Menunggu Kereta, Menyimpan Cerita : Tiga Spot Foto Lintasan Kereta Api di Daop 5 Purwokerto

Menunggu Kereta, Menyimpan Cerita : Tiga Spot Foto Lintasan Kereta Api di Daop 5 Purwokerto
Sambil menikmati minum kopi dan mendoan, pengunjung dimanjakan dengan hilir mudiknya kereta api. (Foto : Biantoro)

Spektroom —Di sela libur Natal dan Tahun Baru 2025, sebagian orang memilih pergi jauh. Namun di Banyumas, ada yang justru berhenti sejenak, menunggu, mengamati, dan merekam perjalanan kereta api yang tak pernah benar-benar berhenti. Rel-rel besi itu membelah sawah, sungai, dan perbukitan. Setiap lintasan menyimpan cerita.

Dengan kamera ponsel di tangan, warga atau pemudik menemukan ruang wisata baru: sederhana, terbuka, dan sarat makna.

Spektroom.co.id menyusuri beberapa titik di wilayah PT KAI Daop 5 Purwokerto, tempat kereta bukan sekadar moda transportasi, melainkan bagian dari lanskap dan ingatan.

Jembatan Kereta Api Serayu:

Kereta di Atas Arus deras
Di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo; disini kereta api melintas tinggi di atas Sungai Serayu. Jembatan sepanjang 227,2 meter itu resmi dioperasikan sejak tahun 2019, menggantikan jembatan lama yang telah melayani perjalanan sejak 1915.

Dengan latar belakang pegunungan serayu, spot ini cukup diminati pengunjung. (Foto : Biantoro).

Dari tepi sungai, suara roda besi terdengar lebih dulu sebelum rangkaian kereta muncul. Di bawah jembatan, perahu wisata bergerak pelan, warung-warung kecil tetap menyala. Alam dan aktivitas manusia bertemu dalam satu bingkai.

Tak sedikit orang berhenti di sini—menunggu detik ketika kereta tepat berada di tengah jembatan. Momen itu kemudian diabadikan, dibagikan, dan menjadi kenangan perjalanan. Spot ini wajib anda kunjungi jika sampai di Purwokerto.

Spot Gunung Lurah: Rel yang Meliuk di barat Purwokerto,

Rel kereta api disini, membelah dua bukit di kawasan Gunung Lurah, Cilongok. Jalurnya meliuk, mengikuti kontur alam. Kereta yang melintas seakan bergerak pelan, meski sesungguhnya tak pernah berhenti.

Ular besi meliak liuk,

Tempat ini menjadi ruang jeda. Orang duduk, berbincang, menyantap mendoan hangat, sambil menunggu kereta lewat. Pagi dan sore hari menjadi waktu favorit, ketika cahaya jatuh lembut di lereng bukit dan rel berkilau.

Di spot desa Gunung Lurah, kereta bukan tontonan tergesa, melainkan bagian dari suasananyang bisa ditempuh sekitar 60 menit ke arah barat Purwokerto.

Sakalibel: Besi, Sejarah, dan Masa Depan.

Di Bumiayu, berdiri Jembatan Sakalibel singkatan dari Saka Lima. Belas, ada juga yang menyebut jembatan saka limolas artinya saka penyangganya berjumlah 15 batang.dengan panjang 298 meter.

Jembatan yang disangga 15 tiang tinggi di atas Sungai Keruh ini menjadi Jembatan terpanjang di wilayah Daop 5 Purwokerto. Yang membuatnya istimewa adalah keberadaan dua zaman dalam satu pandangan.

Jembatan saka limolas Foto : Biantoro

Jembatan lama peninggalan kolonial masih berdiri, berdampingan dengan jembatan baru jalur ganda berteknologi balanced cantilever.

Saat kereta melintas, masa lalu dan masa depan seakan berjalan beriringan. Pemandangan itu menghadirkan kontras yang kuat—dan daya tarik visual yang tak mudah dilupakan.

Menunggu kereta lewat mungkin sederhana. Namun di baliknya, ada cerita tentang perjalanan, tentang waktu yang terus bergerak, dan tentang manusia yang memilih mengabadikannya.
Karena kadang, wisata bukan soal sejauh apa kita pergi,
melainkan seberapa lama kita mau berhenti dan melihat.

Berita terkait

Sekolah Rakyat Permanen Tahap II, Terus Dilakukan Secara Masif  di Aceh

Sekolah Rakyat Permanen Tahap II, Terus Dilakukan Secara Masif di Aceh

Spektroom – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan permanen Sekolah Rakyat (SR) Tahap II di Provinsi Aceh sebagai bagian dari pemulihan pasca bencana banjir bandang sekaligus upaya memutus mata rantai kemiskinan melalui peningkatan akses pendidikan yang berkualitas. Pembangunan Sekolah Rakyat di Aceh diharapkan menjadi simpul pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak

Nurana Diah Dhayanti