Trending

Peta Kejahatan Kota: Kasus Bilqis dan Jejak Crime Pattern Theory di Makassar

Opini Zul Kadir, SH., MH, Krimonolog /Dosen Fakultas Hukum IMI, disampaikan: M. Yahya Patta

Peta Kejahatan Kota: Kasus Bilqis dan Jejak Crime Pattern Theory di Makassar
Zul Khaidir Kadir, SH., MH. Kriminolog / Dosen Fakultas Hukum UMI Makassar

Spektroom - Namanya Bilqis. Umurnya empat tahun. Hari itu, di Taman Pakui Sayang, Makassar. Tertawa lepas, tanpa tahu bahwa ruang bermainnya akan berubah jadi arena penculikan. Hanya beberapa menit. Cukup untuk membuat sejarah kecil dalam hidup seorang anak, dan menampar kesadaran besar kita tentang keamanan ruang publik.

Foto Bilqis, balita yang diculik, dikutip dari FB

Rekaman CCTV kemudian beredar. Seorang perempuan dewasa menggandeng tangan Bilqis, melangkah keluar taman. Tidak ada teriakan. Tidak ada kepanikan. Orang-orang di sekitar mungkin mengira itu ibu dan anak. Itulah bagian paling menakutkan dari kejahatan modern. Sering terjadi tanpa drama.

Hari berganti. Berita menyebar cepat. Dari Makassar hingga Jambi. Ribuan kilometer jauhnya, akhirnya Bilqis ditemukan dalam keadaan selamat. Tapi di balik kelegaan itu, ada kegelisahan akademik yang tak bisa begitu saja diredam, bagaimana seorang anak bisa berpindah lintas provinsi tanpa sistem keamanan apa pun yang mendeteksinya?

Sebagai kriminolog, saya tidak melihat kasus ini sekadar penculikan anak. Ia adalah pola. Sebuah pola yang bisa dijelaskan melalui Crime Pattern Theory (CPT), teori yang dikembangkan oleh kriminolog Paul dan Patricia Brantingham. Teori ini berkata crime is not random. Kejahatan mengikuti peta kehidupan manusia. Ia terjadi di tempat yang kita kenal, di jalur yang kita lewati setiap hari, di sudut yang tampak biasa namun rapuh.

Brantingham menyebut kota sebagai “mental map of crime”. Tiap manusia memiliki rute tetap: dari rumah ke sekolah, dari taman ke jalan besar, dari area bermain ke tempat parkir. Pelaku juga bagian dari rutinitas itu. Mereka mengenali nodes (titik kegiatan), paths (jalur pergerakan), dan edges (batas wilayah antara aman dan rawan).

Dan di situlah Bilqis hilang, di sebuah "edge", batas antara ruang aman dan ruang terbuka. Antara taman kota dan jalan besar. Antara pengawasan orang tua dan seorang perempuan asing yang berjalan dengan percaya diri. Tidak ada sirine, tidak ada penjaga, tidak ada yang merasa aneh. Sebuah kejahatan berjalan dengan sangat “normal”.

Crime Pattern Theory menjelaskan bahwa pelaku bertindak di area yang mereka pahami, yang disebut awareness space. Di ruang itu, mereka tahu kapan pengawasan longgar, di mana titik buta kamera, dan bagaimana keluar tanpa menarik perhatian. Artinya, penculik Bilqis bukan hanya nekat, dia familiar dengan ruang itu. Dia membaca pola kota, seperti perampok membaca denah bank.

Lebih dari itu, perpindahan Bilqis dari Makassar ke Jambi menunjukkan tanda bahwa pelaku tidak bekerja sendiri. Dalam kacamata kriminologi, hal ini mengindikasikan "structured mobility crime" atau sebuah bentuk jaringan sosial kejahatan di mana pelaku dibantu oleh rantai logistik informal. Sopir, penyedia transportasi, atau perantara yang tidak sadar terlibat. Jaringan terbentuk di sepanjang paths antar-node, dan makin mudah berkembang di era mobilitas tinggi. Pelaku tidak bergerak sendiri, tapi dalam rantai sosial yang cair dan lintas kota. Ekosistem kriminal yang bergerak diam-diam mengikuti arus manusia dan barang di jalur antarkota.

Teori ini juga membawa pesan praktis. Pencegahan kejahatan harus dirancang seperti arsitektur. Dalam pencegahan kejahatan situasional atau Situational Crime Prevention ditekankan bahwa mengubah ruang bisa mengubah perilaku. Lampu yang lebih terang, pintu keluar yang terbatas, pos penjagaan di area bermain, jalur yang mudah diawasi. Semua itu bukan hal sepele, tapi strategi penurunan peluang kejahatan.

Dan sampai kita belajar membaca pola itu, sebelum pelaku berikutnya melangkah di jalur yang sama, setiap taman, setiap halte, setiap ruang publik akan tetap menyimpan kemungkinan yang sama, bahwa rasa aman kita hanyalah ilusi di antara dua "node" kehidupan. (Zul Khaidir Kadir)

Berita terkait

Maluku Raih Terbaik Ketiga Nasional IPP 2025,  Lewerissa Persembahkan Penghargaan untuk Seluruh Rakyat dan Pemuda

Maluku Raih Terbaik Ketiga Nasional IPP 2025, Lewerissa Persembahkan Penghargaan untuk Seluruh Rakyat dan Pemuda

Ambon-Spektroom: Provinsi Maluku kembali menunjukkan capaian positif dalam pembangunan kepemudaan di tingkat nasional. Prestasi tersebut diperoleh melalui peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Tahun 2025, Maluku berhasil menempati posisi Terbaik Ketiga Nasional, sebuah prestasi yang mencerminkan kerja bersama pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat. Penghargaan ini diterima Gubernur Maluku, Hendrik

Yantje Lekatompessy, Pelinus Latuheru
Lantik 73 Pejabat Pengawas, Bupati Banyuwangi Minta Pejabat Berikan Pelayanan Terbaik Bagi Masyarakat

Lantik 73 Pejabat Pengawas, Bupati Banyuwangi Minta Pejabat Berikan Pelayanan Terbaik Bagi Masyarakat

Banyuwangi-Spektroom :  Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melantik 73 pejabat pengawas yang akan bertugas di kelurahan dan kecamatan, di Aula Rempeg Jogopati, Kamis malam (29/10/2026). Dalam sambutannya, Bupati Ipuk Fiestiandani meminta kepada seluruh jajaran kecamatan dan kelurahan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Seperti melayani dengan ramah dan senyuman,

Julianto
Jihan Nurlela Terima Penghargaan Tokoh Muda Di Bidang Kewirausahaan, JCI Batavia X SMESCO UMKM Business Summit 2026

Jihan Nurlela Terima Penghargaan Tokoh Muda Di Bidang Kewirausahaan, JCI Batavia X SMESCO UMKM Business Summit 2026

Jakarta - Spektroom: Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan pentingnya membangun ekosistem usaha yang mampu mempersiapkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Lampung untuk menembus pasar global. Selain meningkatkan kualitas produk, UMKM perlu memiliki pola pikir global, akses pasar, pembiayaan, pemenuhan standar, serta kapasitas produksi yang konsisten untuk memenuhi kebutuhan ekspor

Anggoro AP