Mengawal Momentum Pemulihan : Kala Rupiah dan IHSG Berseri Kembali

Mengawal Momentum Pemulihan : Kala Rupiah dan IHSG Berseri Kembali
Ilustrasi Rupiah terhadap dolar AS menguat ke level Rp17.944 per dolar AS ( Foto Pixabay)

Jakarta - Spektroom : Dua hari terakhir menjadi oase di tengah tekanan pasar keuangan, di mana Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan. Pemulihan ini didorong oleh respons cepat Bank Indonesia menaikkan suku bunga atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen serta meredanya ketegangan geopolitik yang menurunkan indeks dolar AS (DXY). Langkah sinergis ini sukses memulihkan kepercayaan investor asing.

Sentimen positif ini disambut hangat oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dalam akun media sosialnya, SBY menyatakan bahwa penguatan ini merupakan good news dan pertanda baik (a good beginning). SBY mengapresiasi langkah cepat Bank Indonesia dan pemerintah, menekankan bahwa tanpa intervensi tersebut, pelemahan mata uang dan saham bisa menjadi tak terbendung (unstoppable). Menurutnya, ada korelasi erat antara ekonomi riil (APBN dan beban utang) dengan faktor psikologis pasar.

Sebagai catatan tren pemulihan kurs, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS, sementara referensi kurs JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.971/USD. Di lantai bursa, IHSG melonjak 2,67 persen ke level 5.900, didukung oleh reli di hampir seluruh sektor.

Meski demikian, dinamika nilai tukar berdampak asimetris terhadap berbagai sektor usaha di Indonesia:

Sektor Manufaktur dan Farmasi:

Sangat tertekan akibat melonjaknya biaya impor bahan baku, sementara penjualan domestik menggunakan mata uang Rupiah.

Sektor Energi dan Transportasi:

Beban membengkak karena biaya operasional logistik dan penyewaan dipatok dalam valuta asing.

Properti dan Konstruksi:

Rentan terhadap fluktuasi kurs yang berujung pada pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga kredit. Importir Barang Konsumsi: Biaya pengadaan bahan pangan dan produk jadi dari luar negeri semakin mahal, menekan daya beli masyarakat.

Komoditas dan Pertambangan (Sawit, batu bara, nikel):

Menikmati keuntungan (windfall) karena pendapatan ekspor dalam dolar AS dikonversi ke dalam jumlah rupiah yang jauh lebih besar.

Ke depan, tugas berat menanti pemerintahan Prabowo Subianto untuk menyeimbangkan stabilitas. Pemerintah harus menjaga batas aman defisit APBN, menekan angka rasio utang, sekaligus memastikan program prioritas seperti :

Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak membebani fiskal secara berlebihan.

Tata kelola kelembagaan ekonomi yang baik akan menjadi sorotan pasar demi menjamin kepastian berusaha dan menarik investasi asing langsung.

Berita terkait

Menteri PU: Sekolah Rakyat Dibangun Berstandar Internasional Bagi Keluarga Prasejahtera

Menteri PU: Sekolah Rakyat Dibangun Berstandar Internasional Bagi Keluarga Prasejahtera

Banyuwangi -  Spektroom - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Jawa Timur 4 yang berada di Kecamatan Blambangan, Kabupaten Banyuwangi, Senin (15/6/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan percepatan penyelesaian pembangunan Sekolah Rakyat yang menjadi bagian dari program strategis Presiden Prabowo Subianto dalam menyediakan

Nurana Diah Dhayanti