Polri Panen Jagung 6,4 Ton per Hektare di Ketapang
Ketapang - Spektroom: Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, panen jagung hibrida di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menunjukkan hasil menggembirakan.
Dari lahan seluas 1 hektare di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, produktivitas jagung diproyeksikan mencapai 6,4 ton per hektare.
Capaian itu terungkap dalam kegiatan panen yang dipantau langsung jajaran Polsek Matan Hilir Utara, Rabu (8/7/2026).
Kehadiran aparat kepolisian di lokasi menjadi bagian dari dukungan terhadap program strategis pemerintah untuk memperkuat swasembada pangan nasional.
Panen berlangsung di lahan milik PT Kale (FR Group) dengan melibatkan unsur kepolisian, perusahaan, dan masyarakat.
Selain memantau proses pemanenan, petugas juga melakukan pengubinan atau pengukuran sampel hasil panen guna mengetahui tingkat produktivitas lahan secara akurat.
Dari petak sampel berukuran 2,5 meter x 2,5 meter, diperoleh sekitar 4 kilogram jagung.
Hasil penghitungan kemudian menunjukkan potensi produksi mencapai sekitar 6,4 ton per hektare, angka yang dinilai cukup menjanjikan untuk mendukung peningkatan produksi pangan daerah.
Kapolsek Matan Hilir Utara IPTU Ruswanto mengatakan sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
"Ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama.
Polri hadir untuk mendukung dan memastikan berbagai program pertanian dapat berjalan dengan baik sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.
Meski hasil panen menunjukkan produktivitas yang cukup tinggi, proses pascapanen masih menjadi perhatian.
Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, kadar air jagung masih berada di angka 24 % sehingga memerlukan proses pengeringan sebelum dipasarkan.
Panen berlangsung selama 2 hari. Keberhasilan tersebut diharapkan menjadi pemicu bagi petani lain untuk mengembangkan budidaya jagung hibrida yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus mendukung kebutuhan pangan nasional.
Di tengah tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks, kolaborasi antara aparat kepolisian, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci menjaga produktivitas pertanian.
Jika pola kemitraan seperti ini terus diperkuat, bukan hanya ketahanan pangan yang terjaga, tetapi juga kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah dapat meningkat secara berkelanjutan.