Pidato Ramadan Berbuah Prestasi Nasional, Dua Siswi MAN 1 Sukabumi Sabet Juara FESRANA III 2026
Sukabumi-Spektroom : Kabar membanggakan di akhir Ramadhan 1447 H, Dua siswi MAN 1 Kota Sukabumi meraih Juara 1 dan 2 lomba pidato Bahasa Indonesia dalam FESRANA III 2026. Pengumuman resmi dirilis Senin, 23 Maret 2026 yang lalu maka ucapan selamat dan apresiasi terus mengalir hingga hari pertama masuk sekolah pascalibur.
Prestasi nasional kembali ditorehkan siswa MAN 1 Kota Sukabumi dalam ajang Festival Ramadan Online Nasional (FESRANA) III 2026 yang diselenggarakan oleh BEM STAIFA Pamekasan, Madura. Kompetisi berlangsung selama Ramadan dan pemenangnya diumumkan secara resmi pada Senin, 23 Maret 2026.
Mengangkat tema “Ramadan sebagai Bulan Perubahan Diri”, dua siswi tampil kuat di panggung nasional. Rismayanti berhasil meraih Juara 1, sementara Lutfiah Nurul Afipah menyusul di posisi Juara 2.

Apresiasi langsung disampaikan Kepala MAN 1 Kota Sukabumi, Tatang Moh. Abdurahman, pada Senin, (30/03/2026) hari pertama aktivitas madrasah setelah libur Idulfitri.
“Ini bukan sekadar kemenangan lomba. Ini bukti bahwa proses pembinaan berjalan dan siswa mampu menjawab tantangan di level nasional,” tegasnya.
Ia menilai capaian tersebut sebagai momentum penting untuk menjaga ritme prestasi madrasah.
“Masuk hari pertama setelah libur, kita langsung disuguhi kabar baik. Ini energi positif untuk seluruh warga madrasah agar tidak cepat puas,” tambahnya.

Koordinator Keagamaan, Parhan Mustopa, menegaskan keberhasilan ini lahir dari latihan yang tidak instan.
“Anak-anak ini berproses. Mereka belajar memahami makna Ramadan, lalu menyampaikannya dengan kekuatan narasi. Itu yang membuat mereka menonjol,” ujarnya.
Bagi Rismayanti, kemenangan ini berangkat dari penghayatan, bukan sekadar teknik.
“Saya mencoba jujur pada diri sendiri saat menyusun pidato. Dari situ pesannya terasa lebih hidup,” katanya.
Lutfiah pun menilai pengalaman ini sebagai pijakan untuk naik level.
“Kompetisi nasional itu keras. Tapi justru di situ kita belajar berdiri lebih kuat dan membawa pesan yang jelas,” ucapnya.
Ramadan selesai, tapi gaungnya belum. Dari panggung pidato, dua siswi ini mengirim pesan sederhana: perubahan itu bukan wacana ia harus diucapkan, diperjuangkan, lalu dibuktikan. Prestasi jadi bonus, nilai yang dibawa itu yang utama. (Polin Dhamba)