Pelepasan Siswa Tak Harus Mewah, yang Penting Bermakna dan Tidak Membebani Orang Tua
Palangkaraya-Spektroom : Acara pelepasan siswa atau perpisahan sekolah bukan sekadar seremoni penutup tahun ajaran, tetapi menjadi momen emosional yang menandai berakhirnya perjalanan belajar siswa sebelum melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya.
Dalam dunia pendidikan, kegiatan pelepasan atau purnawiyata selama ini dimaknai sebagai bentuk penghargaan atas proses panjang yang telah dijalani peserta didik, mulai dari belajar di kelas, menghadapi ujian, hingga mengikuti berbagai aktivitas sekolah.
Momentum tersebut juga menjadi ruang kebersamaan antara siswa, guru, dan orang tua untuk saling menyampaikan rasa terima kasih serta apresiasi atas perjalanan pendidikan yang telah dilalui bersama.
Berbagai sekolah biasanya mengisi kegiatan dengan penampilan seni, pemberian penghargaan, hingga penyampaian pesan dan kesan dari siswa maupun tenaga pendidik. Tidak sedikit pula yang menghadirkan kegiatan kebersamaan untuk mempererat hubungan sosial dan meninggalkan kenangan positif bagi siswa.
Namun di balik kemeriahan acara, muncul sorotan dari masyarakat terkait biaya pelepasan siswa yang dinilai kerap memberatkan sebagian orang tua. Karena itu, banyak pihak berharap kegiatan tersebut lebih mengedepankan nilai kebersamaan dibanding kemewahan konsep acara.
Akademisi sekaligus pengamat sosial pendidikan, Dr. Nur Wakhidah, S.HI., M.HI., menilai fenomena pelepasan siswa yang semakin mewah perlu menjadi perhatian bersama agar tidak menimbulkan tekanan sosial bagi wali murid.
“Pelepasan siswa seharusnya menjadi ruang penghargaan dan refleksi bersama, bukan ajang yang membebani wali murid dengan biaya tinggi,” ujarnya, Minggu (10/5/2026).
Menurutnya, keinginan siswa merayakan kelulusan secara meriah memang wajar karena menjadi bagian dari fase emosional dan kenangan masa sekolah. Namun, kondisi ekonomi setiap keluarga tidak selalu sama sehingga sekolah perlu lebih sensitif dalam menentukan konsep kegiatan.
Ia mengatakan, dalam banyak kasus terdapat orang tua yang terpaksa mengatur ulang kebutuhan rumah tangga bahkan menunda keperluan penting demi memenuhi biaya acara sekolah anaknya.
“Sekolah yang baik bukan diukur dari mewahnya acara pelepasan, tetapi dari bagaimana membangun empati, kebersamaan, dan rasa saling menghargai,” katanya.
Selain faktor biaya, aspek keamanan dan kenyamanan kegiatan juga menjadi perhatian penting, terutama jika acara dilaksanakan di luar sekolah atau melibatkan perjalanan siswa dalam jumlah besar.
Karena itu, konsep sederhana namun hangat dinilai tetap mampu menghadirkan kesan mendalam bagi peserta didik. Transparansi anggaran, musyawarah bersama wali murid, hingga penerapan subsidi silang bagi siswa kurang mampu juga dianggap dapat menjadi solusi agar kegiatan berlangsung lebih adil dan tidak menimbulkan beban sosial.
Pada akhirnya, nilai utama dalam pelepasan siswa bukanlah kemewahan gedung atau mahalnya konsep acara, melainkan rasa syukur, penghargaan atas proses belajar, serta motivasi bagi siswa untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik. (Polin-Riani)