Penguatan Budaya Literasi Dapat Meningkatkan Keilmuan Dan Karakter Santri

Penguatan Budaya Literasi Dapat Meningkatkan Keilmuan Dan Karakter Santri
Promovendus Ahmad Zuhdi saat memaparkan disertasi dihadapkan Tim penguji, (foto Spektroom/Asmari)

Jakarta-Spektroom:Pengguatan Budaya Literasi Di Kalangan Santri Dalam Meningkatkan Keilmuan Dan Karakter Di Pesantren
Disertasi promovendus Ahmad Zuhdi tersebut sebagai salah satu syarat ujian terbuka guna memperoleh gelar doktor pendidikan Agama Islam program doktor pascasarjana Universitas Islam Jakarta

Penelitian yang dilakukan oleh promovendus Ahmad Zuhdi untuk mengeksplorasi budaya literasi di pesantren, menganalisis relasi keilmuan dan karakter yang dihasilkan melalui literasi dan mengformulasi konsep budaya literasi. Latar belakang penelitian berangkat dari disparitas yang cukup dalam. Ada negara dengan budaya literasi mencapai 100 persen seperti Finlandia dan Norwegia.

" Penelitian tersebut dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk mengeksplorasi secara mendalam esensi pengalaman hidup santri terkait literasi dilingkungan pesantren. Pemilihan pesantren Persis 99 Rancabango di Garut sebagai sumber primer dan pondok pesantren Daarul Rahman di Jakarta sebagai lokus sekunder didasari oleh karakteristik unik keduanya. " Jelas Promovendus Ahmad Zuhdi,selasa (14/7/2026)

Ahmad Zuhdi berpose bersama Tim penguji sidang Doktor PAI ( spektroom/asmari)


Dikatakan hasil penelitian menunjukkan semakin kuat budaya literasi yang terintegrasi dengan saintifikasi ilmu ilmu agama maka semakin tinggi pula kualitas keilmuan dan karakter yang terbentuk. Semakin santri literat, maka akan semakin luhur keilmuan dan aklaqnya, serta memberikan inspirasi dan kebaikan bagi orang lain.

" Sebab pengetahuan yang benar akan menuntun pada tindakan yang benar. Rumusan definisi dan pengkajian teori ini penulis istilahkan dengan nama Literasi progresif, penemuan teori tersebut sejalan dengan Harvey J. Graff. Penelitian Olasehinde, John Dewey, Ahmad Sangid Aku Muhdi, Muhammad Abdul Manan dan Mahmudi Bajuri. " Ujar Ahmad Zuhdi

Lebih lanjut Ia mengatakan, dalam proses budaya leterasi biasa, seperti membaca, berdebat dari situ lahir konektif intelektual, bertanya, kemudian bernalar dari proses konektif ini kemudian santri melakukan sertifikasi terhadap ilmu ilmu agama yang biasa diajarkan, seperti wudhu dengan menggunakan debu apa manfaatnya, kemudian santri menggali ajaran-ajaran fikih, hadis yang biasa diajarkan, santri melahirkan obyektivitas sifat kedalaman ilmu, akhirnya santri memiliki kematangan ilmu dan menjadi wujud Akhlaqulkarima.

" Doktor Ahmad Zuhdi merupakan alumini ke 90 disertasinya memberi warna baru pada literasi di pesantren diharapkan dengan adanya novelty ada disertasi menjembatani bagaimana pesantren pesantren itu mendapatkan keilmuan sesuai ers digitalisasi Ujar Rektor UIJ Prof. Raihan .

Ketua prodi program Doktor UIJ Prof. Dede Rosyada, mengungkapkan disertasi Ahmad Zuhdi, sangat bagus literasinya dikembangkan literasi digital, dan wawasan anak anak pesantren itu kedepan jauh lebih baik bisa juga dipakai oleh pesantren yang lain, bangsa ini diwarnai sebagai pejabat publik, PNS, pengusaha, sebagai politikus dsbnya, bangsa ini lebih terwarnai oleh strata sosial.

Tim penguji sidang Doktor yang terdiri dari 7 orang Profesor datusatu diantaranya guru besar UIN Prof. Ahmad Thib Raya,menyatakan Ahmad Zuhdi dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan berhak menyandang gelar doktor Pendidikan Agama Islam

Berita terkait

Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp136 Juta untuk 211 Warga Rentan di Sawahlunto

Kemensos Salurkan Bantuan ATENSI Rp136 Juta untuk 211 Warga Rentan di Sawahlunto

Sawahlunto–Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia menyalurkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) senilai Rp136 juta kepada kelompok masyarakat rentan di Kota Sawahlunto. Penyaluran bantuan tersebut berlangsung pada Kamis (30/7/26) dan dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sawahlunto Rovanly Abdams, mewakili Wali Kota Sawahlunto. Program ATENSI

Riswan Idris, Rafles