Lisdyarita Siap Rekomendasikan Pemain Masuk Universitas Brawijaya Lewat Jalur Prestasi Seni Reog
Madiun-Spektroom : Nilai tawar Reog Ponorogo semakin tinggi setelah masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Selain itu, Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) lima tahun berturut masuk Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) dari total 125 event unggulan di Indonesia hasil kurasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Dari prestasi itu, Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita ketika mengunjungi karantina anggota reog Manggolo Wiyata SMAN 3 Ponorogo mengajak anggota grup reog tersebut untuk terus meningkatkan keahlian dan kreativitasnya.
“Jadikan motivasi untuk nguri-uri budaya asli daerah sekaligus meningkatkan prestasi di bidang seni. Menggeluti kesenian Reog Ponorogo bukan hanya aktivitas seni, melainkan juga dapat menjadi bekal masa depan bagi para pelajar,” katanya, Jumat (29/5/2026).
Lisdyarita mendorong kalangan pelajar menjaga konsistensi dan prestasi di kesenian. Sebab, kemampuan dan dedikasi di bidang seni budaya dapat menjadi nilai tambah untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi. “Masuk ke perguruan tinggi negeri itu tidak gampang, apalagi ke Universitas Brawijaya. Kalau kalian punya prestasi, Bunda nanti akan tanda tangan untuk rekomendasinya,” terang Bunda Lis disambut tepuk tangan para siswa.
Diungkapkannya bahwa kesenian Reog Ponorogo menjanjikan peluang karir. Pembarong bernama Alex, misalnya, mendapat kesempatan tampil di sejumlah negara berkat kepiawaiannya memainkan dadak merak. “Jangan bosan-bosan berlatih, capek memang, tapi ada peluang karir dan bekal untuk masa depan,” ungkapnya.
Sementara itu, Denny Widhiyanuriyawan, pembina Unit Aktivitas Karawitan dan Tari Universitas Brawijaya, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki komitmen kuat dalam pelestarian Reog Ponorogo. Kendati Reog Brawijaya absen dalam FNRP XXXI karena bertepatan dengan ujian akhir semester, namun Universitas Brawijaya (pemegang piala bergilir presiden RI pada FNRP tahun lalu) tetap hadir melalui dukungan pembinaan di SMA Negeri 3 Ponorogo. “Sebagai bentuk tanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan budaya sekaligus menyiapkan regenerasi seniman Reog Ponorogo,” jelasnya.
Menurut dia, kerja sama antara Universitas Brawijaya dan Pemkab Ponorogo membuka peluang bagi kalangan pelajar untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi reog. “Siapapun yang memiliki konsistensi dan prestasi bisa diberi rekomendasi untuk mendaftar di Universitas Brawijaya,” tuturnya.
Denny menambahkan, Pelestarian Reog Ponorogo membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, praktisi seni, sekolah, dan masyarakat agar budaya tersebut tetap hidup dan berkembang mengikuti zaman. “Universitas Brawijaya menjalin kerja sama dengan Pemkab Ponorogo mulai 5 Juni 2025. Berarti masih tersisa dua tahun lagi. Seperti yang disampaikan Bunda Lisdyarita, siapapun yang punya prestasi dan konsistensi terhadap pelestarian Reog Ponorogo berhak mendapat rekomendasi mendaftar ke Universitas Brawijaya,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala SMA Negeri 3 Ponorogo Suratno mengatakan bahwa karantina anggota Grup Reog Manggolo Wiyata adalah bagian dari persiapan menuju FNRP XXXI. Pihaknya sengaja menggandeng Unit Aktivitas Karawitan dan Tari Universitas Brawijaya dan ISI Surakarta karena menargetkan juara. “Wali murid juga mendukung karena anak-anaknya merupakan calon pewaris seni Reog Ponorogo yang tidak ternilai harganya,” ucap Suratno.
Di sisi lain, Achmad Dipoyono, praktisi seni dari ISI Surakarta, menilai kolaborasi lintas lembaga menjadi kekuatan penting dalam mempersiapkan penampilan terbaik pada FNRP XXXI yang menjadi bagian dari Grebeg Suro 2026. “Kami bergabung dengan SMA Negeri 3 Ponorogo dan Universitas Brawijaya untuk meraih prestasi di FNRP,” tegasnya.
Dipoyono menilai capaian Manggolo Wiyata dari serangkaian latihan selama ini masih 50 persen dari target. Masih tersisa waktu untuk meningkatkan performa sebelum tampil prima di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo.