Mahasiswa UIN Teliti Jejak Konsumsi Halal Gen Z

Mahasiswa UIN Teliti Jejak Konsumsi Halal Gen Z
E-flyer Empat Mahasiswa UIN Palangka Raya Tampil dalam Forum Internasional. (Foto: dok Humas UIN Pky)

Palangka Raya - Spektroom: Di tengah kemudahan membeli berbagai produk melalui layar ponsel, memilih produk halal ternyata belum selalu diikuti kebiasaan memeriksa kembali informasi kehalalannya. Kesenjangan antara kesadaran dan praktik inilah yang menarik perhatian 4 mahasiswa UIN Palangka Raya untuk meneliti perilaku konsumsi generasi Z di Palangka Raya.

Temuan awal penelitian kemudian dibawa ke panggung internasional. Luna Lutfiah, Akhmad Muhaimin, Abdul Hafiz, dan Wingga Agustina Hermawan tampil sebagai presenter pada 2nd International Conference on Islamic Economics & Business (ICoIEB) 2026, Kamis (1/10/2026).

Keempat mahasiswa Program Studi Manajemen Industri Halal, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Palangka Raya itu berada di bawah asuhan Kaprodi Manajemen Industri Halal, Aris Sunandar Suryadilaga. Makalah mereka dipresentasikan dalam panel diskusi Room 3 pada konferensi yang diselenggarakan FEBI UIN STS Jambi secara hibrida, dengan lokasi kegiatan di Jambi.

Penelitian yang dipaparkan berjudul “Exploring Halal Consumption Behavior among Muslim Generation Z Consumers: A Pilot Study of Digital Trust, Islamic Branding, and Sustainable Consumption Values in Palangka Raya”. Kajian ini berangkat dari pengalaman yang sangat dekat dengan keseharian generasi muda, yakni ketika kepercayaan terhadap informasi digital ikut menentukan keputusan sebelum membeli.

Sebanyak 122 responden Muslim generasi Z di Palangka Raya dilibatkan dalam studi perintis tersebut. Mereka merupakan konsumen yang memiliki pengalaman mengonsumsi produk halal sekaligus menggunakan platform digital untuk berbelanja.

Dari jawaban responden, peneliti menemukan persepsi positif terhadap keaslian status halal, keandalan informasi digital, kredibilitas merek, serta nilai konsumsi berkelanjutan. Kepercayaan terhadap platform digital juga muncul sebagai salah 1 aspek penting dalam pertimbangan pembelian, terutama ketika informasi produk disampaikan secara transparan dan transaksi dapat dilakukan dengan aman.

Ada 1 hal yang menarik. Kesadaran terhadap produk halal yang tinggi belum selalu berarti konsumen aktif memeriksa informasi kehalalan ketika berbelanja secara daring.

Di titik inilah penelitian tersebut menemukan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konsumen dapat memiliki kesadaran halal, tetapi ketika berhadapan dengan kemudahan belanja digital, keputusan pembelian tetap dipengaruhi oleh informasi yang tersedia, tampilan merek, rasa percaya terhadap platform, serta kemudahan transaksi.

Penelitian ini juga melihat keterkaitan antara identitas merek Islami dan kepercayaan konsumen. Merek tidak hanya dipandang dari tampilan atau pesan pemasarannya, tetapi juga dari keterkaitannya dengan nilai keagamaan, etika, dan konsistensi antara pesan yang disampaikan dengan karakter produk.

Nilai konsumsi berkelanjutan membuka dimensi lain. Konsumsi halal tidak hanya dilihat dari status kehalalan produk, tetapi juga mulai dikaitkan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.

Bagi industri halal, temuan awal menjadi pengingat kepercayaan konsumen perlu dibangun melalui informasi yang jelas, mudah diperiksa, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan bagi konsumen, penelitian ini mengajak untuk tidak berhenti pada rasa percaya, tetapi membiasakan diri membaca dan memeriksa informasi sebelum membeli.

Bagi 4 mahasiswa, pengalaman membawa penelitian dari Palangka Raya ke forum internasional sekaligus menunjukkan persoalan yang ditemui dalam aktivitas belanja sehari-hari dapat menjadi bahan kajian akademik yang relevan di tingkat yang lebih luas. (Polin-Metta)

Berita terkait