Masjid Agung Perlu Miliki Museum Syiar Islam

Masjid Agung Perlu Miliki Museum Syiar Islam
Masjid Agung Surakarta tampak dari pintu utama depan. (Foto Dokumentasi Masjid Agung)

Surakarta-Spektroom : Masjid Agung Surakarta perlu memiliki Museum untuk mengelola, merawat dan mendiskripsikan aset sejarah dan budaya peninggalan syiar Islam.

Seperti diketahui, manuskrip merupakan dokumen, naskah kuno atau karya tulis tangan maupun ketikan yang dibuat sebelum diterbitkan atau dicetak.

Menurut Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta KH.Muhammad Muhtarom, di Masjid peninggalan Kerajaan Mataram Islam ini, tersimpan sejumlah manuskrip syiar Islam, yang belum dikelola sepenuhnya dan digali lebih mendalam lagi. Padahal dokumen kuno itu memiliki nilai sejarah dan nilai-nilai perkembangan Islam di Jawa bahkan Nusantara dan dunia.

“Sejauh ini keberadaan manuskrip itu belum digali lebih mendalam atau di eksplorasi untuk mengangkat kembali Sejarah dan nilai-nilai syiar Islam,” ungkap KH.Muhammad Muhtarom, Rabu (8/4/2026).

Dijelaskan, manuskrip-manuskrip tersebut diantaranya berupa peninggalan para Kyai sepuh Keraton jaman dulu yang mengajar dalam rangka Syiar Islam di masjid Agung. Sedikitnya 148 manuskrip kuno dan sebagian telah didigitalisasi, yang mayoritas berasal dari Madrasah Manba'ul 'Ulum zaman Pakubuwono IX – X, raja Keraton Surakarta.

“Jadi kami ingin masjid Agung ini memiliki sebuah museum yang nantinya bisa mendiskripsikan, menarasikan manuskrip-manuskrip itu dan kemudian bisa mengeksplorasi nilai-nilai Syiarnya dan juga benda-benda cagar benda budaya lainnya,” katanya.

Aktifitas kajian agama di Masjid Agung Surakarta. (Foto: Ciptati Handayani/Spektroom)

Ketua Takmir Masjid Agung yang juga sebagai Penghulu Tafsir Anom Keraton Kasunanan Surakarta dengan sapaan KRT Muhammad Muhtarom ini menambahkan, keberadaan masjid Agung yang berdiri pada abad ke 18 silam, bukan hanya sebagai tempat ibadah, akan tetapi sebagai pusat ilmu.

Di masa itu para Kyai sepuh yang mengajar di masjid, didukung masyarakat keulamaan di Kauman sekitar masjid serta adanya madrasah Mambaul Ulum masa pemerintahan Pakubuwono X Keraton Surakarta, telah meninggalkan dokumen dan naskah-naskah berharga perkembangan Islam. Selain benda-benda peninggalan yang dilindungi dan masuk cagar budaya.

Disisi lain, saat itu juga sudah terbangun hubungan diplomatik Keraton Surakarta dengan negara timur tengah, sehingga telah memberi warna dan nilai-nilai filosofi yang sarat makna pesan moral keagamaan di masjid Agung.

Oleh karenanya, sangat diharapkan adanya dukungan semua pihak, baik pemerintah, Lembaga maupun masyarakat untuk mewujudkan Museum Masjid Agung Surakarta.

“Menjadi kewajiban kita semua untuk lebih memahami dengan menarasikan pesan moral terhadap umat secara keseluruhan, dari peninggalan kitab-kitab para ulama terdahulu yang turut andil mengembangkan dan memajukan pendidikan Islam melalui masjid agung ini,” pungkasnya.

Berita terkait