KBIHU Muhammadiyah Payakumbuh Intensifkan Pembinaan Haji Mandiri

KBIHU Muhammadiyah Payakumbuh Intensifkan Pembinaan Haji Mandiri
Jemaah KBIHU Muhamadiyah Payakumbuh.( dok jma)

Payakumbuh - Sektroom : Dibalik riuh dan pekatnya antrean ibadah haji, sebuah konsep dasar kembali ditegaskan di kota Payakumbuh bahwa haji bukanlah sekadar perjalanan rombongan, melainkan ibadah personal yang menuntut ketahanan serta kemandirian penuh setiap individu.

Semangat itulah yang mengemuka saat Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Muhammadiyah Payakumbuh secara resmi membuka rangkaian manasik haji musim 1448 Hijriah di Masjid Ansharullah Muhammadiyah Payakumbuh, Minggu, 9 Agustus 2026.

Kepala Kantor Kementerian Haji Kota Payakumbuh, H. Endra Rinaldi, S.Ag., yang membuka kegiatan tersebut secara resmi, menaruh sorotan tajam pada penguatan konsep haji mandiri. Dalam pandangannya, haji mandiri bukan berarti bergerak sendiri tanpa memedulikan aturan, melainkan terwujudnya jemaah yang matang secara fikih, tangguh secara fisik, serta paham alur ibadah tanpa bergantung sepenuhnya pada petunjuk pendamping di lapangan.

"Haji mandiri adalah muara dari pembinaan yang berhasil. Jemaah paham syarat dan rukunnya, mengerti mana yang sunnah dan larangan, sehingga ketika di Tanah Suci dalam kondisi sepadat apa pun ibadah tetap berjalan khusyuk dan sesuai syariat," ujar Endra dalam sambutannya.

Endra Rinaldi menekankan pentingnya peran KBIHU untuk membekali jamaah dengan pemahaman dan kemampuan menunaikan haji secara mandiri.


Penegasan tentang substansi ibadah haji juga disampaikan oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Payakumbuh, Ustadz Dr. H. Irwandi Nashir.

Dihadapan peserta manasik, Irwandi Nashir menguraikan bahwa haji merupakan puncak sintesis dari seluruh ajaran Islam yang mencakup lima dimensi amalan sekaligus, Amalan Hati (QalbiIyyah), meluruskan niat semata-mata karena Allah, mengikis kesombongan, dan menanamkan keikhlasan mendalam.

Kemudian amalan lisan (Lisaniyyah), memperbanyak talbiyah, zikir, serta menjaga tutur kata dari ucapan sia-sia (rafats), Amalan Badan (Badaniyyah), ketahanan fisik saat tawaf, sa'i, hingga wukuf yang menguras energi.

Selanjutnya amalan Harta (Maliyyah), pengorbanan finansial yang halal untuk menopang perjalanan suci serta amalan tarkiyyah keberanian mental untuk meninggalkan seluruh larangan ihram dan kemaksiatan.

"Haji yang mabrur tercapai saat kelima dimensi amalan ini berpadu utuh dalam diri seorang hamba," tegas Irwandi.

Kolaborasi Strategis dan Penguatan Akidah

Guna menjangkau masyarakat yang lebih luas dan meningkatkan mutu bimbingan, KBIHU Muhammadiyah Payakumbuh musim ini menempuh langkah kolaboratif. Ketua KBIHU Muhammadiyah, Ustadz H. Ruswan Atra, menyatakan kesiapannya untuk merangkul berbagai pihak demi kenyamanan dan kemudahan akses calon jemaah.

"KBIHU Muhammadiyah menyelenggarakan manasik haji setiap minggu pada hari Ahad, pukul 10.00 WIB yang berpusat di masjid Ansharullah Muhammadiyah Payakumbuh, " imbuh Ustadz H. Ruswan Atra.

Pada musim haji 1448 H ini, KBIHU Muhammadiyah berkolaborasi secara strategis dengan Hijrah Manasik Center Payakumbuh.

"Sinergi ini dibangun untuk memperluas jangkauan sosialisasi sekaligus memberi kemudahan akses bagi masyarakat Payakumbuh dan sekitarnya yang ingin bergabung dengan KBIHU Muhammadiyah," jelas Ruswan.

Sesi pembekalan awal diisi oleh Direktur Hijrah Manasik Center Payakumbuh yang juga instruktur haji dan umrah bersertifikat nasional, Ustadz Dr. Afri Eki.

Pada materi perdana ini, Dr. Afri menekankan pentingnya Penguatan Akidah Haji sebelum melangkah ke Fiqih Haji.

Menurutnya, pemahaman fikih yang detail akan terasa hampa jika tidak dilandasi oleh akidah yang kokoh.

Pembenahan tauhid menjadi fondasi utama agar seluruh prosesi manasik hingga pelaksanaan di Tanah Suci kelak bernilai ibadah yang murni.

Berita terkait

Ketua DP DHD BPK-45 Sumbar Dorong Gedung Joeang Jadi Cagar Budaya Nasional

Ketua DP DHD BPK-45 Sumbar Dorong Gedung Joeang Jadi Cagar Budaya Nasional

Padang-Spektroom : Gedung Joeang 45 Sumatera Barat (Sumbar) di Jalan Samudera, Kota Padang, didorong untuk dinaikkan statusnya dari cagar budaya tingkat kota menjadi Cagar Budaya Nasional. Peningkatan status tersebut dinilai penting sebagai bagian dari upaya menjaga bangunan bersejarah sekaligus merawat memori kolektif bangsa tentang perjalanan perjuangan menuju kemerdekaan. Gedung-gedung cagar budaya,

Rafles