Lebaran di Pasar Youtefa: Saat Sebagian Bersilaturahmi, Ichsan Tetap Mengais Rezeki

Lebaran di Pasar Youtefa: Saat Sebagian Bersilaturahmi, Ichsan Tetap Mengais Rezeki
M. Ichsan ketika ditemui Spektroom dilapaknya di pasar Youtefa Abepura kota Jayapura. (Foto: Toni Teniwud)

Jayapura-Spektroom – Riuh takbir mungkin telah usai, namun denyut kehidupan di Pasar Youtefa, Abepura, Kota Jayapura, tetap berlanjut.

Di saat sebagian besar masyarakat menikmati hangatnya Idul Fitri 1447 Hijriah bersama keluarga, ada cerita lain yang berjalan di lorong-lorong pasar—tentang kerja, ketekunan, dan pilihan hidup.

Senin (23/03/2026), suasana pasar terlihat lebih lengang dibanding hari biasa.

Namun di beberapa sudut, lapak-lapak kecil masih bertahan. Salah satunya milik M. Ichsan, pedagang eceran yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup di tempat itu.

Bagi Ichsan, Lebaran bukan hanya soal perayaan, tetapi juga momentum untuk bertahan.

Pria asal Buton, Sulawesi Tenggara, itu memilih merayakan hari pertama Idul Fitri bersama keluarga, sebelum kembali membuka lapaknya keesokan hari.

“Lebaran tetap kami rayakan, tapi setelah itu kembali jualan. Ini sudah jadi kebiasaan,” ujarnya.

Di balik kesederhanaan lapaknya, tersimpan strategi bertahan hidup. Ichsan memahami betul ritme kebutuhan masyarakat.

Tahun ini, momen Lebaran berdekatan dengan aktivitas sekolah, sehingga ia menyediakan berbagai kebutuhan pelajar—mulai dari sepatu, tas, hingga alat tulis dengan harga yang bervariasi dan terjangkau.

“Banyak orang tua cari kebutuhan sekolah anak. Jadi kami siapkan,” katanya.

Pilihan untuk tetap berjualan di hari raya bukan tanpa alasan. Selain kebutuhan ekonomi, momen ini juga menjadi peluang ketika sebagian pedagang lain masih menikmati libur panjang.
Bagi Ichsan, celah itu adalah kesempatan.

Kisah Ichsan mencerminkan realitas yang sering luput dari perhatian.

Di balik gemerlap perayaan Lebaran, ada kelompok masyarakat yang tetap bekerja demi menjaga dapur tetap mengepul.

Mereka adalah wajah lain dari hari raya—yang sunyi dari sorotan, namun penuh makna.

Di Pasar Youtefa, Lebaran bukan hanya tentang silaturahmi dan hidangan khas.

Ia juga tentang keteguhan, tentang mereka yang memilih untuk tetap berdiri di balik lapak, melayani kebutuhan orang lain.

Menutup perbincangan, Ichsan menyampaikan pesan sederhana yang sarat makna. “Selamat Idul Fitri 1447 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin,” ucapnya.

Di tengah kesibukan pasar yang tak sepenuhnya libur, ucapan itu menjadi pengingat bahwa semangat Lebaran tetap hidup—dalam bentuk yang berbeda.

(Feature Idul Fitri oleh: Toni Teniwud)

Berita terkait