Menjaga Rasa dari Dapur Tradisi: Legenda Buntil Kutasari Purbalingga
Purbalingga-Spektroom: Pagi baru saja merekah di Pasar Kutasari pada hari Minggu (19/4/2026). Di salah satu bagian sudut pasar, antrean sudah berdesakan.
Bukan tanpa alasan—di sinilah jejak cita rasa masakan puluhan tahun masih bertahan bernama Buntil Kutasari, terus hidup dan dicari.
" Ibune tumbas pinten? Sayur ayam tahu mboten? (Ibunya beli berapa? sayur ayam tahu ngga?) " Ujar Sismaji dalam bahasa Banyumasan yang medhok.
Buntil, kuliner tradisional khas Purbalingga, mungkin terlihat sederhana. Namun siapa sangka, dari tangan pasangan Sismaji dan Kasmini, sajian ini menjelma menjadi ikon kuliner yang melegenda lintas generasi.
Sejak akhir 1960-an—bahkan disebut mulai dirintis sekitar 1969 hingga 1972—Kasmini bersama sang suami Sismaji, setia menjajakan buntil di pasar tradisional ini. Berawal dari meneruskan usaha orang tua di usia muda, Kasmini tak pernah menyangka racikan dapurnya akan dikenal luas hingga sekarang.
Di balik daun pembungkusnya, buntil racikan Kasmini menyimpan kejutan rasa. Parutan kelapa muda dipadukan dengan bumbu rempah khas, lalu dibungkus daun—mulai dari daun talas (lumbu, senthe), daun singkong, hingga daun pepaya.
Setelah dimasak dalam kuah santan berbumbu, aroma gurihnya langsung menggoda ada aroma dan kuah rasa Jengkol ada juga campuran petai.
Saat dibuka, isiannya tampak padat dan lembut. Disantap dengan nasi hangat, buntil ini menghadirkan sensasi rasa yang sederhana namun begitu dalam—gurih, sedikit pedas, dan kaya rempah. Tak heran, banyak pembeli rela datang pagi-pagi demi satu porsi yang kini dibanderol harga Rp12.500 per butir.

Keistimewaan buntil ini bukan sekadar pada bahan, melainkan pada racikan bumbu turun-temurun yang sulit ditiru. Cita rasa khas inilah yang membuat Buntil Kutasari kerap dipesan untuk menjamu tamu penting, bahkan pejabat daerah.
Produksinya pun tak main-main. Saat hari biasa, mulai jam 07.00 dua panci besar buntil bisa habis sebelum pukul 09.00 pagi. Sementara di hari Minggu, Kasmini bisa menyiapkan hingga lima panci—masing-masing berisi sekitar 100 buah—dan tetap ludes diserbu pembeli.
Meski sebenarnya diproduksi di Dukuh Carangmanggang, Desa Karangbanjar, buntil ini lebih dikenal sebagai Buntil Kutasari—mengikuti lokasi penjualannya yang sudah melekat di benak masyarakat.
Di tengah gempuran kuliner modern, Buntil Kutasari tetap bertahan sebagai simbol rasa otentik Purbalingga. Ia bukan sekadar makanan, melainkan cerita panjang tentang ketekunan, tradisi, dan kecintaan pada warisan kuliner.
Jadi, jika suatu pagi Anda singgah ke Purbalingga, sempatkan mampir ke Pasar Kutasari. Bersiaplah mengantre, karena setiap bungkus buntil di sana bukan hanya soal rasa—tetapi juga perjalanan waktu yang layak untuk dinikmati.
Bila berkunjung ke Purbalingga kuranglah lengkap kalau belum.menikmati cita rasa Buntil pasar Kutasari.