Nutrisi Susu tak selamanya menjadi gizi efektif

Nutrisi Susu tak selamanya menjadi gizi efektif
Foto: Anak sekolah menikmati MBG - dikutip dari Laman Komdigi.RI

Spektroom - Sumber gizi untuk masa pertumbuhan anak meliputi pertumbuhan tulang, gigi, otot dan fungsi tubuh lainnya terdapat pada susu.  Susu merupakan asupan minuman yang mengandung sumber protein sehingga susu menjadi bagian penting dari pola makan yang seimbang agar pertumbuhan anak menjadi lebih optimal. 

Kuantitas dan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi akan mempengaruhi asupan gizi.  Pentingnya susu dalam pola makan dituangkan pada Peraturan Menteri Kesehatan nomor 41 tahun 2014 bahwa protein hewani dan nabati perlu dikonsumsi bersama jenis pangan lainnya agar jumlah dan kualitas zat gizi mencapai gizi seimbang sesuai rekomendasi pedoman gizi seimbang (Laman Peraturan.go.id BN1110-2014)

Memenuhi Kebutuhan gizi anak usia sekolah,  pemerintahan Prabowo melaksanakan kebijakan Makan Bergizi Gratis di seluruh Indonesia dengan varian didalamnya terdapat susu cair.  Hal ini dijelaskan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dalam mengatasi ketimpangan akses pangan bergizi khususnya dikalangan anak-anak usia sekolah.  Susu menjadi bagian dari kelompok lauk pauk sumber protein bersanding dengan ikan, telur, daging dan kacang-kacangan.  Dadan Hindayana, memberikan klarifiksi tentang asupan gizi yang lengkap dan seimbang sebagai faktor penentu pertumbuhan anak, termasuk pola konsumsi susu (dikutip dari laman siaran pers  Badan Gizi Nasional yang diterbitkan 28 Mei 2025).

“Pentingnya asupan gizi lengkap, bukan mewajibkan anak-anak minum dua liter susu,  Susu hanyalah salah satu contoh sumber kalsium dan protein. Susu bisa diganti dengan tempe, tahu, ikan, atau telur yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan anak.”

Pernyataan ini diperkuat oleh Ahli susu Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt., M.V.P.H., M.Si yang kini bergabung dalam tim pakar Badan Gizi Nasional.  Menurut Prof. Epi, kebutuhan kalsium anak dapat dipenuhi dari berbagai sumber makanan.

“Susu memang padat kalsium dan mudah dikonsumsi, tetapi bukan satu-satunya pilihan.  Anak-anak bisa mendapatkannya dari ikan berkaleng yang dimakan dengan tulangnya, tahu, tempe, hingga sayur berdaun hijau,”.

Ia menambahkan bahwa prinsip dasar pertumbuhan optimal adalah pemenuhan zat gizi makro dan mikro sejak usia dini, bukan sekadar mengandalkan satu jenis makanan.

Implementasi kebijakan Makan Bergizi Gratis untuk anak usia sekolah di seluruh Indonesia, tim spektroom menelisik varian kelengkapan makanan terutama penyertaan susu cair rekombinan (kandungan susu segar hanya 50 %).  Varian susu cair rekombinan ini menjadi viral karena penolakan yang disebabkan alasan bahwa susu pabrikan khusus untuk program MBG yang disalurkan ke sekolah-sekolah dianggap asupan gizinya kurang atau tidak sesuai.

Foto: Viral penolakan masyarakat di medsos - dikutip dari salah satu akun thread.

Konsumsi susu untuk anak usia sekolah sangat dibutuhkan, namun perlu diperhatikan juga adanya kondisi tubuh masing-masing dalam merespon asupan susu.   Data yang ditemukan tim spektroom dalam mengamati kondisi faktual ditengah masyarakat tentang prevalensi intoleransi laktosa cukup tinggi, disamping resiko kontaminasi akibat susu yang tidak disajikan atau disimpan secara tepat sehingga berdampak pada kejadian penyakit yang dihantarkan melalui makanan.  Hal ini dijelaskan oleh dr. Frieda Handayani Kawanto, Sp. A (K)-Konsultan Gastro Hepatologi Anak di RS. Premier Jatinegara.

“Intoleransi laktosa pada anak Indonesia cukup tinggi dan meningkat seiring bertambahnya usia.  Pada Usia 12-14 tahun prevalensinya mencapai 73% sementara usia 3-5 tahun hanya 21,3 % (dikutip dari laman facebook RS. Premier yang dipublis September 2025).”

Prevalensi laktosal dan kontaminasi susu yang memiliki resiko dalam tubuh, faktanya ditemukan pada anak usia 5 tahun yang meminum susu kotak mengalami diare.  Hal ini dijelaskan oleh seorang warga Jakarta  Aldi Z. (32 tahun) ketika ditemui spektroom pada saat mendampingi puteri tunggalnya melakukan vaksin DPT dan MMR di Eka Hospital Cibubur (27/1/2026) bahwa puterinya bulan lalu terpaksa dirawat di Eka Hospital Cibubur karena minum susu kotak dengan varian rasa tertentu.

“Anak saya setelah makan lalu minum susu kotak rasa cokelat, berselang dua jam anak saya mual-mual muntah dan buang-buang air besar padahal saya lihat masa pakainya masih belum kadaluarsa.”  Aldy juga menegaskan bahwa tubuhnya juga intoleran atau tidak bisa mencerna laktosa (gula alami pada susu dan produk olahannya) sehingga dampaknya perut kembung, diare, mual bahkan kadang muntah.”  Ungkap Aldy Z. pada tim spektroom.

Secara prinsip dan pertanggung jawaban kepada publik, setiap produsen susu termasuk susu untuk anak sekolah program MBG wajib dan telah mencantumkan kandungan unsur lemak, protein dan vitamin pada kemasannya sebagai informasi gizi yang dibutuhkan tubuh.

Pengawasan melekat terhadap protein, vitamin dan lemak dalam Susu yang beredar di Masyarakat juga senantiasa dilakukan instansi terkait.  Ditegaskan oleh kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) wilayah Sumatera Barat Martin Suhendri Sitepu ketika dihubungi melalui telepon oleh tim spektroom (27/1/2026) mengatakan bahwa susu yang dipanaskan pada temperatur tinggi Ultra High Temperature (UHT) sudah melalui proses izin di BPOM dan peruntukannya juga direkomendasikan untuk anak diatas 3 tahun.  Maknanya,  susu UHT dalam kemasan tidak untuk memenuhi kebutuhan gizi anak semua umur. 

“seluruh susu UHT sudah melalui proses verifikasi BPOM dan kandungan gizi wajib dicantumkan sesuai persyaratan yang tertera pada kotak kemasan.” 

Lebih jauh Martin mengatakan untuk memenuhi kebutuhan vitamin sebaiknya ditambah asupannya melalui bahan alami seperti buah dan sayur namun tidak dilarang juga menggunakan asupan sebagai suplemen sepanjang memang dibutuhkan dan perhatikan juga faktor intoleran laktosa dalam tubuh masing-masing.

Hingga liputan ini dipublis, tim spektroom belum menemukan susu UHT yang tidak mencantumkan kandungan protein dan zat lain didalam kemasannya termasuk susu untuk melengkapi gizi pada program MBG.  Fakta ini dimaknai walaupun besaran jumlah kandungan nutrisi diungkap secara jujur pada kemasan, namun kondisi intoleran laktosa pada tubuh ikut mempengaruhi efek yang optimal.  Dengan kata lain gagalnya susu sebagai sumber gizi pertumbuhan tubuh  bukan disebabkan kurangnya nutrisi yang terkandung disetiap tetesnya melainkan tergantung pada kesiapan tubuh menerima asupan gizi yang diusung dalam susu UHT.

Berita terkait