Poltekkes Surabaya Terapkan Biopori Jumbo dan Sumur Resapan, Tekan Kasus DBD
Surabaya-Spektroom : Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Surabaya menggandeng kader kesehatan, Posyandu, dan Karang Taruna, untuk memanfaatkan teknologi tepat guna dalam mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD). Upaya ini merupakan wujud dari program pengabdian kepada masyarakat bertajuk "Revitalisasi Kader Kesehatan dalam Pencegahan DBD" di Kelurahan Jambangan, Kota Surabaya, Sabtu (13/6/2026).
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Surabaya, Fitri Rochmalia, mengatakan program tersebut lahir sebagai respons terhadap tingginya potensi DBD di wilayah Jambangan yang juga kerap mengalami banjir saat musim hujan.
"Kami sebagai institusi pendidikan memiliki kewajiban melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya melalui pengabdian kepada masyarakat. Melalui program Revitalisasi Kader Kesehatan dalam Pencegahan DBD, kami menerapkan teknologi tepat guna berupa biopori jumbo dan sumur resapan sebagai upaya mengurangi banjir sekaligus menekan risiko peningkatan kasus DBD," ujarnya.
Menurut Fitri, sumur resapan yang dibangun memiliki berbagai fungsi. Selain meningkatkan daya serap air ke dalam tanah dan menjadi cadangan air saat musim kemarau, fasilitas tersebut juga dimanfaatkan masyarakat sebagai media budidaya ikan lele.
"Budidaya lele ini memberikan manfaat ekonomi karena hasilnya dapat diolah menjadi berbagai produk pangan seperti nugget maupun olahan lainnya. Jadi manfaat program ini tidak hanya untuk kesehatan lingkungan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan masyarakat," katanya.
Selain membangun infrastruktur lingkungan, Poltekkes Kemenkes Surabaya juga memperkuat kapasitas kader kesehatan melalui pelatihan dan pendampingan. Kader dibekali kemampuan melakukan edukasi dari rumah ke rumah, menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), menyelenggarakan kelas ibu balita, hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye pencegahan DBD.
Fitri menambahkan, pembangunan sumur resapan saat ini telah direalisasikan di beberapa RT di Kelurahan Jambangan dan akan diperluas secara bertahap ke kawasan lain yang masih rawan banjir. "Kami berharap teknologi sederhana ini dapat diterapkan lebih luas sehingga masyarakat semakin mandiri dalam menjaga kesehatan lingkungan sekaligus mencegah DBD," ujarnya.
Sementara itu, Lurah Jambangan Sanni Noerna Safaah mengatakan teknologi biopori jumbo yang diterapkan melalui program tersebut memberikan manfaat yang lebih luas dibandingkan biopori biasa. "Selain sebagai sumur resapan untuk mengurangi genangan air, biopori jumbo juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat budidaya lele. Bahkan apabila dilengkapi pompa portabel, air yang tersimpan dapat digunakan sebagai sumber air untuk penanganan awal kebakaran," katanya.
Ia menambahkan, inovasi tersebut sangat relevan diterapkan di Jambangan yang dilintasi Sungai Brantas dan masih memiliki beberapa titik rawan banjir. Melalui program "Revitalisasi Kader Kesehatan dalam Pencegahan DBD", Poltekkes Kemenkes Surabaya menargetkan Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kelurahan Jambangan meningkat dari 89 persen menjadi 95 persen, penurunan kasus DBD hingga 30 persen, serta semakin kuatnya peran kader kesehatan dan masyarakat dalam pencegahan DBD berbasis komunitas. (Yul/hjr)