Menjaga Bidikan Mimpi dari Lapangan Satria
Purwokerto-Spektroom: Pagi itu, angin tipis berembus di Lapangan Panahan GOR Satria Purwokerto. Satu per satu anak-anak berseragam olahraga berdiri tegap, menarik busur dengan penuh konsentrasi. Anak-anak SD hingga remaja SMA itu bukan sekadar bertanding, mereka sedang merajut mimpi—membidik masa depan lewat anak panah yang melesat ke sasaran.
Di tengah semangat itu, Universitas Harapan Bangsa (UHB) hadir bukan hanya sebagai penonton. Kampus ini ikut mengambil peran penting dalam gelaran POPDA Banyumas 2026 cabang panahan yang berlangsung 5–6 Mei bukan saja menurunkan juri, UHB menempatkan diri sebagai bagian dari proses panjang lahirnya atlet-atlet muda.
Rektor UHB, Dr. Yuris Tri Naili, menyebut pembinaan olahraga tak bisa instan. Ia percaya, konsistensi adalah kunci. Karena itu, UHB membangun ekosistem panahan melalui UKM Archery Club, membuka klub FAST untuk masyarakat umum, hingga mendukung ekstrakurikuler di sekolah seperti SMA Negeri 1 Rawalo.
Di balik denting anak panah yang menancap, tersimpan cerita tentang peluang. Sejak 2012, UHB menyediakan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi, termasuk atlet panahan. Bagi sebagian peserta, ini bukan sekadar lomba—ini adalah pintu menuju pendidikan dan masa depan yang lebih luas.
Menariknya, dominasi peserta usia dini menjadi sinyal kuat. Panahan kini tak lagi dianggap olahraga mahal atau eksklusif. Justru sebaliknya, ia mulai akrab di kalangan pelajar, menjadi ruang baru untuk tumbuh dan berkompetisi secara sehat.
Di lapangan itu, setiap bidikan bukan hanya soal angka dan skor. Ia adalah simbol harapan—bahwa dari Banyumas, anak-anak ini suatu hari bisa melangkah lebih jauh, membawa nama daerah hingga ke panggung nasional, bahkan dunia.