Peringati 21 Tahun PP RRI, Pensiunan RRI Bandarlampung Bersilaturahmi Wisata ke Palembang
Spektroom - Meski bukan tradisi, seperti tahun tahun sebelumnya, Persatuan Pensiunan (PP) RRI Bandarlampung, memperingati hari ulang tahun ke-21 PP RRI, 16 Desember 2025, kali ini diisi dengan Bersilaturahmi Wisata ke provinsi tetangga, tepatnya di Kota Palembang wabilkhusus, RRI Palembang.
Disana, sekaligus mengikuti seremonial kegiatan peringatan dengan Pengurus Pusat PP RRI dari Auditorium Yusuf Ronodipuro, RRI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Barat 4&5 Jakarta.
Melalui momentum peringatan 21 tahun PP RRI ini, Ketua Pengurus Pusat PP RRI Anhar Achmad mengajak seluruh anggota PP RRI untuk terus membina solidaritas, persaudaraan, dan kekompakan.
Mantan Kepala RRI Bandarlampung itu, terus memperjuangkan aspek kesejahteraan anggota agar dapat dirasakan secara lebih merata dan berkelanjutan.
Anhar Achmad juga menekankan bahwa peningkatan kesejahteraan diharapkan mampu menjadi pendorong semangat bagi para pensiunan untuk terus berkarya.
Peringatan HUT ke-21 PP RRI Bandarlampung dan RRI Palembang ini dilaksanakan secara seremonial dan terhubung melalui zoom meet bersama pengurus pusat PP RRI.
Adapun tema yang diusung adalah “Penataan Organisasi Menuju Wiraswasta Mandiri.”
Di RRI Palembang Rombongan PP RRI Bandarlampung diterima sang Kepala RRI - Rahma Juwita beserta angkasawan angkasawati kota pempek tersebut di Studio Multi-purpose di jalan Radio 2, 20 Ilir empat Kota Palembang.

Usai giat seremonial, mumpung sedang di Kota Wong Kito Galo, Rombongan yang dipimpin Ketua PP RRI Bandarlampung Jarot Nursinggih tidak menyianyiakan kesempatan tersebut untuk berwisata di Ibukota Provinsi Sumatera Selatan ini.

Pilihan Destinasi jatuh kepada Bayt Al Qur'an Al Akbar, ya... sejatinya Palembang tidak hanya terkenal dengan jembatan ampera dan pempeknya, namun juga memiliki tempat wisata religi yang menakjubkan, Bayt Al Qur'an Al Akbar.

Karya monumental ini dianggap sebagai ukiran kaligrafi Islam terbesar di dunia dengan 30 juz Al-Qur'an, dan telah diakui oleh parlemen negara-negara Islam dan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Sejarah Al-Qur'an Al-Akbar berawal dari tekad seorang pengrajin kayu sekaligus penghafal Al-Qur'an bernama Haji Syofwatillah Mohzaib. Terinspirasi oleh kecintaannya terhadap kalam Ilahi dan tradisi ukir khas Palembang, dia bertekad untuk menciptakan karya monumental yang dapat menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang.(@Ng).