Panen Perdana Benih Inpari 32, Karolin Bidik Kemandirian Benih Padi Landak
Landak-Spektroom : Di tengah tantangan sektor pertanian yang terus berkembang, Kabupaten Landak mulai menapaki langkah penting menuju kemandirian benih padi.
Bupati Landak Karolin Margret Natasa menghadiri panen perdana penangkaran benih padi varietas Inpari 32 yang dilakukan Kelompok Tani Pamule di Desa Tubang Raeng, Kecamatan Jelimpo, Jumat (21/08/2026).
Panen ini bukan sekadar seremoni hasil tanam. Kegiatan tersebut menjadi penanda lahirnya upaya membangun sumber benih unggul dari daerah sendiri melalui pembinaan Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BRMP) Kalimantan Barat bersama para petani lokal.
Di hadapan petani dan pendamping pertanian, Karolin menegaskan bahwa kualitas benih merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan produksi pangan.
Karena itu, ia berharap program penangkaran benih tidak berhenti pada satu musim tanam, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu memenuhi kebutuhan petani Landak.
“Hari ini kita panen benih sumber bersama Kelompok Tani Pamule. Harapan kita kegiatan ini bisa berkelanjutan dan menjadi sumber benih berkualitas bagi para petani, karena kualitas benih sangat menentukan produktivitas hasil panen,” kata Karolin.
Optimisme tersebut didukung data produksi pertanian yang menunjukkan tren positif. Hingga Agustus 2026, luas panen padi di Kabupaten Landak telah mencapai 19.037 hektare dengan produksi 62.110 ton Gabah Kering Giling (GKG) dan produktivitas rata-rata 3,26 ton per hektare. Sementara pada tahun 2025, luas panen tercatat mencapai 43.741 hektare dengan total produksi 121.995 ton. Angka tersebut meningkat dibandingkan produksi tahun 2024 yang berada di kisaran 97 ribu ton.
Meski memiliki potensi besar, Karolin mengungkapkan masih ada persoalan yang menghambat berkembangnya usaha penangkaran benih. Keluhan terbesar para petani selama ini bukan pada produksi, melainkan pemasaran dan sistem pembayaran. Menurutnya, banyak petani membutuhkan pembayaran secara cepat setelah menjual hasil produksi. Di sisi lain, perusahaan pembeli biasanya menerapkan prosedur verifikasi yang membuat proses pencairan dana tidak bisa dilakukan secara langsung.
“Problemnya ada di rantai pemasaran. Petani mengeluhkan pembayaran yang tidak segera, sementara mereka membutuhkan perputaran uang yang cepat,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan itu, Pemerintah Kabupaten Landak mendorong model penjualan langsung dari penangkar kepada petani pengguna melalui media sosial maupun koperasi. Skema tersebut diharapkan dapat memotong rantai distribusi sekaligus mempercepat transaksi.
Karolin juga mengakui jumlah penangkar benih di Landak saat ini masih terbatas sehingga belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan petani.
Akibatnya, sebagian benih masih harus didatangkan dari luar daerah.
“Potensinya masih sangat besar. Kita berharap semakin banyak petani yang tertarik menjadi penangkar sehingga kebutuhan benih di Landak dapat dipenuhi dari daerah sendiri,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Karolin turut menyerahkan bantuan alat mesin pertanian berupa power thresher atau mesin perontok padi kepada Kelompok Tani Pamule. Bantuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pengolahan pascapanen sekaligus memperkuat produktivitas pertanian di wilayah Jelimpo.