Peran Koperasi CooSAE, Dari Kios Pasar ke Ritel Modern, Kentang Sam Rere Tembus Supermarket
Batu-Spektroom: Transformasi usaha kentang di Kota Batu kian nyata. Dari kios sederhana di Pasar Sayur Batu, produk kentang milik Fahresa Maulana alias Sam Rere kini berhasil menembus jaringan ritel modern, termasuk supermarket Super Indo Surabaya.
Keberhasilan ini tak lepas dari peran Koperasi CooSAE yang menjadi penghubung antara petani dan pasar modern melalui sistem pembinaan dan pendampingan terintegrasi.
Sam Rere mengungkapkan, dirinya memulai usaha kentang dengan meneruskan bisnis sang kakek pada 2016 setelah lulus kuliah. Saat itu, pemasaran masih terbatas secara mandiri melalui jalur online dan pasar tradisional.
“Dulu kami hanya kirim antar kota seperti Blitar, bahkan pernah sampai NTT sekitar 6–7 ton, tapi belum rutin. Tidak pernah terpikir bisa masuk supermarket,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Perubahan signifikan terjadi setelah ia bergabung dengan Koperasi CooSAE. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, ia mulai memahami pentingnya standar kualitas, manajemen usaha, serta pola distribusi yang sesuai dengan kebutuhan pasar modern.
“Banyak yang kami pelajari, terutama soal SOP dan cara sortir yang benar. Ini yang membuat kami bisa memenuhi standar supermarket,” katanya.
Untuk bisa masuk ritel modern, kentang harus memenuhi persyaratan ketat. Produk wajib memiliki kualitas fisik prima, tidak lecet, tidak berwarna hijau, serta tidak terpapar sinar matahari langsung. Ukuran juga distandarkan, yakni satu kilogram berisi sekitar 7–10 butir dengan berat 150–230 gram per kentang.
Selain itu, kentang harus melalui proses pencucian, pengeringan, dan dikemas maksimal 20 kilogram per karung sebelum didistribusikan.
Pada tahap awal, pengiriman masih bersifat uji coba dengan volume sekitar 500 kilogram. Namun, peluang pengembangan dinilai sangat besar.
Di tingkat petani, harga kentang jenis granola ukuran besar berada di kisaran Rp11.000 per kilogram, sementara ukuran kecil Rp7.000–Rp8.000. Setelah melalui proses sesuai standar ritel modern, harga jual meningkat hingga sekitar Rp13.000 per kilogram.
CEO CooSAE Batu, Rakhmad Hardiyanto atau Hardi, menegaskan bahwa koperasi yang dipimpinnya tidak hanya berfungsi sebagai wadah, tetapi sebagai penggerak ekosistem pertanian modern.
“Fokus kami meningkatkan kesejahteraan petani melalui teknologi, inovasi, dan kolaborasi. Jadi bukan sekadar koperasi biasa,” ujarnya.
Melalui konsep inclusive closed loop, CooSAE menghubungkan petani dari hulu hingga hilir. Petani tidak hanya menanam, tetapi juga mendapatkan akses pasar, pendampingan usaha, hingga dukungan teknologi. Produk anggota kini mulai masuk ritel modern dan bahkan menjajaki pasar ekspor, termasuk pengiriman awal ke Singapura.
Di sisi lain, tantangan tetap ada. Kentang yang masuk ritel modern harus dalam kondisi bersih, sementara sebagian konsumen pasar tradisional justru lebih menyukai kentang yang masih “kotor” karena dianggap lebih alami.
Perbedaan preferensi ini mendorong petani untuk lebih adaptif. Kentang yang tidak memenuhi standar supermarket tetap dimanfaatkan melalui pengolahan menjadi produk turunan seperti keripik dan kentang beku, sehingga tetap memberikan nilai tambah.
Distribusi kentang Batu sendiri telah menjangkau berbagai wilayah, mulai dari Jawa Timur hingga luar pulau seperti Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur dengan kapasitas mencapai sekitar 7 ton per pengiriman.
Permintaan kentang diperkirakan meningkat menjelang akhir tahun, khususnya pada periode Oktober hingga Desember, yang menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan produksi.
Ke depan, Sam Rere berharap kolaborasi bersama CooSAE dapat terus berkembang dan diperluas ke komoditas lain.
“Harapan kami bisa konsisten memasok ke supermarket dan memberikan dampak langsung bagi petani. Semakin banyak permintaan, semakin besar manfaatnya,” tuturnya.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara petani dan koperasi mampu mendorong transformasi pertanian. Dari kios pasar tradisional hingga rak supermarket modern, kentang Batu kini hadir sebagai komoditas unggulan yang siap bersaing di pasar yang lebih luas.