Pinbas MUI Depok Sulap Lahan 14,7 Hektar di Tapos jadi Kawasan Ekonomi Produktif.
Depok,Spektroom: - Di tengah menyusutnya lahan produktif di Kota Depok, sebuah ikhtiar ekonomi umat justru tumbuh di wilayah Tapos. Di atas hamparan lahan seluas 14,7 hektare, Pusat Inkubasi Bisnis (PINBAS) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok mulai mengembangkan kawasan usaha terpadu berbasis pertanian dan peternakan.
Kawasan ini bukan sekadar lahan bercocok tanam. Ia diproyeksikan menjadi ekosistem ekonomi baru yang menopang ketahanan pangan sekaligus kemandirian ekonomi masyarakat.
Direktur Utama PINBAS MUI Kota Depok, H. Acep Azhari, mengatakan lahan milik Awan Kurniawan tersebut difasilitasi untuk dikelola dengan konsep ekonomi berbasis koperasi syariah.
"Peternakan kambing menjadi salah satu usaha utama yang dikembangkan di kawasan tersebut. Selain itu, pengalaman dari dua lokasi Pinbas sebelumnya mencakup pengembangan cabai, sayuran, dan budidaya perikanan dengan sistem bioflok," ujar pria yang akrab disapa Jiacep itu, Jumat (30/10/2026).

Bagi Jiacep, kunci keberlanjutan ada pada .diversifikasi. Belajar dari dua lokasi Pinbas sebelumnya, pengembangan tidak hanya bertumpu pada satu komoditas.
Model yang dibangun saling terkait: limbah pertanian bisa menjadi pakan, kotoran ternak menjadi pupuk organik, dan kolam bioflok menyokong irigasi. Sebuah siklus ekonomi sirkular yang saling menguatkan.
Tak hanya sektor pangan, Pinbas juga mengembangkan produk home care yang telah mengantongi legalitas resmi. Langkah ini menjadi jembatan agar usaha umat bisa masuk ke pasar yang lebih profesional dan modern.
Inkubasi Lengkap, dari SDM hingga Modal
Jiacep menegaskan, Pinbas tidak hanya menyediakan lahan.
"PINBAS menjalankan fungsi inkubasi melalui pengembangan SDM, pendampingan perkembangan usaha, serta perluasan akses pasar," jelasnya.
Untuk memperkuat itu, ekosistem permodalan dibangun melalui Koperasi Syariah Karya Maslahat Pinbas. Ada juga ekosistem duplikasi usaha, sehingga model bisnis yang sukses di satu titik bisa direplikasi di lokasi baru.
"Dengan begitu pertumbuhan ekonomi bisa semakin meluas," terangnya.
Namun ia mengakui, mengelola 14,7 hektare bukan perkara mudah. Dibutuhkan perencanaan matang, mulai dari sarana produksi, kualitas bibit, manajemen air, hingga biaya operasional. Tantangan terbesar lainnya adalah memastikan distribusi dan kepastian pasar agar produksi berkelanjutan.
"Dalam perspektif ketahanan pangan, kegiatan ini berpotensi membantu memperkuat ketersediaan produk pangan. Tapi kontribusi nyatanya perlu dilihat melalui hasil produksi, kesinambungan pasokan, dan kemampuan usaha memenuhi kebutuhan pasar," ungkapnya.
Lebih dari sekadar proyek bisnis, kawasan ini diharapkan membuka pintu keterlibatan warga. Mulai dari kegiatan produksi, masaran, semua membuka peluang kemitraan.
"Melalui pemanfaatan lahan dan pengembangan berbagai komoditas, PINBAS MUI Kota Depok berupaya mendorong ekonomi produktif yang berlandaskan nilai syariah. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengelolaan kawasan berjalan profesional, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar," pungkas Jiacep.(wis).