Menyatukan Dunia Lewat Sepiring Gado-Gado dan Tempe di Beijing
Jakarta - Spektroom : Bagaimana cara menyatukan beragam perbedaan latar belakang negara dalam satu ruang? Bagi komunitas diplomatik perempuan di Beijing, jawabannya ada di atas cobek batu : sepiring gado-gado dan gurihnya tempe.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing dalam keterangan tertulis dikutip Senin (26/10/2026) menyatakan bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) menjadi tuan rumah bagi ASEAN Ladies Circle (ALC). Mengangkat tema “A Taste of Nusantara, Gado-gado and Tempeh”, menyulap diplomasi formal menjadi obrolan hangat yang akrab di antara lebih dari 70 perempuan dari berbagai negara.
Filosofi di Balik Bumbu Kacang
Gado-gado bukan sekadar makanan. Di hadapan para istri duta besar dan diplomat dari negara anggota ASEAN, Kazakhstan, hingga Bahrain, Ibu Sih Elsiwi Handayani Oratmangun (Ibu Wiwik) menyampaikan sebuah analogi yang mendalam.

Sama seperti gado-gado yang memadukan sayur, tahu, tempe, dan telur ke dalam siraman bumbu kacang, setiap bahan tetap mempertahankan keunikan rasanya masing-masing. Namun, ketika bersatu, mereka menciptakan keselarasan rasa yang sempurna.
"Perbedaan membuat pertemuan kita menarik; persahabatan membuatnya bermakna," ujar istri Duta Besar RI untuk Tiongkok tersebut.
Tidak hanya gado-gado, tempe yang sederhana pun menjadi bintang. Makanan berbahan dasar kedelai ini menjadi simbol bagaimana kesederhanaan di tangan yang tepat bisa melahirkan pengalaman yang luar biasa—layaknya sebuah obrolan santai yang mampu mempererat hubungan antarnegara.

Dari Demo Masak hingga Alunan 'Soleram'
Antusiasme peserta memuncak saat demonstrasi pembuatan tempe dan gado-gado dimulai. Para tamu tidak hanya melihat, tetapi juga menyelami proses kreatif di balik kuliner legendaris Indonesia. Selain rasa, mata para tamu juga dimanjakan oleh keindahan kain batik yang menghiasi ruangan, sekaligus merayakan momentum Hari Batik Nasional.
Suasana semakin cair dan hidup saat anggota DWP KBRI Beijing melantunkan lagu daerah Riau, “Soleram”. Petualangan budaya ini kemudian ditutup dengan gerakan dinamis tari Poco-Poco yang diikuti dengan ceria oleh para peserta.

Acara pada Kamis (22/10/2026) diakhiri dengan jamuan autentik khas Indonesia. Sate ayam, soto ayam, jamu kunyit asam, hingga es longan menjadi hidangan penutup yang manis. Melalui kehangatan gado-gado dan tempe, Indonesia sukses meninggalkan jejak rasa dan memori persahabatan yang mendalam di hati para diplomat dunia.