Pengembangan Ekowisata Hutan Sagu dan Sasi jadi Prioritas Ekonomi Negeri Rutong
Ambon-Spektroom:
Raja Negeri Rutong Reza Valdo Maspaitella saat ditemui Spektroom di lokasi wisata Sagu usai peringatan Hari Sampah Nasional di Negeri Rutong, pada Sabtu, 28 Februari 2026, mengatakan kedepannya, Pengembangan Ekowisata Sagu dan Sasi menjadi perhatian Pemerintah Negeri Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon.
Pemerintah Negeri Rutong, terus memacu pengembangan kawasan hutan sagu sebagai ikon ekowisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, proyek komprehensif ini menjadi prioritas utama meski saat ini progres fisik baru mencapai sekitar 15 persen dari total rencana besar yang ditetapkan.
Iya menjelaskan, pengembangan tidak hanya menyasar infrastruktur, tetapi juga aksesibilitas. Saat ini, pembangunan jalur akses sepanjang 1 kilometer sedang dikerjakan guna mempermudah mobilitas masyarakat dan distribusi hasil produksi sagu ke pasar. Selain jalan, sejumlah fasilitas pendukung seperti spot istirahat juga akan dibangun untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan.
Dalam prosesnya, Pemerintah Negeri menghadapi tantangan terkait anggaran dan pemilihan material bangunan. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, penggunaan kayu akan dievaluasi dan diganti dengan materi alternatif yang lebih tahan lama namun tetap ekonomis. Langkah ini diambil guna menjamin keberlangsungan fasilitas ekowisata dalam jangka panjang.
“Kami berkomitmen terus bekerja keras mencapai target. Hutan sagu memiliki potensi besar untuk mendukung kehidupan masyarakat jika dikelola secara lestari,” ujar Reza
Kedepannya, hutan sagu Rutong diproyeksikan tidak hanya sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai sumber pendapatan daerah melalui skema karbon kredit. Integrasi antara pelestarian alam dan pemanfaatan ekonomi ini, diharapkan menjadi model pengelolaan hutan adat yang modern di Kota Ambon.
Selain itu jelas Raja Negeri Rutong, pemerintah Negeri Gandeng Mitra Internasional,untuk Kembangkan Konservasi Bahari Berbasis Karbon, dimana Negeri Rutong mulai menjajaki teknologi konservasi laut modern untuk memperkuat potensi wisata bahari dan menjaga ekosistem pesisir. Salah satunya langkah strategis yang diambil adalah menjalin kerja sama dengan pihak Bluesting dari Kolombia untuk melakukan uji coba pengembangan terumbu karang (coral) dan pemanfaatan alga merah di perairan setempat.
Reza menyebut konservasi ini mengkombinasikan aturan adat (Sasi) dengan teknologi terkini. Fokus utamanya adalah perlindungan hutan mangrove adat yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-10. Mangrove tersebut memegang peranan vital sebagai benteng pantai sekaligus habitat biota laut yang bernilai ekologis tinggi.
“Teknologi alga merah yang kita uji coba tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem bawah laut, tetapi juga berfungsi menyerap karbon dioksida (CO2) secara efektif,” kata Reza alga ini membuka peluang bagi Negeri Rutong untuk mendapatkan pendapatan tambahan melalui sistem kredit karbon global.
Selain alga, upaya restorasi terumbu karang diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata bawah laut Rutong. Dengan ekosistem yang sehat, wisatawan akan disuguhi pemandangan alam yang asri, sementara masyarakat lokal mendapatkan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Strategi ini dirancang untuk memberikan manfaat ganda: melindungi lingkungan laut dari dampak perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga. Reza optimistis, perpaduan antara kearifan lokal Mangrove Adat dan teknologi internasional akan menjadikan Rutong sebagai pionir konservasi bahari di Maluku.(EM)