Labuhan Merapi Kembali Digelar Peringati Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X
Spektroom —Upacara adat Labuhan Merapi kembali dilaksanakan dalam rangka memperingati Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-38. Kegiatan ini diikuti oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa bersama Paring Dalem Surakso Hargo atau Mbah Asih, serta para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Prosesi dimulai dari Pendopo Museum Petilasan Mbah Maridjan dengan membawa berbagai ubarampe menuju Sri Manganti Hargo Merapi. Labuhan Merapi merupakan bagian dari rangkaian tradisi Keraton yang sarat makna, sebagai wujud rasa syukur sekaligus doa untuk keselamatan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Setibanya di Sri Manganti Hargo Merapi, upacara dilanjutkan dengan prosesi ritual, pembacaan doa, serta pembagian nasi dan lauk pauk kepada masyarakat sekitar. Tidak hanya warga lereng Gunung Merapi, wisatawan yang turut menyaksikan jalannya upacara juga mendapatkan pembagian ‘berkat’ tersebut.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengungkapkan rasa syukurnya atas tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti upacara adat yang rutin digelar di Kabupaten Sleman ini. Menurutnya, Labuhan Merapi tidak hanya memiliki nilai ritual budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya.
“Artinya labuhan ini selain sebagai ritual budaya, juga menarik sebagai objek wisata. Tentu ini sangat istimewa bagi kami,” ujarnya.
Danang menambahkan,
Pelaksanaan upacara adat Labuhan Merapi juga merupakan bentuk permohonan keberkahan hidup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sekaligus upaya pelestarian budaya atau nguri-uri budaya.
“Bagi masyarakat Jawa, ini menjadi keyakinan untuk mendekatkan diri kepada alam dan kepada Yang Maha Kuasa. Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya harus saling bersatu dan menjaga alam,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Danang menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata terus melakukan monitoring dan evaluasi guna memastikan seluruh rangkaian prosesi adat berjalan dengan baik dan sesuai ketentuan.
“Harapan kami, Labuhan Merapi tidak hanya menjadi ritual khusus, tetapi ke depan terus menjadi daya tarik wisata, khususnya bagi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung tradisi budaya sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya di Kabupaten Sleman,” pungkasnya.
(Fatmawati)