Mengetuk Pintu Harapan di Musim Kemarau

Mengetuk Pintu Harapan di Musim Kemarau
Bhabhinkamtibmas Aipda Erfandi saat menyerahkan bantuan di kediaman Pak Samsol desa Mekar Harapan Laur Ketapang. (Foto: Humas Polsek Sungai Laur)

Oleh: Apolonius Welly*

Pontianak-Spektroom : Matahari siang itu terasa lebih terik dari biasanya. Sudah berbulan-bulan hujan jarang turun di Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang.

Tanah mengering, kebun tak lagii seproduktif biasanya, dan harga kebutuhan pokok terus merangkak naik.

Bagi keluarga yang hidup pas-pasan, kemarau panjang bukan sekadar perubahan musim. Ia adalah ujian yang datang setiap hari di meja makan.

Di sebuah rumah sederhana di Desa Sepotong, Loneceng menjalani hari-harinya dalam keterbatasan.

Pria penyandang tunanetra itu hidup seorang diri dengan kartu keluarga tunggal. Tanpa penglihatan dan dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, setiap kebutuhan hidup harus diperjuangkan dengan lebih keras dibandingkan kebanyakan orang.

Sementara di Desa Mekar Harapan, Samsol menghadapi tantangan yang tak kalah berat. Di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, kebutuhan dapur tetap harus dipenuhi meski pendapatan tidak selalu tersedia.

Kemarau panjang seolah menambah panjang daftar persoalan yang harus mereka hadapi.

Babinkamtibmas Aipda Erfandi saat menyerahkan bingkisan kepada penyandang Tuna Netra Loneceng. (Foto: Dok. Humas Polsek Sungai Laur Ketapang)

Namun Jumat, 21 Agustus 2026, menjadi hari yang sedikit berbeda.

Di tengah terik matahari, seorang polisi datang menyusuri jalan desa. Ia bukan datang membawa surat panggilan, bukan pula untuk menangani perkara hukum. Di tangannya terdapat karung beras, rak-rak telur ayam, dan minyak goreng.

Ia adalah AIPDA Erfandi, Bhabinkamtibmas Polsek Sungai Laur, Polres Ketapang.

Sebagai polisi yang bertugas membina keamanan dan ketertiban masyarakat di desa, Erfandi memahami bahwa persoalan warga tidak selalu berkaitan dengan kriminalitas.

Ada kalanya yang lebih dibutuhkan masyarakat adalah perhatian dan kepedulian. Dengan kendaraan dinasnya, ia mendatangi rumah-rumah warga yang dinilai paling membutuhkan bantuan.

Di rumah Samsol, bantuan diserahkan langsung. Tidak ada panggung, tidak ada pengeras suara, tidak ada seremoni panjang. Hanya percakapan sederhana yang berlangsung hangat di teras rumah.

Begitu pula saat ia tiba di kediaman Loneceng. Dengan penuh empati, ia menyerahkan bantuan sembako yang terdiri dari satu karung beras 10 kilogram, tiga rak telur ayam, dan satu liter minyak goreng.

Barangkali nilai bantuan itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Namun bagi mereka yang sedang berjuang bertahan di tengah kesulitan, bantuan tersebut adalah pengingat bahwa masih ada yang peduli.

Di banyak tempat, polisi sering dikenal melalui tugas penegakan hukum dan pengamanan. Namun di desa-desa, sosok Bhabinkamtibmas kerap memiliki peran yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Mereka hadir saat warga mengalami musibah, menjadi pendengar ketika masyarakat menghadapi persoalan, dan kadang menjadi tangan pertama yang mengulurkan bantuan.

Apa yang dilakukan AIPDA Erfandi mungkin tidak akan mengubah kondisi kemarau atau menurunkan harga kebutuhan pokok. Namun kepedulian yang ia tunjukkan telah menghadirkan sesuatu yang sama pentingnya: harapan.

Sebab di tengah musim yang sulit, ketika ladang mengering dan penghasilan menurun, perhatian kecil dapat menjadi kekuatan besar bagi mereka yang hampir kehilangan semangat.

Dan hari itu, di dua rumah sederhana di Sungai Laur, harapan datang dalam wujud yang sangat sederhana: seorang polisi, sekarung beras, beberapa rak telur, dan kepedulian yang tulus dari hati.

(Apolonius Welly adalah Jurnalis Spektroom)

Berita terkait