Pancasila dan Budaya Lokal: Merawat Jati Diri Indonesia di Tengah Globalisasi
Bandarlampung - Spektroom: Identitas nasional merupakan salah satu elemen penting dalam membentuk kesadaran kolektif suatu bangsa, di Indonesia, identitas nasional bukan sekadar simbol atau representasi formal, melainkan hasil dari pengalaman sejarah panjang, keberagaman budaya, dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar negara.
Hal itu disampaikan Dosen PPKn FKIP Universitas Lampung Abdul Halim, S.Pd., M.Pd. Obrolan Pagi Khani Pro4 RRI Bandarlampung, melalui Topik Pancasila dan Budaya Lokal: Merawat Jati Diri Indonesia di Tengah Globalisasi, Kamis (1/10/2026)
Identitas nasional Indonesia, lanjut Abdul Halim, dibentuk oleh berbagai unsur yang saling berkaitan, mulai dari bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, simbol negara seperti bendera dan lagu kebangsaan, hingga nilai sosial yang tercermin dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang melambangkan persatuan dalam keberagaman.
Menurut Halim, Indonesia merupakan satu-satunya Negara yang memiliki ideologi berbeda, dimana Ideologi di berbagai negara sama, Ideologi Agama Liberal & Komunis.
"Pancasila itu adalah sebuah ideologi yang satu-satunya ideologi paling beda di bumi ini, karena dibeberapa negara memiliki ideologi yang sama, seperti ideologi agama, ideologi liberalis dan ideologi komunis. Tapi satu-satunya negara yang memiliki ideologi yang sangat beda, yang paling beda itu Indonesia dengan ideologi Pancasila, dasar untuk bernegara" terang dia.
Pada dialog yang dipandu Leonardo tersebut juga mengungkap tentang Pancasila sebagai pondasi negara, landasan berpikir serta pandangan hidup Bangsa.
"Jadi kalau kita konsisten dan komitmen terhadap ideologi kita, negara ini tidak akan kacau, akan baik-baik saja. Oleh karena itu diharapkan warga negara Indonesia ini menganggap Pancasila bukan sebuah seremonial atau harus di hafal, tapi memang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari" ujarnya berharap.
Abdul Halim juga menterjemahkan Lima sila dalam Pancasila, menurutnya Sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa bawa semua warga negara Indonesia ini wajib dan yakin adanya Tuhan.
Meskipun keyakinannya berbeda-beda, namun Negara mengakui secara resmi sebagai agama yang berlaku di Indonesia.
Kemudian yang kedua kemanusiaan yang adilan beradab. Dipertegas lagi bahwa ini persamaan harkat dan martabat manusia. Warga negara Indonesia. Yang ketiga persatuan Indonesia, keanekaragaman yang ada di Indonesia ini merupakan sebuah kekayaan bagi Indonesia, tapi tidak boleh mengesampingkan persatuan.
Dan yang keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan perwakilan.
"Ini mengandung makna bahwa segala persoalan itu dimusawarahkan dengan mupakat atau kesepakatan bersama-sama. Dan yang terakhir, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bahwa perlakuan yang adil kepada seluruh warga negara Indonesia dalam praktik kehidupan nyata di masyarakat" ucap Abdul Halim merinci.
Pada bagian lain keterangannya, Abdul Halim juga mengatakan, Globalisasi mendorong pertukaran budaya yang tak terelakkan, di mana budaya asing, terutama dari negara-negara Barat, seringkali mendominasi kehidupan masyarakat Indonesia.
"Hal ini terlihat dari tren konsumsi budaya populer seperti musik, film, mode, dan gaya hidup yang menonjolkan individualisme dan materialisme. Melalui media sosial, informasi dan budaya asing tersebar luas dan menarik minat generasi muda. Akibatnya, generasi muda Indonesia cenderung mengadopsi budaya asing tanpa pemahaman atau penghargaan terhadap budaya lokal dan tradisi turuntemurun" ungkapnya lagi.
Dipenghujung dialog Abdul Halim juga menjelaskan, salah satu tantangan utama identitas nasional Indonesia di era globalisasi adalah pergeseran nilai kebangsaan, yang semula mengutamakan kolektivitas, gotong royong, dan kebersamaan menjadi nilai individualisme dan homogenisasi budaya global.
Penurunan minat terhadap bahasa daerah, seni tradisional, dan adat istiadat lokal menjadi bukti nyata perubahan ini.
"Selain itu, pengaruh ekonomi dan politik asing, seperti dominasi produk luar negeri di pasar Indonesia, ikut menurunkan apresiasi terhadap produk dan budaya lokal" tutupnya.(@Ng).