan kota.
Sebab, apel bukan hanya soal buah yang dijual per kilogram.
Bagi Damir, apel adalah bagian dari ingatan sejak ia lahir.
Dan kini, ketika apel Batu semakin sulit ditemukan, ia memilih menjadi salah satu orang yang berusaha mempertahankan agar cerita tentang Kota Apel tidak berhenti hanya sebagai nostalgia.