Pendis: 734 Prodi PTKIN Berstatus Unggul, Serapan Kerja Alumni Tembus 95,1 Persen
Spektroom - Mutu pendidikan Islam di Indonesia kian menunjukkan hasil nyata. Kementerian Agama mencatat, hingga akhir 2025 terdapat 734 program studi (prodi) berstatus unggul.
Capaian tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, saat Diskusi Panel Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag 2025 di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (16/12/2025). “Yang menggembirakan, sebanyak 734 program studi telah berstatus unggul,” ujar Amien.
Tidak hanya unggul di atas kertas, kualitas lulusan PTKIN juga terbukti di pasar kerja. Berdasarkan hasil riset Bappenas, tingkat serapan kerja alumni perguruan tinggi keagamaan tercatat lebih tinggi dibandingkan perguruan tinggi umum.
“Hasil riset Bappenas menunjukkan tingkat serapan kerja alumni PTK mencapai 95,1 persen, lebih tinggi dibandingkan perguruan tinggi umum yang 94,5 persen,” tambahnya.
Amien menjelaskan, penguatan mutu pendidikan Islam juga tercermin dari 19 program studi yang telah terakreditasi internasional, dengan sebaran yang semakin merata di berbagai wilayah. Menurutnya, standar global kini bukan lagi milik segelintir kampus, tetapi telah menjadi capaian bersama PTKIN.
Daya saing madrasah pun menunjukkan tren positif. Peserta didik madrasah berhasil meraih prestasi pada Olimpiade Sains Nasional yang diselenggarakan Kemendikdasmen, menegaskan bahwa madrasah mampu bersaing secara akademik di level nasional.
Penguatan mutu tersebut, lanjut Amien, diperkuat melalui strategi klasterisasi madrasah. Madrasah Aliyah Insan Cendekia (MA IC) difokuskan pada penguatan akademik dan internasionalisasi, Madrasah Aliyah Program Keagamaan disiapkan untuk mencetak calon ulama dengan penguasaan keilmuan agama serta bahasa Arab dan Inggris, sementara Madrasah Vokasi dikembangkan untuk menjawab kebutuhan keterampilan dan dunia kerja.
Selain itu, reputasi akademik pendidikan tinggi Islam juga semakin menguat melalui peningkatan jumlah jurnal ilmiah bereputasi internasional yang terindeks Scopus, sebagai bagian dari pembangunan ekosistem riset berdaya saing global.
“Dengan capaian ini, kami optimistis pendidikan Islam akan semakin berperan dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing,” tegas Amien.
Kegiatan Diskusi Panel Rakernas Kemenag 2025 ini turut disimak Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi‘i, para pejabat Eselon I dan II, rektor PTKIN, Kepala Kanwil Kemenag se-Indonesia, serta peserta Rakernas baik secara luring maupun daring.
Capaian ratusan prodi unggul, serapan kerja lulusan yang tinggi, hingga pengakuan internasional menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak sekadar bertahan, tetapi terus melaju. Dari madrasah hingga PTKIN, arah kebijakan Kemenag kian jelas: mencetak lulusan berkarakter, kompeten, dan relevan dengan kebutuhan zaman bukan sekadar sarjana, tapi siap kerja dan siap bersaing. (Polin-M.Marjan)