Trending

Polisi Berhasil Amankan 4 Orang Terduga Penyembelih Tapir di Mesuji

#Repost tribratanewslanpung.polri .go.id

Polisi Berhasil Amankan 4 Orang Terduga Penyembelih Tapir di Mesuji
Keempat orang yang diamankan masing-masing berinisial KS (50), WS (30), TS (45), dan MPY (43), yang seluruhnya merupakan warga Register 45, Kecamatan Mesuji Timur. (Kolase Foto: Humas Polres Mesuji).

Mesuji - Spektroom: Jajaran Satreskrim Polres Mesuji berhasil mengungkap kasus dugaan penyembelihan satwa liar dilindungi jenis tapir di kawasan Hutan Register 45, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung.

Dalam pengungkapan tersebut, polisi mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam perburuan hingga penyembelihan satwa yang dilindungi undang-undang tersebut.

Pengungkapan kasus ini berawal dari laporan polisi Nomor: LP/A/08/VII/2026/SPKT/RES MESUJI/POLDA LAMPUNG, tertanggal 2 Juli 2026.

Para pelaku diduga melanggar Pasal 40A ayat (1) huruf d Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Satwa Dilindungi Tapir (Foto Humas Polres Mesuji).

Berdasarkan hasil penyelidikan, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (2/7/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. Awalnya seekor tapir terlihat berjalan di Jalan Lintas Timur Sumatera oleh seorang warga bernama Sugi. Tak lama kemudian satwa tersebut berlari menuju kawasan Hutan Register 45.

Sesampainya di kawasan hutan, tapir itu diduga dikejar oleh beberapa warga. Hewan tersebut kemudian ditombak, disembelih, lalu dipotong-potong hingga dagingnya dibagikan kepada warga sekitar.

Mendapat informasi tersebut, Kasat Reskrim Polres Mesuji bersama Tim Tekab 308 bergerak melakukan penyelidikan. Pada malam harinya sekitar pukul 22.55 WIB, petugas berhasil mengamankan empat orang terduga pelaku di lokasi yang berbeda.

Keempat orang yang diamankan masing-masing berinisial KS (50), WS (30), TS (45), dan MPY (43), yang seluruhnya merupakan warga Register 45, Kecamatan Mesuji Timur. Dari hasil pemeriksaan awal, masing-masing memiliki peran berbeda, mulai dari mengejar, menombak, menyembelih hingga menyediakan golok yang digunakan untuk menyembelih tapir.

Dalam pengungkapan perkara tersebut, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu rekaman video kondisi tapir setelah disembelih, satu bilah tombak patah, satu bilah golok, tulang-belulang, kulit, serta daging tapir yang telah diolah.

Tulang belulang, kulit, serta daging tapir yang telah diolah. (Foto humas polres Mesuji). Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol. Yuni Iswandari Yuyun menegaskan bahwa pengungkapan kasus ini merupakan bentuk komitmen Polda Lampung dalam menindak setiap tindak pidana terhadap satwa yang dilindungi.

"Polda Lampung bersama Polres Mesuji bergerak cepat menindaklanjuti informasi masyarakat hingga berhasil mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan satwa dilindungi jenis tapir," ujar Yuni, Jum'at (3/7/2026). Yuni menjelaskan, seluruh pelaku kini telah diamankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Saat ini para terduga pelaku beserta barang bukti telah diamankan. Penyidik masih terus melengkapi alat bukti dan mendalami keterlibatan pihak lain apabila ditemukan dalam proses penyidikan," kata Yuni.

Yuni menegaskan bahwa satwa liar yang masuk kategori dilindungi tidak boleh diburu, dibunuh maupun diperdagangkan karena memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

"Perburuan terhadap satwa yang dilindungi merupakan tindak pidana. Negara memberikan perlindungan terhadap satwa liar demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati," tambahnya. Kabid Humas juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan aktif menjaga satwa liar dan segera melaporkan apabila menemukan dugaan tindak pidana serupa. "Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan perburuan terhadap satwa yang dilindungi. Apabila menemukan kejadian serupa, segera laporkan kepada pihak kepolisian atau instansi terkait agar dapat segera ditindaklanjuti," tegas Yuni. Saat ini penyidik Satreskrim Polres Mesuji masih melengkapi administrasi penyidikan, menggelar perkara, melakukan penahanan terhadap para tersangka, serta menyiapkan berkas perkara untuk selanjutnya dilimpahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) (@Ng).

Berita terkait

Operasi Patuh Salawaku Hari ke-9,  35 Pengendaara Diberikan Teguran Simpatik dan 5 Ditilang

Operasi Patuh Salawaku Hari ke-9, 35 Pengendaara Diberikan Teguran Simpatik dan 5 Ditilang

Ambon-Sektroom : Polda Maluku terus mengintensifkan upaya meningkatkan disiplin dan kepatuhan masyarakat dalam berlalu lintas melalui Operasi Patuh Salawaku 2026. Memasuki hari kesembilan pelaksanaan operasi, Selasa (3/11/2026), personel gabungan menegur secara lisan 35 pengendara dan memberikan tindakan berupa tilang kepada lima pengendara kendaraan roda dua maupun roda empat

Eva Moenandar, Rafles
UIN Saizu Purwokerto Tembus QS World University Rankings Asia 2027, Perkuat Reputasi Internasional

UIN Saizu Purwokerto Tembus QS World University Rankings Asia 2027, Perkuat Reputasi Internasional

Purwokerto-Spektroom : Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto untuk pertama kalinya masuk dalam daftar new entrant QS World University Rankings: Asia 2027. Capaian ini menjadi langkah awal bagi kampus tersebut untuk memperluas pengakuan internasional sekaligus meningkatkan daya saing di kawasan Asia. Pemeringkatan yang diumumkan lembaga

Bian Pamungkas
Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena: PKK Tidak Boleh Hanya Bergerak Ketika Menghadapi Perlombaan

Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena: PKK Tidak Boleh Hanya Bergerak Ketika Menghadapi Perlombaan

Ambon-Spektroom : Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena menegaskan gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) tidak boleh hanya bergerak ketika menghadapi perlombaan. Lebih dari itu, PKK harus menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu memperkuat ketahanan keluarga sekaligus menjawab berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat, mulai dari penyalahgunaan narkoba, HIV/AIDS hingga

Eva Moenandar, Rafles