Parade Juang Surabaya Ajak Warga Jadi Pahlawan Masa Kini, Perangi Kemiskinan dan Anak Putus Sekolah
Surabaya-Spektroom : Semangat kepahlawanan tidak hanya hidup dalam cerita perjuangan masa lalu. Di tengah tantangan kehidupan saat ini, warga Surabaya diajak mengambil peran menjadi pahlawan dengan membantu sesama, peduli terhadap lingkungan, serta ikut mengatasi kemiskinan dan anak putus sekolah.
Pesan itu mengemuka dalam pertunjukan teatrikal kolosal bertajuk “Suroboyo Wani” yang digelar di kawasan Tugu Pahlawan, Minggu (1/11/2026). Pertunjukan pembuka rangkaian peringatan Hari Pahlawan tersebut menarik perhatian sekitar 170 ribu penonton.
Melalui perpaduan seni peran, musik, dan napak tilas sejarah, penonton diajak kembali merasakan suasana perjuangan arek-arek Suroboyo pada November 1945.
Adegan yang semula menggambarkan suasana kehidupan masyarakat, mendadak berubah tegang ketika sirene berbunyi membawa kabar ultimatum Sekutu. Para pemain kemudian berganti atribut menjadi pejuang dengan bambu runcing dan membentuk barisan Laskar Rakyat Kapasan.
Suasana semakin emosional ketika Kolonel Sungkono, yang diperankan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam rangkaian prosesi, digambarkan memohon doa restu kepada Ibu Pertiwi sebelum para pejuang berangkat ke medan pertempuran.

Di hadapan ribuan warga yang memadati kawasan tersebut, Eri mengingatkan bahwa keberanian dan pengorbanan para pejuang tidak boleh berhenti sebagai kenangan sejarah.
Menurutnya, tantangan perjuangan masa kini telah berubah. Masyarakat tidak lagi menghadapi penjajah dengan senjata, tetapi harus berhadapan dengan persoalan kemiskinan, kebodohan, anak putus sekolah, dan perpecahan sosial.
"Selagi ada kemiskinan, selagi masih ada anak putus sekolah, maka kita belum merdeka. Dibutuhkan kebersamaan, kekeluargaan, dan toleransi untuk saling menjaga satu dengan yang lainnya," tegas Eri.
Setiap warga, menurutnya, memiliki kesempatan untuk mengambil bagian melalui tindakan nyata di lingkungan masing-masing.
Tema “Suroboyo Wani” pun dimaknai sebagai ajakan agar keberanian khas arek-arek Suroboyo diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama.
Eri berharap warga berani menjadi pahlawan lingkungan, pahlawan kemanusiaan, maupun pahlawan sosial. Semangat tersebut perlu dibangun bersama pemerintah, Forkopimda, dan seluruh pemangku kepentingan tanpa terhalang ego sektoral.
"Harapan kita, bagaimana semua bisa jadi pahlawan. Kita arek Suroboyo, dilahirkan punya jiwa pahlawan. Ayo bersama menjadi pahlawan untuk mengentaskan kemiskinan, mengentaskan anak putus sekolah, dan menjaga lingkungan," ujarnya.
Melalui Parade Juang 2026, Eri berharap nilai-nilai Pancasila tidak berhenti sebagai slogan dalam peringatan hari besar nasional. Nilai tersebut harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui gotong royong dan kepedulian terhadap warga yang membutuhkan.
"Maka saya berharap kemerdekaan tidak hanya menjadi slogan, tapi kita bertempur bersama hari ini, menjadi pahlawan bersama untuk Surabaya lebih sejahtera," pungkasnya.