Protein Ikan Menempati Kasta Tertinggi Semua Bahan Pangan
Bandarlampung - Spektroom: Politeknik Negeri Lampung (Polinela) terus berkomitmen memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan vokasi di bidang pertanian, perikanan, dan kelautan. Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, Polinela melalui Jurusan Perikanan dan Kelautan membuka Program Studi Teknologi Akuakultur.
Dengan hadirnya Program Studi Teknologi Akuakultur, Politeknik Negeri Lampung menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan berkontribusi aktif dalam mencetak generasi unggul di sektor kelautan dan perikanan.
Hal itu dikemukakan Dosen Jurusan Perikanan dan Kelautan Politeknik Negri Lampung Nur Indariyanti pada rangkaian kegiatan Seminar Polinela Innovation Expo 2026 bertajuk Inovasi dan Teknologi Perikanan dan Kelautan, Menuju Industri Perikanan Tangguh dan Berkelanjutan, bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela, di Bandarlampung, Kamis (16/4/2026).
"Seperti kita ketahui disektor perikanan, Indonesia sangat potensial, baik laut maupun darat, sementara protein Ikan menempati kasta tertinggi bahan pangan" ujarnnya menjelaskan.
Meskipun memiliki potensi besar, sektor perikanan di Indonesia menghadapi beberapa tantangan, seperti penyakit dan Kerusakan lingkungan seperti pencemaran sungai, danau, dan kawasan pesisir mengancam kelestarian sumber daya perikanan.
"Jadi untuk mengelola potensi perikanan yang melimpah tersebut, kita membutuhkan SDM yang akan mengelola, sehingga kita membuka Program Studi Teknologi Akuakultur" terang Nur Indariyanti.

Untuk itulah, terus Nur Indrayanti, diera digitalisasi Transformasi digital pengelolaan perikanan mengadopsi teknologi Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan sistem berbasis data (e-logbook) untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan.
"Langkah ini mengubah pengelolaan dari pendekatan konvensional menjadi berbasis kuota yang terukur" tandasnya lagi.
Saat ini memberi makan ikan tidak perlu lagi secara manual dengan tangan namun menggunakan automatic feeder serta mengukur kualitas air, tidak lagi dengan tenaga manusia. tidak perlu PH meter. Dengan adanya transformasi digital tadi, bisa menggunakan Gadget
"kita bisa mengkontrol semua itu dari HP, PH-nya rendah tentang sanitasnya dan sebagainya itu terkontrol. Sehingga itu akan lebih memudahkan kita. Makanya membutuhkan SDM-SDM yang nanti akan mengelola di situ" ujarnya lagi.
Menurutnya, Akuakultur adalah budidaya perairan baik air Tawar maupun laut, yang bertujuan untuk menyediakan sumber pangan. Kegiatan tersebut meliputi pemeliharaan dan pemanenan komoditas organisme air yang dibudidayakan.
Organisme air yang dapat dibudidayakan cukup beragam, mulai dari ikan, krustasea (udang, kepiting, lobster), kerang-kerangan, rumput laut, hingga teripang.
"Media air yang digunakan dalam akuakultur pun menyesuaikan dengan habitat organisme sehingga sangat mungkin untuk menggunakan air tawar, air payau, maupun air laut" terang dia.
Selain DR. Nur Indrayanti, S.P M.Si, Seminar Polinela Innovation Expo 2026 bertajuk Inovasi dan Teknologi Perikanan dan Kelautan, Menuju Industri Perikanan Tangguh dan Berkelanjutan, juga menampilkan pembicara Dosen Perikansn Tangkap Denta Tirtana, S.P., M.Si. dan diikuti seratusan siswa SMK Perikanan di Bandarlampung.(@Ng).