PMI Asal Sanggau Terlantar di Kamboja, Diduga Diperas Oknum Petugas Bandara

PMI Asal Sanggau Terlantar di Kamboja, Diduga Diperas Oknum Petugas Bandara
Inilah Sosok Marianus Daniel Pekerja Migran Indonesia yang terlantar di Kamboja diduga diperas di Bandara saat mau pulang ke tanah air. (Foto: Marianus Daniel)

Spektroom - Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Marianus Daniel, dilaporkan terlantar di Phnom Penh, Kamboja, setelah diduga menjadi korban pemerasan oleh oknum petugas Bandara Internasional Phnom Penh.

Dugaan pemerasan itu berujung pada gagalnya kepulangan Marianus ke Indonesia meski telah mengantongi tiket resmi penerbangan.

Marianus, warga Dusun Mak Pompong, Desa Janjang, Kecamatan Tayan Hulu, mengungkapkan bahwa boarding pass miliknya sengaja ditahan oleh oknum petugas bandara pada Rabu, 3 Februari 2026.

Ia mengaku diminta uang tunai sebesar 200 dolar Amerika Serikat agar boarding pass tersebut bisa dicetak dan diserahkan.

“Saya diminta uang 200 dolar AS. Saya tidak punya uang sebanyak itu. Boarding pass tidak diberikan, saya terlambat, dan tiket saya hangus,” ujar Marianus saat memberikan keterangan dari Phnom Penh.

Padahal, Marianus telah memiliki tiket resmi Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH-763.

Rute kepulangan yang telah dijadwalkan yakni Phnom Penh–Kuala Lumpur pada 3 Februari 2026 pukul 18.30, dilanjutkan Kuala Lumpur–Kuching pada 4 Februari 2026 pukul 10.50, serta penerbangan terakhir Kuching - Pontianak pada malam hari di tanggal yang sama.

Seluruh rangkaian kepulangan itu gagal akibat tindakan oknum petugas bandara.

Kehilangan tiket dan tidak memiliki biaya tambahan, Marianus akhirnya mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja untuk meminta perlindungan serta bantuan pemulangan ke Tanah Air.

“Saya sekarang berada di KBRI Kamboja. Saya hanya ingin pulang ke Indonesia, bertemu keluarga,” tuturnya dengan suara lirih.

Informasi mengenai kondisi Marianus diterima dari sepupunya di Pontianak , Wak Jon, Sabtu (7/2/2026)

Ia berharap negara segera hadir memberikan perlindungan nyata terhadap warganya yang menjadi korban dugaan pemerasan di luar negeri.

“Kami berharap anggota DPR RI putra Dayak asal Kalimantan yang ada di Senayan juga bisa turun tangan untuk membantu. Kami juga memohon perhatian Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Bapak Muhtarudin, agar membantu kepulangan saudara kami,” kata Wak Jon.

Kasus ini menambah daftar panjang persoalan perlindungan PMI di luar negeri.

Dugaan praktik pemerasan, lemahnya pengawasan di bandara internasional, serta minimnya mekanisme perlindungan darurat kembali menjadi sorotan.

Hingga berita ini diturunkan, Marianus Daniel masih berada di KBRI Kamboja dan menunggu kepastian bantuan pemulangan, dengan harapan besar dapat segera kembali ke Indonesia secara aman dan bermartabat.

Berita terkait

Rumah Singgah Menjadi Tumpuan, Pasien Kanker Di Solo Dalam Menjalani Pengobatan Jangka Panjang

Rumah Singgah Menjadi Tumpuan, Pasien Kanker Di Solo Dalam Menjalani Pengobatan Jangka Panjang

Spektroom - Pendampingan pasien kanker khususnya anak anak terus dilakukan Yayasan Tunas Sehat Indonesia dengan menyediakan fasilitas pendukung terintegrasi. Fasilitas pendukung berupa rumah singgah menjadi layanan unggulan yang selama ini menjadi tumpuan para keluarga pasien yang menjalani pengobatan jangka panjang di Rumah Sakit. Pengurus Yayasan Tunas Sehat Indonesia, dr. Suci

Murni Handayani