Prof. Dr. Triyo Supriyatno: Idul Adha Harus Menjadi Gerakan Solidaritas Global di Tengah Krisis Kemanusiaan

Prof. Dr. Triyo Supriyatno: Idul Adha Harus Menjadi Gerakan Solidaritas Global di Tengah Krisis Kemanusiaan
Prof.Dr.Triyo Supriyatno M.Ag wakil rektor UIN Malang ( foto : ist )

Malang- Spektroom : Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Triyo Supriyatno, menegaskan bahwa momentum Idul Adha 1447 Hijriah harus dimaknai lebih luas sebagai gerakan solidaritas global di tengah meningkatnya krisis kemanusiaan dunia.

Menurut Prof. Triyo, Hari Raya Idul Adha tidak hanya identik dengan ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang pengorbanan, empati, dan kepedulian sosial terhadap sesama manusia.

“Qurban adalah madrasah kemanusiaan yang mengajarkan keikhlasan, solidaritas, dan keberanian berbagi di tengah berbagai kesulitan hidup,” ujarnya dalam refleksi Idul Adha yang disampaikan di Malang.

Ia menjelaskan, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi simbol ketaatan total kepada Allah SWT sekaligus mengandung nilai universal tentang pentingnya pengorbanan demi kemaslahatan yang lebih besar.

Prof. Triyo mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa hakikat qurban bukan terletak pada darah maupun daging hewan semata, melainkan pada ketakwaan dan nilai kemanusiaan yang lahir dari ibadah tersebut.

Menurutnya, qurban merupakan latihan spiritual untuk membebaskan manusia dari sifat egoisme, keserakahan, dan kecintaan berlebihan terhadap materi.

“Semangat qurban harus melahirkan kepedulian terhadap kaum dhuafa, korban bencana, pengungsi perang, hingga masyarakat yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakadilan,” katanya.

Ia menilai, kondisi dunia saat ini yang diwarnai perang, konflik sosial, kelaparan, dan krisis kemanusiaan membuat nilai-nilai Idul Adha semakin relevan untuk dihidupkan kembali dalam kehidupan masyarakat modern.

Prof. Triyo menegaskan bahwa qurban sejati bukan hanya menyembelih hewan, melainkan juga “menyembelih” sifat individualisme dan ketidakpedulian sosial yang semakin menguat di era modern.

“Dunia hari ini membutuhkan lebih banyak hati yang peduli, lebih banyak jiwa yang rela berbagi, dan lebih banyak manusia yang menjadikan agama sebagai jalan kasih sayang dan perdamaian,” tegasnya.

Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa seseorang belum sempurna imannya hingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.

Menurut Prof. Triyo, hadis tersebut memperlihatkan bahwa kualitas keimanan seseorang tidak hanya diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan manfaat dan kepedulian bagi sesama manusia.

Karena itu, ia berharap momentum Idul Adha dapat memperkuat budaya filantropi dan solidaritas sosial di tengah masyarakat Indonesia maupun dunia internasional.

“Ketika ada manusia yang terluka, di situlah panggilan kemanusiaan harus dijawab. Ketika ada kelaparan, di situlah tangan-tangan kepedulian harus bergerak,” pungkasnya.

Berita terkait

Prabowo Kumpulkan 2.600 Rektor dan Dosen, Tegaskan Investasi Terbaik Bangsa Ada pada Ilmu Pengetahuan dan SDM

Prabowo Kumpulkan 2.600 Rektor dan Dosen, Tegaskan Investasi Terbaik Bangsa Ada pada Ilmu Pengetahuan dan SDM

Jakarta-Spektroom : Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi membuka Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (26/6/2026). Forum yang dihadiri sekitar 2.600 rektor, guru besar, dekan, dan dosen dari perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta

Riswan Idris, Rafles