Menolak Kolaborasi Sesat di Era Modern, Guru Besar UIN Malang Soroti Krisis Integritas dan Moralitas

Menolak Kolaborasi Sesat di Era Modern, Guru Besar UIN Malang Soroti Krisis Integritas dan Moralitas
Prof. Dr. M. Abdul Hamid, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ( Foto: Ist)

Malang-Spektroom: Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. M. Abdul Hamid, mengingatkan pentingnya menjaga integritas moral di tengah maraknya budaya kompromi dan kerja sama yang menyimpang di era modern.

Melalui refleksi bertajuk “Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern”, Abdul Hamid menegaskan bahwa tidak semua bentuk kerja sama harus diterima, terutama jika bertentangan dengan nilai agama, hukum, dan etika.

Menurutnya, di zaman modern istilah kolaborasi sering dipandang sebagai simbol kemajuan. Hampir seluruh sektor kehidupan menjadikan kerja sama sebagai fondasi utama, mulai dari dunia bisnis, pemerintahan, hingga perguruan tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa di balik semangat sinergi tersebut terdapat ancaman hilangnya integritas apabila kolaborasi dilakukan tanpa kompas moral yang jelas.

“Tidak semua sinergi membawa keberkahan. Ada kerja sama yang justru menghancurkan integritas dan menyeret seseorang pada penyimpangan,” tulis Abdul Hamid.

Ia kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan kisah Nabi Ibrahim AS dalam Surat As-Saffat ayat 102 tentang perintah penyembelihan Nabi Ismail AS. Menurutnya, kisah tersebut bukan sekadar narasi pengorbanan, tetapi juga pelajaran besar mengenai keberanian moral dan keteguhan prinsip.

Dalam perjalanan menjalankan perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim disebut mendapat godaan dari iblis yang mencoba memengaruhi agar membatalkan niatnya. Godaan itu hadir bukan dalam bentuk yang menakutkan, melainkan melalui logika dan pembenaran yang tampak rasional.

Abdul Hamid menilai, pola godaan semacam itu sangat relevan dengan kondisi masyarakat modern saat ini. Banyak pelanggaran etika, manipulasi, hingga penyalahgunaan wewenang sering kali dibungkus dengan alasan pragmatis, keuntungan ekonomi, atau kepentingan politik.

“Lempar jumrah bukan hanya ritual simbolik, tetapi deklarasi perlawanan terhadap kompromi moral,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kehancuran besar sering kali berawal dari kompromi kecil yang dianggap sepele. Toleransi terhadap pelanggaran, ikut arus demi keuntungan, hingga pembiaran terhadap penyimpangan perlahan dapat meruntuhkan integritas individu maupun institusi.

Dalam konteks kepemimpinan modern, Abdul Hamid menilai seorang pemimpin tidak cukup hanya menggunakan logika untung-rugi dalam mengambil keputusan. Pemimpin, kata dia, harus memiliki keberanian menempatkan nilai moral, hukum, dan etika di atas kepentingan pragmatis.

Ia juga menyoroti dunia perguruan tinggi yang saat ini semakin didorong membangun berbagai bentuk kerja sama eksternal. Menurutnya, kolaborasi akademik memang penting untuk pengembangan institusi, namun kampus harus tetap menjaga independensi dan marwah intelektualnya.

“Kampus adalah penjaga moralitas intelektual. Ketika perguruan tinggi mulai menghalalkan segala cara demi keuntungan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi institusi, tetapi juga masa depan generasi muda,” tegasnya.

Abdul Hamid mengingatkan bahwa integritas sejati diuji bukan saat seseorang berada dalam kesulitan, melainkan ketika memiliki peluang besar untuk menyimpang namun tetap memilih jalan yang benar.

Di akhir refleksinya, ia menegaskan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim AS menjadi pelajaran penting bagi kehidupan modern yang semakin permisif terhadap kompromi moral. Menurutnya, keberanian menolak sesuatu yang salah merupakan bentuk keimanan dan kepemimpinan sejati.

“Kadang-kadang keberanian terbesar bukan menerima kerja sama, melainkan menolak kerja sama yang bertentangan dengan nilai dan etika,” pungkasnya.

Berita terkait

Kejurnaswil Kempo di Sawahlunto, PB Perkemi : Kami Ingin Banyak Kejuaraan Daerah Bertaraf Nasional

Kejurnaswil Kempo di Sawahlunto, PB Perkemi : Kami Ingin Banyak Kejuaraan Daerah Bertaraf Nasional

Sawahlunto-Spektroom : Sebanyak 426 atlet kempo atau kenshi dari 29 kabupaten/kota di pulau Sumatera mulai bertanding dalam Kejuaraan Nasional Wilayah (Kejurnaswil) Shorinji Kempo se Sumatera yang digelar di Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Rabu, 24 Juni 2026. Saat membuka Kejurnaswil Shorinji Kempo Sumatera, Ketua Umum Pengurus Besar Persaudaraan Shorinji

Diah Utami, Rafles
BKMT Kota Sawahlunto Gelar Pekan Muharram 1448 H, Perkuat Syiar Islam dan Kebersamaan Umat

BKMT Kota Sawahlunto Gelar Pekan Muharram 1448 H, Perkuat Syiar Islam dan Kebersamaan Umat

Sawahlunto–Spektroom : Dalam rangka menyemarakkan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Sawahlunto menggelar rangkaian kegiatan Pekan Muharram 1448 H yang berlangsung mulai 23 Juni hingga 10 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat syiar Islam, meningkatkan pemahaman keagamaan, serta mempererat tali silaturahmi antar-majelis

Riswan Idris, Julianto