Mahasiswa IAKN Bagikan Takjil dan Tebar Nilai Kebersamaan
Palangka Raya-Spektroom : Sore itu, lalu lintas di Jalan RTA Milono Km 6 tak hanya dipenuhi kendaraan yang bergegas pulang. Di depan kampus Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Palangka Raya, suasana berubah akrab. Sejumlah mahasiswa berdiri di tepi jalan, menyapa pengguna jalan sambil membagikan takjil sebuah gestur sederhana, tapi sarat makna.
Kegiatan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) pada Selasa, (17/03/2026) ini bukan sekadar rutinitas berbagi di bulan Ramadan. Di balik kantong-kantong makanan berbuka yang dibagikan, terselip pesan tentang kepedulian dan moderasi beragama yang coba dihidupkan dari kampus ke ruang publik.
Mahasiswa tampak sigap dan kompak. Setiap pengendara yang melintas disambut dengan senyum dan sapaan ramah. Tak butuh waktu lama, ratusan paket takjil yang disiapkan ludes terbagi. Warga yang menerima pun tak sekadar mengambil, tapi juga membalas dengan ucapan terima kasih singkat, tapi terasa tulus.
Di balik kegiatan itu, ada peran kampus IAKN yang ikut mengarahkan. Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, Lembaga, dan Kerja Sama, Dr. Prasetiawati, M.Th., hadir mendampingi mahasiswa sekaligus memastikan kegiatan berjalan sesuai nilai yang diusung.
“Kegiatan ini bukan hanya berbagi makanan, tapi juga menanamkan kepedulian sosial dan memperkuat praktik moderasi beragama di kalangan mahasiswa,” ujarnya.
Lebih dari itu, momen ini menjadi ruang belajar yang nyata. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep toleransi di ruang kelas, tetapi langsung mempraktikkannya di tengah masyarakat. Tidak ada sekat yang ada hanya perjumpaan antar manusia, di jalan, di waktu menjelang berbuka.

Sapaan “selamat berbuka” yang dilontarkan para mahasiswa terdengar sederhana. Namun di tengah keberagaman, itu menjadi simbol penghormatan, bahwa perbedaan tidak menghalangi untuk saling peduli.
Di ujung kegiatan, ketika takjil terakhir dibagikan dan matahari mulai condong ke barat, tersisa satu hal yang lebih penting dari sekadar makanan yang habis terbagi rasa kebersamaan.
Ramadan, sekali lagi, menemukan maknanya. Bukan hanya di meja makan saat berbuka, tapi di jalanan, di tangan-tangan yang memberi, dan di hati yang belajar memahami sesama. (Polin-Agri)