Merawat Tradisi, Kubu Raya Persiapan Naik Dango ke-41 Tahun 2026
Spektroom - Di balik hiruk pikuk pembangunan dan laju modernisasi, masyarakat Dayak Kalimantan Barat terus merawat akar budaya yang diwariskan para leluhur.
Salah satu wujudnya adalah tradisi Naik Dango, sebuah perayaan adat penuh makna sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Semangat menjaga warisan budaya itu mengemuka dalam audiensi Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Yakobus Kumis bersama Dewan Adat Dayak Kabupaten Kubu Raya yang juga bertindak sebagai Panitia Naik Dango ke-41 Tahun 2026 dengan Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, Selasa (20/1/2026), di Pontianak.
Audiensi tersebut bukan sekadar pertemuan formal. Ia menjadi penanda kesiapan Kubu Raya mengemban amanah besar sebagai tuan rumah Naik Dango ke-41, yang rencananya akan digelar pada 27 April 2026 di Rumah Adat Dayak Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang.
Penunjukan Kubu Raya sendiri merupakan hasil kesepakatan Bahaupm pada pelaksanaan Naik Dango ke-40 di Kecamatan Sadaniang.
Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan menyampaikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan adat tersebut.
Baginya, Naik Dango bukan hanya ritual tahunan, tetapi ruang perjumpaan lintas generasi yang memperkuat jati diri masyarakat Dayak.
“Ini event besar yang menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah Provinsi, kabupaten, hingga masyarakat adat harus berjalan seiring untuk menyukseskannya,” ujarnya.
Lebih dari itu, Krisantus menilai Naik Dango memiliki nilai strategis yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Tradisi ini mampu menggerakkan ekonomi lokal, membuka ruang promosi pariwisata budaya, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya.
Sementara itu, Sekjen MADN Yakobus Kumis mengungkapkan bahwa pembentukan panitia telah dilakukan sebagai bentuk keseriusan masyarakat adat Kubu Raya dalam menyambut Naik Dango ke-41.
Ia juga berharap dukungan pemerintah dapat menguatkan posisi Naik Dango sebagai agenda budaya nasional.
“Kami berharap Bapak Wakil Gubernur dapat memediasi pertemuan dengan Menteri Kebudayaan, agar beliau berkenan hadir, memberikan sambutan, sekaligus membuka secara resmi Naik Dango ke-41,” tutur Yakobus.
Bagi masyarakat Dayak, Naik Dango bukan hanya perayaan panen. Ia adalah doa, harapan, dan pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup.
Saat Kubu Raya bersiap menjadi tuan rumah, semangat gotong royong dan kebanggaan terhadap budaya leluhur pun kembali tumbuh, menegaskan bahwa tradisi bukan untuk ditinggalkan, melainkan dirawat dan diwariskan.