Merdeka Digital Merdeka Millenial, Dimanja Kecerdasan Buatan, Merdekakah ?

Merdeka Digital Merdeka Millenial, Dimanja Kecerdasan Buatan, Merdekakah ?
Flyer ChatGPT (Spektroom).

Jakarta - Spektroom: Hari Senin lalu kita kembali memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan, kali ini Hari Ulang Tahun itu sudah menapak 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebuah usia yang tidak lagi muda. Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, pengorbanan, keberhasilan, sekaligus berbagai tantangan yang terus menguji ketahanan bangsa ini.

Jika dianalogikan dengan kehidupan seorang manusia, usia 81 tahun adalah usia yang telah kenyang oleh pengalaman.

Banyak badai telah dilalui, banyak pelajaran telah dipetik, dan banyak perubahan telah terjadi. Indonesia hari ini tentu bukan Indonesia yang sama seperti pada tahun 1945. Kita telah mencatat berbagai kemajuan dalam pembangunan, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan demokrasi.

Semua itu patut disyukuri sebagai buah dari kerja keras para pendiri bangsa dan seluruh anak negeri yang terus mengisi kemerdekaan.

Lalu, apa sejatinya arti kemerdekaan bagi anak-anak yang tumbuh di era digital seperti sekarang ?

Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Bisa kita lihat sendiri bagaimana teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak.

Dari bangku sekolah dasar sudah terbiasa mencari informasi melalui internet, membuat gambar animasi sederhana, bahkan berdiskusi dengan Artificial Intelligence (AI).

Kecerdasan Buatan manusia, untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dari rasa penasarannya.

Harus kita akui. Teknologi memberi mereka kesempatan belajar yang jauh lebih luas dibandingkan yang pernah kita rasakan saat kecil. Namun di saat yang sama, kita juga menyimpan kegelisahan. Ketika anak-anak semakin akrab dengan teknologi, apakah mereka juga telah merasakan kemerdekaannya ?

Kegelisahan itu semakin terasa ketika kita kulik data UNICEF yang merilis laporan bahwa 99,4 persen anak Indonesia telah menggunakan internet dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai 5,4 jam setiap hari.

So, angka itu membuat kita sejenak tertegun. Jika sebagian besar waktu luang anak kini dihabiskan di ruang digital, berarti internet bukan lagi sekadar alat bantu belajar atau sarana hiburan. Internet telah menjadi ruang tumbuh baru bagi anak-anak Indonesia. Sayangnya, ruang tumbuh itu tidak selalu ramah.

Dalam gegap gempita, kita mengenang para pahlawan dan dengan bangga berpekik Medeka! Dirgahayu Republik Indonesia.

Kita juga menyadari ditengah kemeriahan itu, masih ada yang mengganjal di hati. Satu pertanyaan yang lebih penting untuk kita ajukan kepada diri sendiri: Sudahkah kita benar-benar merdeka?

Tentu saja pertanyaan ini bukan tentang apakah Indonesia masih dijajah bangsa lain, karena secara historis, kita telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pertanyaan ini lebih mendalam pada bagaimana kita menjalani kehidupan setelah merdeka itu sendiri.

Pada kenyataannya, sebuah bangsa bisa merdeka secara politik, tetapi warganya belum tentu merdeka secara mental.

Kita bisa hidup di negara yang berdaulat, tetapi masih terjajah oleh ketakutan, kemalasan, ketergantungan, budaya instan, bahkan kebiasaan menyalahkan keadaan. Semua itu merupakan bentuk penjajahan yang paling sulit dilawan karena penjajahnya tidak terlihat.

Kita hidup pada era kecerdasan buatan yang melaju pesat. Sudah bukan rahasia, digitalisasi mengubah cara manusia bekerja. Profesi yang dulu dianggap aman mulai mengalami perubahan. Informasi bergerak dalam hitungan detik, persaingan tak lagi hanya terjadi di antara orang-orang dalam satu kota atau satu negara.

Dunia kerja akhirnya menuntut kemampuan baru. Menuntut kita untuk mau belajar, beradaptasi, berpikir kritis, kreatif, dan mampu menggunakan teknologi.

Dan di tengah perubahan itu, kita tidak mungkin terus berdiri di tempat yang sama sambil menunggu dunia menyesuaikan diri dengan kita.

Artinya, dunia digital memang bukan saja milik Generasi Millenial, namun punya kita semua.(@Ng). (Diangkat dari berbagai sumber)

Berita terkait

Porprov XVI Sumbar 2-14 Oktober, Mentawai Jadi Tuan Rumah 5 Cabor

Porprov XVI Sumbar 2-14 Oktober, Mentawai Jadi Tuan Rumah 5 Cabor

Padang-Spektroom : Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat dipastikan digelar pada 2-14 Oktober 2026. Kabupaten Kepulauan Mentawai menjadi salah satu tuan rumah bersama dan akan menjadi lokasi pertandingan lima cabang olahraga. Kepastian jadwal dan kesiapan Mentawai tersebut diapresiasi Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah. Menurutnya, keseriusan Pemkab Mentawai dalam mempersiapkan penyelenggaraan menjadi

Diah Utami, Julianto