Mudik Kalbar di Persimpangan: Lancar di Darat, Tersendat di Air
Pontianak-Spektroom : Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, denyut pergerakan manusia di Kalimantan Barat terasa semakin kencang. Di satu sisi, penyelenggaraan angkutan terpantau relatif aman dan lancar. Namun di sisi lain, sejumlah persoalan muncul, membentuk kontras yang tak bisa diabaikan—terutama di wilayah perbatasan dan pesisir.
Di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, arus mudik pekerja migran masih mengalir deras. Sejak pagi, antrean kendaraan dan pejalan kaki tampak memadati kawasan perlintasan yang menghubungkan Indonesia dengan Sarawak, Malaysia. Selasa (17/03/2026), kepadatan belum juga surut.

Petugas Pos Pengamanan Terpadu PLBN Entikong, Ono Suwarno, menyebut situasi masih terkendali. “Memang padat, tapi pelayanan dokumen tetap berjalan lancar. Tidak ada hambatan berarti,” ujarnya.
Meski demikian, ia memperkirakan puncak arus mudik baru akan terjadi esok hari. Sebagian besar pekerja migran, kata dia, tidak hanya kembali ke kampung halaman di Kalimantan Barat, tetapi juga melanjutkan perjalanan ke berbagai daerah lain di Indonesia.
Jika di perbatasan arus manusia masih bisa diurai dengan baik, cerita berbeda datang dari wilayah pesisir Kabupaten Kubu Raya, khususnya Kecamatan Batu Ampar.
Di kawasan yang bergantung pada transportasi sungai ini, masyarakat justru dihadapkan pada lonjakan tarif angkutan speedboat.

Kenaikan tarif mencapai sekitar 30 persen dari harga normal. Rute Rasau Jaya–Padang Tikar kini dibanderol Rp160.000, Rasau Jaya–Teluk Melano Rp285.000, Pontianak–Sukadana Rp390.000, dan Rasau Jaya–Batu Ampar Rp200.000.
Penyebabnya bukan lonjakan penumpang semata, melainkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
Para operator speedboat terpaksa beralih menggunakan Pertamax yang lebih mahal karena sulitnya mendapatkan Pertalite.
Camat Batu Ampar, H. Alfian, tak menutupi keprihatinannya.
Ia menyebut kondisi ini sangat membebani masyarakat pesisir yang tidak memiliki alternatif moda transportasi lain.
“Ketergantungan pada transportasi air sangat tinggi. Ketika BBM langka, dampaknya langsung dirasakan warga,” katanya.
Di pusat Kota Pontianak, dinamika mudik juga menghadirkan tantangan tersendiri. Kepadatan lalu lintas terjadi hampir setiap hari, terutama di Jembatan Kapuas dan jembatan duplikatnya.

Arus kendaraan yang mengular menyebabkan kemacetan merayap, memperlambat laju pemudik yang hendak menuju wilayah utara seperti Sambas maupun ke timur menuju Sekadau, Sintang, hingga Kapuas Hulu.
Kondisi ini secara tidak langsung mempengaruhi kelancaran distribusi kendaraan keluar kota, memperpanjang waktu tempuh dan meningkatkan risiko kelelahan bagi pengemudi.
Di tengah situasi tersebut, Dinas Perhubungan Kalimantan Barat memastikan penyelenggaraan angkutan Lebaran masih dalam kendali.
Petugas Pos Terpadu, Darmadi, menyebut berbagai kendala di lapangan bersifat situasional dan terus diantisipasi.
“Secara umum terkendali. Memang ada persoalan seperti kelangkaan BBM, tapi kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait,” ujarnya.
Di sisi lain, pernyataan berbeda datang dari pihak Pertamina yang memastikan stok BBM dalam kondisi aman.
Namun realitas di lapangan menunjukkan antrean panjang di sejumlah SPBU, baik kendaraan roda dua maupun roda empat, masih menjadi pemandangan sehari-hari.
Mudik Lebaran di Kalimantan Barat tahun ini pun menjadi potret kompleks: lancar di satu sisi, tersendat di sisi lain.
Di antara antrean, kenaikan tarif, dan kepadatan jalan, ada satu hal yang tetap sama—keinginan masyarakat untuk pulang, berkumpul, dan merayakan hari kemenangan bersama keluarga.