MTI Jateng: Transportasi Massal Terintegrasi Jadi Kebutuhan Kawasan Aglomerasi

MTI Jateng: Transportasi Massal Terintegrasi Jadi Kebutuhan Kawasan Aglomerasi
Warga berhak mendapatkan layanan transportasi publik yang aman dan terintegrasi. (Foto: Dok.Ciptati Handayani)

Surakarta – Spektroom: Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Tengah menilai kawasan aglomerasi di Jawa Tengah membutuhkan reformasi sistem transportasi massal yang modern, aman, dan terintegrasi untuk mengimbangi meningkatnya mobilitas masyarakat serta pertumbuhan kawasan ekonomi.

Sekretaris MTI Jawa Tengah, Anastasia Yulianti, mengatakan tingginya mobilitas pekerja komuter antar kabupaten harus diantisipasi melalui pengembangan layanan angkutan massal yang mampu menghubungkan pusat-pusat permukiman dengan kawasan industri, perdagangan, pendidikan, dan jasa.

"Salah satu kebutuhan mendesak adalah pengembangan layanan angkutan aglomerasi Trans Jateng. Kehadirannya akan menjadi instrumen modal shift yang efektif untuk mengalihkan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi massal, sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas," ujar Anastasia kepada Spektroom, Rabu (15/7/2026).

Salah satu kawasan di Jawa Tengah yang membutuhkan perhatian serius adalah koridor Jepara-Kudus-Pati (Jekuti). Wilayah tersebut memiliki aktivitas ekonomi yang tinggi, namun hingga kini belum didukung sistem transportasi publik yang modern dan memadai.

Kabupaten Jepara dikenal sebagai pusat industri mebel, garmen, dan manufaktur, sedangkan Kabupaten Pati menjadi kawasan strategis di sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan. Sementara itu, Kabupaten Kudus menjadi pusat aktivitas industri, perdagangan, pendidikan, dan layanan kesehatan yang menjadi tujuan utama mobilitas masyarakat.

Trans Jateng sebagai angkutan massal yang efektif untuk mengurangi kepadatan lalu lintas. (Foto: Dok. Ciptati Handayani)

Data menunjukkan sekitar 72 persen perjalanan keluar dari Jepara menuju Kudus, sedangkan arus komuter dari Pati ke Kudus mencapai 73 persen. Tingginya mobilitas tersebut didorong keberadaan industri besar, pusat perdagangan, rumah sakit, hingga perguruan tinggi.

Besarnya aktivitas ekonomi belum diimbangi dengan penyediaan angkutan umum yang memadai. Armada yang semakin berkurang serta jadwal pelayanan yang tidak menentu membuat sekitar 74 hingga 89 persen masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor.

“Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kemacetan, terutama di jalur utama pekerja dan distribusi logistik. Bahkan sejumlah ruas jalan nasional di kawasan Pantura Timur telah memiliki tingkat kejenuhan lalu lintas melampaui batas ideal,” jelasnya.

Dalam lima tahun terakhir jumlah armada angkutan umum di kawasan Jekuti terus menyusut. Penurunan terbesar terjadi di Kabupaten Kudus yang kehilangan sekitar 30 persen armada angkutan umum. Di sejumlah terminal seperti Bangsri, Pecangaan, dan Juwana, angkutan umum bahkan lebih banyak dimanfaatkan sebagai kendaraan carter daripada melayani penumpang reguler.

Karena itu, MTI Jawa Tengah mendorong percepatan realisasi koridor Trans Jateng di kawasan Jekuti sebagai solusi jangka panjang untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat, mengurangi kemacetan, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan.

"Koridor Jekuti memiliki potensi ekonomi yang besar. Karena itu, pengembangan Trans Jateng bukan hanya meningkatkan pelayanan transportasi, tetapi juga menjadi investasi penting bagi daya saing kawasan di masa depan," tandas Anastasia.

Berita terkait

Bupati Pasaman Barat Yulianto Tinjau Lahan Sekolah Rakyat

Bupati Pasaman Barat Yulianto Tinjau Lahan Sekolah Rakyat

Pasaman Barat-Spektroom : Bupati Pasaman Barat (Pasbar) Yulianto meninjau kesiapan lahan pembangunan Sekolah Rakyat sekaligus rencana pembangunan jembatan penghubung Kampung Cubadak-Kampung Sipirok, Senin (14/9/2026). Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan lokasi serta mematangkan perencanaan teknis kedua program pembangunan tersebut. Bupati Yulianto didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

Rafles
Galian C Poka Disorot, Bodewin: Jangan Tunggu Lingkungan Rusak Baru Bertindak

Galian C Poka Disorot, Bodewin: Jangan Tunggu Lingkungan Rusak Baru Bertindak

Ambon-Spektroom : Aktivitas Galian C di Desa Poka, Kota Ambon, mendapat perhatian serius dari Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena. Ia meminta DPRD dan Pemerintah Kota Ambon tidak sekadar membicarakan persoalan tersebut, tetapi segera memastikan dampaknya terhadap lingkungan melalui kajian teknis yang dapat dipertanggungjawabkan. Bodewin menyampaikan hal itu usai Rapat Paripurna ke-5

Eva Moenandar, Pelinus Latuheru