Luar Biasa, La Fura Roja Juarai Piala Dunia di Ranah Amerika dan Hanya Kemasukan Satu Gol Selama Turnamen
Semarang_Spektroom: Lebih dari 500 pecinta bola yang sebagian besar mendukung tim Spanyol mendapatkan kepuasannya meski harus menunggu hingga perpanjangan waktu.
Hal itu terlihat dari ekspresi mereka saat menonton bareng siaran langsung final piala dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di halaman RRI Semarang.
Begitu gol terjadi pada menit ke 105 oleh Ferran Tores, mereka serentak berdiri dan berjingkrak. Seorang peserta Nobar Asal Ngaliyan bernama Bimo mengatakan sangat senang akhirnya kolektifitas dapat mengalahkan tim yang berjuang untuk Sang Goat Leo Messi.
"Kita tahu tim Argentina bermain untuk sang Goat Leo Messi yang pada usia ke 39 masih mampu bawa tim Tango ke Final. Namun apabila suplay bola kepada Leo terhambat, mereka bisa dikalahkan," ujar Bimo dengan suka cita.
Faktanya, skill merata dan kedalaman squad yang ditata oleh pelatih Luis De La Fuente benar-benar tidak tertahankan di pentas Piala Dunia 2026.
Berbekal kombinasi talenta muda dan tua yang sebagian besar kontribusi dari Klub Barcelona, tim matador mampu memainkan taktik yang nyaris tanpa cela.
Hingga partai final pagi ini 20 Juli 2026, gawang Spanyol hanya kebobolan satu gol saat melawan Belgia.
Pengamat bola Al Chomari dari PWI Jateng meski menjagokan pilihan pada tim Tango Argentina, namun mengakui bahwa permainan Spanyol sangat taktis dan disiplin, bahkan tim sekelas Prancis mati kutu dihadapannya.
"Saya pribadi menginginkan Argentina yang kembali juara, namun tidak dapat dipungkiri bahwa Spanyol tim paling merata kekuatannya dengan pola permainan tiki taka yang bagus.
Tim perancis dengan filosofi menyerangnya yang luar biasa bisa dibuat merana dan mati kutu dengan sistim permainan tim Matador." Ujarnya saat menjadi narasumber dialog di acara Debar & Nobar Final Puala Dunia 2026 di halaman RRI Semarang.
Meski pada akhirnya Argentina kalah, dia menyatakan salut untuk keduanya yakni juara periode lalu Argentina dan juara baru Spanyol yang telah membuat sejarah baru.
Tim Matador merupakan yang kedua setelah Jermam di tahun 2014 yang mampu menjadi juara ketika laga mentas di benua Amerika.
Dan kedua tim bertarung tidak saja berjuang dengan samgat keras namun tetap menjunjung tinggi sportifitas.
Terlihat jelas sikap profesional yang mereka tunjukkan dengan tetap menghormati lawan maupun perangkat olahraga.