Perang Sunyi dari Pedalaman Kalimantan: Ketika Rakyat Landak Menumpahkan Darah demi Merah Putih

Perang Sunyi dari Pedalaman Kalimantan: Ketika Rakyat Landak Menumpahkan Darah demi Merah Putih
Syafaruddin Daeng Usman Ketua Umum DHD BPK 45 Kalbar bersama pengurus Mada Legiun Veteran PKRI Kalbar Drs H Rusman Chamili dalam rangka HUT 81 Indonesia. (Foto : Dok Pribadi)

Oleh: Syafaruddin Daeng Usman

Landak - Spektroom : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Namun bagi masyarakat Landak, wilayah pedalaman Kalimantan Barat yang saat itu terisolasi dari pusat informasi, kabar kemerdekaan tidak serta-merta tiba. Ketika berita itu akhirnya sampai, semangat mempertahankan republik yang baru lahir justru menyala dengan dahsyat.

Perlawanan rakyat Landak bermula dari gerakan bawah tanah yang menentang kembalinya kekuasaan Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Di garis depan berdiri Gusti Mohammad Appandie Ranie Pangeran Mangkubumi Setia Negara, wakil raja Kerajaan Landak yang secara tegas menolak pemerintahan kolonial.

Pada Maret 1946, tokoh-tokoh Landak membentuk Persatuan Rakyat Indonesia (PRI). Organisasi ini menjadi wadah perjuangan politik yang menggalang dukungan rakyat terhadap Republik Indonesia. Melalui berbagai kegiatan penerangan, PRI menanamkan pemahaman tentang arti kemerdekaan dan pentingnya mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Situasi kemudian berubah. Pada Oktober 1946, PRI bertransformasi menjadi organisasi revolusioner bernama Gerakan Rakyat Merdeka (Geram). Organisasi ini diperkuat para bekas anggota Heiho dan Seinendan yang memiliki pengalaman militer pada masa pendudukan Jepang. Tujuannya jelas: mengusir NICA dan KNIL serta menegakkan kekuasaan Republik Indonesia di Landak.

Puncak perlawanan terjadi pada malam 9 Oktober hingga dini hari 10 Oktober 1946. Dalam sebuah rapat rahasia di Ngabang, para pemimpin Geram menyusun rencana serangan terhadap tangsi KNIL, pos polisi NICA, dan rumah kontrolir Belanda.

Sebelum serangan dimulai, jaringan telepon Ngabang lebih dulu diputus oleh para simpatisan Geram. Tepat dini hari, kelompok pejuang dari Ngabang, Air Besar, Menyuke, Darit, hingga Sengah Temila bergerak menyerang.

Pertempuran berlangsung sengit. Dengan persenjataan yang jauh lebih sederhana dibanding pasukan kolonial, para pejuang tetap bertahan. Salah satu momen heroik terjadi ketika Ya' Nasri Osman atau Ya' Dedeh berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di halaman kantor pemerintahan NICA di Ngabang.

Namun kekuatan tidak seimbang. Setelah kehabisan amunisi, pasukan Geram terpaksa mundur dan melanjutkan perjuangan melalui perang gerilya di pedalaman Landak.

Di Sidas, tragedi berdarah terjadi. Saat berlangsung upaya perundingan, pasukan KNIL melepaskan tembakan ke arah laskar Geram. Sedikitnya puluhan pejuang gugur dalam insiden tersebut. Sementara itu, operasi pengejaran terus dilakukan Belanda ke berbagai wilayah, termasuk Sengah Temila dan Ngabang.

Rumah-rumah tokoh pergerakan dibakar. Keluarga pejuang ditangkap. Banyak tokoh Geram akhirnya dipenjara di Sungai Jawi, Pontianak. Sebagian meninggal akibat penyiksaan, penyakit, maupun hukuman yang dijatuhkan pemerintah kolonial.

Salah satu kisah paling menggetarkan datang dari Bardan Nadi Sutrisno. Saat menjalani hukuman mati pada 17 April 1947, ia menolak matanya ditutup. Sebelum regu tembak melepaskan peluru, ia meminta izin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan meneriakkan pekik “Merdeka”. Permintaan itu dikabulkan. Sesaat kemudian, tubuhnya roboh diterjang peluru, namun semangat perjuangannya tetap hidup dalam ingatan rakyat Landak.

Perlawanan rakyat Landak mungkin tidak seterkenal Pertempuran Surabaya atau Bandung Lautan Api. Namun pengorbanan yang mereka berikan tidak kalah besar. Dari Ngabang, Sidas, Darit hingga Sengah Temila, darah para pejuang mengalir untuk mempertahankan republik yang baru berdiri.

Delapan puluh satu tahun setelah Indonesia merdeka, kisah perjuangan rakyat Landak menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hadiah. Ia ditebus dengan keberanian, penderitaan, dan pengorbanan hingga tetes darah terakhir.

Sekali merdeka, tetap merdeka.

(Syafaruddin Daeng Usman adalah Sejarawan Kalbar)

Berita terkait