Trending

Perhapi Soroti Risiko Ekspor Batu Bara Satu Pintu Lewat Danantara, Khawatir Ganggu Arus Kas Tambang

Perhapi Soroti Risiko Ekspor Batu Bara Satu Pintu Lewat Danantara, Khawatir Ganggu Arus Kas Tambang
Tambang Batubara Open Fit. (Foto: ilustrasi AI)

Jakarta-Spektroom : Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai rencana pemerintah menerapkan tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis melalui sistem satu pintu di bawah PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) berpotensi memunculkan persoalan baru di sektor pertambangan nasional.

Kebijakan yang akan mulai diterapkan bertahap pada Juni 2026 itu dinilai dapat memperpanjang rantai birokrasi ekspor, memperlambat proses pengapalan, hingga mengganggu arus kas perusahaan tambang apabila tidak diantisipasi dengan tata kelola yang kuat.

Ketua Umum Perhapi, Sudirman Widhy Hartono, dalam rilisnya kepada awak media, Sabtu (23/5/2026) mengatakan, pelaku usaha pertambangan mendukung langkah pemerintah dalam memperbaiki tata kelola ekspor dan menekan kebocoran devisa negara.

Namun, menurutnya, implementasi kebijakan tersebut harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap industri.

“Dengan sistem pengekspor tunggal, pelaku usaha khawatir birokrasi menjadi lebih panjang yang berpotensi menyebabkan kelambatan dalam proses pengapalan atau clearance dan penerimaan pembayaran,” kata Sudirman

Perhapi menilai kepastian waktu pencairan dana hasil ekspor menjadi faktor krusial bagi perusahaan pertambangan. Jika proses pembayaran melalui badan pengelola ekspor mengalami keterlambatan, maka likuiditas operasional perusahaan berpotensi terganggu.

“Perusahaan pertambangan membutuhkan kepastian waktu pencairan dana yang dialirkan oleh badan pengelola ekspor tersebut, yang jika tersendat dapat mengganggu likuiditas operasional penambangan,” tegas Sudirman.

Menurutnya, industri pertambangan memiliki kebutuhan operasional yang besar dan berkelanjutan, mulai dari biaya produksi, distribusi, pembayaran kontraktor, hingga penggajian tenaga kerja. Karena itu, keterlambatan arus dana dapat berdampak langsung terhadap aktivitas produksi.

Selain persoalan arus kas, Perhapi juga menyoroti potensi gangguan terhadap kontrak penjualan jangka panjang yang selama ini telah dimiliki perusahaan tambang dengan buyer luar negeri.

Peralihan mekanisme kontrak dari perusahaan swasta kepada BUMN melalui PT DSI dinilai berpotensi menimbulkan sengketa bisnis atau force majeure apabila proses transisi tidak berjalan mulus.

Perhapi meminta pemerintah memberikan masa transisi yang lebih longgar agar perusahaan memiliki cukup waktu menyelesaikan kontrak-kontrak lama sekaligus menyesuaikan diri dengan mekanisme baru.

“Dengan proses transisi yang lebih longgar jangka waktu periodenya, pemerintah dapat terus menerapkan kebijakan HBA dan HPB serta pengetatan pengawasan terhadap volume ekspor,” ujar Sudirman.

Perhapi juga mengingatkan bahwa pembentukan badan pengontrol ekspor belum tentu otomatis menghilangkan potensi kebocoran penerimaan negara jika tidak dibarengi sistem pengawasan yang ketat.

“Tanpa tata kelola dan pengawasan yang kuat serta sistem kontrol yang ketat, pembentukan badan pengontrol ekspor juga dikhawatirkan bukan memperbaiki keadaan tapi menimbulkan masalah baru yang bisa jadi justru lebih besar permasalahannya,” kata Sudirman.

Meski demikian, Perhapi menegaskan tetap mendukung langkah pemerintah untuk memperbaiki tata kelola ekspor nasional, memberantas praktik manipulasi ekspor, dan mengoptimalkan penerimaan negara.

“Kita semua tentu saja mendukung langkah pemerintah untuk upaya menekan kebocoran devisa dan memberantas praktik kecurangan ekspor serta mengoptimalkan penerimaan negara. Namun demikian kami berharap agar langkah yang diambil pemerintah jangan juga kemudian berpotensi menurunkan gairah di sektor industri pertambangan,” ungkapnya.

Pemerintah melalui BPI Danantara akan mulai menerapkan tata kelola ekspor komoditas SDA strategis secara bertahap mulai 1 Juni 2026.

Tahap pertama berlangsung pada periode 1 Juni hingga 31 Agustus 2026 yang dibagi dalam tiga skema, yakni pre-clearance, clearance, dan post-clearance.

Pada tahap pre-clearance, perusahaan masih menjalankan proses transisi pengurusan ekspor secara bertahap. Selanjutnya dalam tahap clearance, keterlibatan BUMN mulai diperluas dalam proses pengurusan ekspor.

Sedangkan pada tahap post-clearance, pemerintah mempersiapkan pengalihan penuh mekanisme ekspor kepada BUMN.

Selama masa transisi tersebut, perusahaan diwajibkan mulai mengalihkan transaksi ekspor kepada BUMN. Pada saat bersamaan, BUMN juga mulai menyiapkan kontrak dan transaksi dagang dengan buyer luar negeri sebelum implementasi penuh berlaku pada 1 September 2026.

Mulai 1 September 2026, pemerintah memasuki tahap implementasi penuh tata kelola ekspor SDA strategis.

Dalam skema tersebut, seluruh proses ekspor, mulai dari pre-clearance, clearance, hingga post-clearance dilakukan melalui mekanisme business to business (B2B) antara perusahaan swasta dengan BUMN.

Seluruh transaksi perdagangan ekspor-impor dengan buyer luar negeri nantinya dijalankan sepenuhnya oleh BUMN, termasuk pengurusan kontrak dagang dan kewenangan ekspor.

Pemerintah juga akan mengintegrasikan sistem tersebut melalui platform digital ekspor komoditas SDA strategis yang mulai aktif pada Januari 2027 di bawah pengelolaan BPI Danantara. (Ris1)

Berita terkait

Maluku Raih Terbaik Ketiga Nasional IPP 2025,  Lewerissa Persembahkan Penghargaan untuk Seluruh Rakyat dan Pemuda

Maluku Raih Terbaik Ketiga Nasional IPP 2025, Lewerissa Persembahkan Penghargaan untuk Seluruh Rakyat dan Pemuda

Ambon-Spektroom: Provinsi Maluku kembali menunjukkan capaian positif dalam pembangunan kepemudaan di tingkat nasional. Prestasi tersebut diperoleh melalui peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Tahun 2025, Maluku berhasil menempati posisi Terbaik Ketiga Nasional, sebuah prestasi yang mencerminkan kerja bersama pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat. Penghargaan ini diterima Gubernur Maluku, Hendrik

Yantje Lekatompessy, Pelinus Latuheru
Lantik 73 Pejabat Pengawas, Bupati Banyuwangi Minta Pejabat Berikan Pelayanan Terbaik Bagi Masyarakat

Lantik 73 Pejabat Pengawas, Bupati Banyuwangi Minta Pejabat Berikan Pelayanan Terbaik Bagi Masyarakat

Banyuwangi-Spektroom :  Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melantik 73 pejabat pengawas yang akan bertugas di kelurahan dan kecamatan, di Aula Rempeg Jogopati, Kamis malam (29/10/2026). Dalam sambutannya, Bupati Ipuk Fiestiandani meminta kepada seluruh jajaran kecamatan dan kelurahan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Seperti melayani dengan ramah dan senyuman,

Julianto
Jihan Nurlela Terima Penghargaan Tokoh Muda Di Bidang Kewirausahaan, JCI Batavia X SMESCO UMKM Business Summit 2026

Jihan Nurlela Terima Penghargaan Tokoh Muda Di Bidang Kewirausahaan, JCI Batavia X SMESCO UMKM Business Summit 2026

Jakarta - Spektroom: Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan pentingnya membangun ekosistem usaha yang mampu mempersiapkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Lampung untuk menembus pasar global. Selain meningkatkan kualitas produk, UMKM perlu memiliki pola pikir global, akses pasar, pembiayaan, pemenuhan standar, serta kapasitas produksi yang konsisten untuk memenuhi kebutuhan ekspor

Anggoro AP