Satu Drum Solar, Sejuta Semangat Indonesia: Ketika Nasionalisme Menyala dari Ujung Perbatasan
Pengabdian Tidak Diukur dari Besarnya Jabatan, tetapi dari Ketulusan Menjaga Suara Bangsa Tetap Mengudara
Malang - Spektroom : Ada pelajaran besar tentang nasionalisme yang saya temukan dari sebuah peristiwa sederhana di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Bukan dari pidato kenegaraan, bukan pula dari upacara yang berlangsung megah. Melainkan dari satu drum solar yang dibawa sejumlah anak muda ke kantor Studio Produksi Radio Republik Indonesia (RRI) Mahakam Ulu.
Peristiwa itu terjadi pada 27 Oktober 2016, sehari menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda. Hingga hari ini, setelah bertahun-tahun berlalu, kenangan tersebut masih tersimpan kuat dalam ingatan saya. Sebab, dari satu drum solar itulah saya belajar bahwa cinta tanah air tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan gemerlap. Terkadang, nasionalisme justru tumbuh dari kepedulian sederhana yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Mahakam Ulu bukanlah wilayah yang mudah dijangkau. Berada di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, daerah ini menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur, transportasi, komunikasi, hingga ketersediaan kebutuhan dasar. Namun, keterbatasan geografis tidak pernah menjadi alasan bagi masyarakatnya untuk kehilangan semangat sebagai bagian dari Indonesia.
Justru di tempat yang jauh dari pusat pemerintahan itulah saya menyaksikan nasionalisme dalam wujud yang sesungguhnya.
Nasionalisme Tidak Cukup Hanya dengan Kata-Kata
Sore itu, saya bertemu dengan Ketua KNPI Kabupaten Mahakam Ulu, Drs. Martinus Miing, di sebuah warung kopi kawasan T3. Percakapan sederhana sambil menikmati kopi kemudian berkembang menjadi pembicaraan tentang bagaimana menghadirkan semangat Sumpah Pemuda di wilayah perbatasan.
Martinus menyampaikan bahwa peringatan Sumpah Pemuda bukan hanya milik anak muda di kota-kota besar. Pemuda di wilayah perbatasan juga memiliki hak, tanggung jawab, dan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kecintaan terhadap bangsa.
"Mahulu, walaupun berada di kawasan pinggiran dan berbatasan dengan Malaysia, tetap bagian dari Indonesia dan layak menyuarakan peringatan Sumpah Pemuda," ungkap Martinus.
Kalimat itu begitu sederhana, tetapi menyimpan pesan kebangsaan yang mendalam.
Saya kemudian menyambut gagasan untuk menggelar dialog kebangsaan melalui Studio Produksi RRI Mahakam Ulu. Namun, ada satu persoalan yang harus diselesaikan: stok bahan bakar minyak untuk menghidupkan pemancar telah habis.
Saya menyampaikan kondisi tersebut kepada Martinus. Di luar dugaan, ia justru menyatakan kesediaannya membantu menyediakan solar agar dialog kebangsaan dan siaran langsung upacara Sumpah Pemuda tetap bisa terlaksana.
Sekitar pukul 18.00, Martinus bersama sejumlah anggota KNPI datang ke kantor Studio Produksi RRI membawa satu drum solar.
Saya terharu.
Belakangan saya mengetahui bahwa solar itu tidak diperoleh dengan mudah. Di tengah sulitnya pasokan BBM di kawasan perbatasan, mereka bergotong royong, mengumpulkan dana dari rumah ke rumah, bahkan berusaha mendapatkan solar dari kapal-kapal yang berada di dermaga.
Sungguh, sebuah pengorbanan yang tidak ternilai.
Mereka tidak sedang mencari penghargaan. Tidak pula mengharapkan popularitas. Mereka hanya ingin memastikan suara RRI tetap mengudara dan masyarakat Mahakam Ulu dapat ikut merayakan semangat Sumpah Pemuda.
Dari peristiwa itu saya memahami satu hal: nasionalisme bukan tentang seberapa lantang seseorang meneriakkan cinta Indonesia, melainkan seberapa nyata ia berbuat untuk Indonesia.
Ketika Kepedulian Menjadi Energi Pengabdian
Tepat pukul 19.00, dialog kebangsaan bertema "Peran Pemuda dalam Membangun Mahakam Ulu" akhirnya mengudara.

Hadir sebagai narasumber Ketua KNPI Mahakam Ulu, Drs. Martinus Miing, dan Wakil Bupati Mahakam Ulu, Drs. Juan Jenau. Saya bertugas sebagai moderator sekaligus operator siaran dan penerima sambungan telepon pendengar.
Dengan fasilitas yang terbatas, saya harus menjalankan beberapa pekerjaan sekaligus. Memimpin dialog, mengoperasikan perangkat siaran, sekaligus memastikan masyarakat dapat menyampaikan pandangan melalui sambungan telepon.
Malam itu, radio bukan sekadar alat komunikasi. Radio menjadi jembatan yang menghubungkan pemikiran, harapan, dan aspirasi masyarakat perbatasan dengan semangat kebangsaan.
Respons pendengar begitu antusias. Masyarakat ikut berbicara tentang persatuan, pembangunan daerah, dan masa depan generasi muda Mahakam Ulu.
Keesokan harinya, 28 Oktober 2016, siaran langsung upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda juga dapat dilaksanakan.
Sebuah gagasan sederhana dari warung kopi akhirnya menjelma menjadi kegiatan yang bermakna bagi masyarakat.
Saya semakin yakin bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ada kalanya perubahan lahir dari percakapan kecil, keberanian mengambil inisiatif, dan kesediaan orang-orang untuk saling membantu.
Satu drum solar telah menjadi energi bagi mesin pemancar. Namun, lebih dari itu, ia menjadi energi moral bagi pengabdian.
Ketika Niat Baik Berhadapan dengan Cara Pandang Birokrasi
Namun, tidak semua perjalanan pengabdian berjalan mulus.
Di balik keberhasilan menghidupkan kembali siaran RRI Mahakam Ulu, tersimpan pengalaman yang hingga kini masih membekas. Upaya tersebut ternyata tidak mendapat sambutan sebagaimana yang saya harapkan dari jajaran pimpinan RRI di Jakarta.
Saya justru menerima penilaian bahwa langkah tersebut dianggap menyepelekan dan merendahkan lembaga.
Penilaian itu membuat saya bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya sedang saya perjuangkan?
Saya datang jauh-jauh dari Jawa ke Mahakam Ulu bukan untuk mencari popularitas, apalagi mengejar penghargaan. Saya hadir untuk menjalankan tugas pelayanan publik, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memastikan informasi pembangunan dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.
Ketika pemancar tidak mengudara karena kehabisan bahan bakar, kemudian masyarakat datang dengan sukarela membantu menyediakan solar, saya melihatnya sebagai bentuk kepedulian terhadap RRI.
Tentu, setiap bantuan harus tetap memperhatikan ketentuan, prosedur, transparansi, dan pertanggungjawaban kelembagaan. Namun, aturan semestinya tidak membuat kita kehilangan kepekaan terhadap realitas di lapangan.
Birokrasi dibutuhkan untuk menjaga tata kelola. Akan tetapi, birokrasi juga harus mampu memberikan ruang bagi kreativitas, inisiatif, dan solusi ketika pelayanan publik menghadapi keterbatasan.
Jangan sampai prosedur justru menjadi penghalang bagi tujuan utama sebuah lembaga.
Bukankah RRI hadir untuk masyarakat?
Bukankah keberhasilan lembaga penyiaran publik juga tercermin dari seberapa besar masyarakat merasa memiliki dan ikut menjaga keberlangsungannya?
Bagi saya, bantuan satu drum solar itu bukan bentuk pelecehan terhadap institusi. Sebaliknya, itulah bukti bahwa RRI memiliki tempat istimewa di hati masyarakat perbatasan.
Mereka rela berkorban agar suara RRI tetap terdengar.
Sebuah kenyataan yang seharusnya menjadi bahan refleksi bagi siapa pun yang memiliki tanggung jawab dalam pelayanan publik.
Pemuda Adalah Penjaga Masa Depan Bangsa
Pengalaman bersama Martinus Miing dan kawan-kawan KNPI Mahakam Ulu memberikan pelajaran penting tentang peran generasi muda.
Pemuda bukan sekadar penerus bangsa yang menunggu kesempatan untuk memimpin. Mereka adalah kekuatan yang dapat mengambil peran sejak sekarang.
Mereka bisa membangun lingkungan, menjaga persatuan, menggerakkan masyarakat, memperkuat solidaritas, dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi daerahnya.
Semangat itulah yang sesungguhnya terkandung dalam Sumpah Pemuda.
Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap 28 Oktober. Ia merupakan komitmen lintas generasi untuk menjaga persatuan, menghargai keberagaman, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Di tengah perkembangan zaman, tantangan generasi muda memang semakin kompleks. Teknologi berkembang pesat, informasi bergerak tanpa batas, dan persaingan semakin terbuka.
Namun, ada satu nilai yang tidak boleh hilang: kepedulian terhadap sesama dan tanggung jawab terhadap tanah air.
Pemuda Mahakam Ulu telah memberikan contoh bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat.
Mereka tidak menunggu fasilitas sempurna. Mereka tidak menunggu instruksi panjang. Mereka bergerak karena merasa memiliki tanggung jawab.
Itulah karakter pemuda yang dibutuhkan Indonesia.
Menghadirkan Negara dari Wilayah Perbatasan
Peristiwa tersebut juga mengingatkan saya bahwa pembangunan nasional tidak boleh hanya berorientasi pada pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan perkotaan.
Masyarakat di wilayah perbatasan memiliki hak yang sama untuk memperoleh informasi, pendidikan, pelayanan kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan meningkatkan kesejahteraan.
Mereka tidak boleh merasa menjadi warga kelas dua hanya karena tinggal jauh dari pusat pemerintahan.
Dalam konteks inilah keberadaan RRI memiliki arti strategis.
RRI bukan semata-mata institusi yang menyiarkan berita, hiburan, dan informasi. Di wilayah yang akses komunikasinya terbatas, radio dapat menjadi penghubung masyarakat dengan perkembangan daerah, nasional, bahkan dunia.
Siaran radio juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Karena itu, menjaga agar RRI tetap mengudara di kawasan perbatasan bukan sekadar persoalan teknis pemancar. Ada misi yang jauh lebih besar, yakni menghadirkan informasi, memperkuat identitas kebangsaan, dan memastikan masyarakat merasakan kehadiran negara.
Pembangunan perbatasan tidak cukup hanya diukur dari panjang jalan, jumlah jembatan, bangunan kantor, atau fasilitas ekonomi.
Ada pembangunan yang tidak kalah penting: membangun rasa memiliki terhadap Indonesia.
Sebab, sejauh apa pun jarak geografisnya, masyarakat perbatasan tetap berada dalam satu rumah besar bernama Indonesia.
Pengabdian Tidak Pernah Mengenal Kata Pensiun
Kini, ketika saya mengenang kembali peristiwa 27 Oktober 2016, ada satu hal yang semakin saya yakini: pengabdian tidak selalu membutuhkan fasilitas lengkap, jabatan tinggi, atau dukungan besar.
Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk bekerja, keberanian mengambil inisiatif, dan ketulusan untuk memberikan manfaat.
Saya mungkin tidak lagi berada di tengah kesibukan operasional Studio Produksi RRI Mahakam Ulu. Waktu terus berjalan dan perjalanan pengabdian membawa setiap orang pada fase kehidupan yang berbeda.
Namun, nilai-nilai yang saya peroleh dari pengalaman itu tidak pernah berhenti.
Bagi saya, pensiun dari pekerjaan formal bukan berarti pensiun dari kepedulian. Berakhirnya masa jabatan bukan berarti berakhir pula tanggung jawab moral untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.
Selama masih memiliki pikiran, tenaga, pengalaman, dan kesempatan, selalu ada ruang untuk mengabdi.
Kita tidak harus menjadi pejabat untuk berbuat baik. Tidak harus menjadi orang kaya untuk membantu sesama. Tidak harus memiliki jabatan strategis untuk memberikan kontribusi bagi bangsa.
Martinus Miing dan kawan-kawan KNPI Mahakam Ulu telah mengajarkan hal itu kepada saya.
Mereka mungkin tidak pernah membayangkan bahwa satu drum solar yang mereka kumpulkan dengan susah payah akan menjadi kenangan yang begitu mendalam dalam perjalanan hidup seseorang.
Namun, itulah kekuatan sebuah ketulusan.
Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas mungkin tidak selalu tercatat dalam dokumen sejarah, tetapi akan terus hidup dalam ingatan orang-orang yang merasakan manfaatnya.
Satu Drum Solar, Sejuta Inspirasi
Sepuluh tahun lebih telah berlalu sejak peristiwa itu. Solar yang mereka kumpulkan mungkin sudah lama habis terbakar. Mesin pemancar yang pernah dihidupkan dengan bantuan tersebut mungkin telah berganti perangkat.
Namun, semangat dan nilai pengorbanannya tidak pernah padam.
Saya tidak akan melupakan bagaimana anak-anak muda Mahakam Ulu bergerak bersama, menyisihkan uang, mengorbankan waktu, dan mencari bahan bakar demi menjaga suara RRI tetap mengudara.
Dari mereka saya belajar bahwa nasionalisme tidak mengenal batas wilayah. Pengabdian tidak mengenal sekat jabatan. Dan kepedulian tidak harus menunggu seseorang menjadi besar.
Ada tiga pelajaran yang ingin saya wariskan dari pengalaman tersebut.
Pertama, jangan pernah meremehkan tindakan kecil. Sesuatu yang tampak sederhana bagi seseorang bisa menjadi sangat berarti bagi kehidupan orang lain.
Kedua, jangan biarkan keterbatasan mematikan kreativitas dan semangat pengabdian. Ketika menghadapi kesulitan, carilah jalan keluar dengan tetap menjaga prinsip, aturan, dan tanggung jawab.
Ketiga, bangunlah rasa memiliki. Sebuah lembaga, organisasi, maupun bangsa akan menjadi kuat apabila masyarakatnya merasa menjadi bagian dari perjuangan untuk menjaganya.
Pada akhirnya, Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang duduk di pusat kekuasaan. Indonesia juga dibangun oleh masyarakat kecil, pemuda di pelosok negeri, para relawan, dan setiap orang yang bersedia memberikan sesuatu bagi kepentingan bersama.
Satu drum solar dari pemuda Mahakam Ulu telah mengajarkan makna pengabdian yang sesungguhnya.
Malam itu, yang mereka nyalakan bukan hanya mesin pemancar Studio Produksi RRI Mahakam Ulu. Mereka juga menyalakan api nasionalisme dari ujung perbatasan Indonesia.
Sebab, mencintai Indonesia bukan sekadar bangga menyebut nama bangsa, melainkan bersedia melakukan sesuatu agar Indonesia tetap berdiri, bersatu, dan hadir bagi seluruh rakyatnya.
Dari Mahakam Ulu kita belajar tentang ketulusan. Dari pemuda kita belajar tentang pengorbanan. Dan dari satu drum solar kita belajar bahwa sekecil apa pun kontribusi, jika dilakukan dengan cinta dan keikhlasan, dapat menjadi cahaya bagi bangsa.
Solar boleh habis terbakar, masa pengabdian boleh berganti, tetapi api nasionalisme dan semangat untuk terus bermanfaat bagi negeri harus tetap menyala.
Sekali di udara, tetap di udara. Sekali mengabdi, jangan pernah berhenti memberi arti.
**( Buang Supeno adalah mantan insan RRI yang meyakini bahwa pengabdian kepada masyarakat dan bangsa tidak pernah mengenal batas usia maupun masa jabatan )