Pusat Pemulihan Gizi Landak Tunjukkan Hasil Positif

Pusat Pemulihan Gizi

Pusat Pemulihan Gizi Landak Tunjukkan Hasil Positif
Pelayanan pemeriksaan anak anak balita di pusat pemulihan Gizi(PPG) kabupaten Landak.Foto : Sartiman

Spektroom - Upaya penanganan stunting melalui Pusat Pemulihan Gizi (PPG) Kabupaten Landak menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dalam kurun waktu sekitar 2 bulan berjalan, PPG berhasil meningkatkan status gizi dan berat badan anak yang sebelumnya masuk kategori gizi buruk dan gizi kurang.

Penanggung Jawab Gizi PPG Kabupaten Landak, Tri Hidayat, menjelaskan sejak mulai beroperasi, PPG telah menangani 4 pasien balita. Dari jumlah tersebut, 2 pasien menunjukkan progres signifikan setelah menjalani perawatan intensif.

“PPG ini sudah berjalan kurang lebih 2 bulan setelah diresmikan oleh Ibu Bupati. Kita sudah merawat 4 pasien, dan 2 diantaranya awalnya merupakan pasien rawat inap selama 1 - 2 minggu,” ujar Tri Hidayat saat diwawancarai, pada kamis (16/01/2026).

Pasien bernama Jason, yang saat pertama masuk PPG memiliki berat badan 7,6 kilogram. Setelah menjalani intervensi gizi dan pemantauan rutin, berat badannya meningkat hingga mencapai 8,8 kilogram, meski pada penimbangan terakhir berada di kisaran 8,5–8,6 kilogram.

Sementara itu, pasien lainnya bernama Meko mengalami peningkatan berat badan dari 10,9 kilogram saat awal masuk menjadi sempat 11,5 kilogram di Posyandu, dan terakhir tercatat 11,3 kilogram.

PPG menjadi ruang edukasi bagi keluarga agar kebiasaan sehat dapat diterapkan secara berkelanjutan di rumah. Perkembangan kedua pasien tersebut terus dipantau secara rutin. PPG memiliki target intervensi yang jelas, yakni perubahan status gizi, dari gizi buruk menjadi gizi kurang, atau dari gizi kurang menjadi gizi baik.

Terkait mekanisme rujukan, Tri menyampaikan PPG bekerja sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) yang berlaku dan berkoordinasi dengan Puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Landak. Syarat itu di antaranya balita dengan status gizi buruk atau tidak mengalami kenaikan berat badan selama 3 bulan berturut-turut, dengan kondisi kesehatan yang stabil. Jika kondisi tidak stabil, pasien dirujuk terlebih dahulu ke rumah sakit.

“Durasi intervensi memang bervariasi. Awalnya dirancang sekitar 3 bulan, tetapi jika dalam 2 bulan sudah terjadi perubahan status gizi, maka intervensi bisa dihentikan dan pasien dinyatakan selesai,” pungkasnya.

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa mengatakan dibangunnya Pusat Pemulihan Gizi (PPG) Kabupaten Landak agar orang tua pasien didampingi petugas PPG yang standby hampir 24 jam, khususnya perawat.

Dengan memberikan edukasi seperti jadwal pemberian makanan utama, susu khusus gizi buruk, serta edukasi pengolahan makanan dilakukan secara terstruktur. Tidak hanya fokus pada intervensi gizi, PPG Landak juga menekankan perubahan perilaku keluarga pasien. Edukasi gizi seimbang, higiene sanitasi, hingga pola asuh anak menjadi bagian penting dalam program pemulihan.

Salah satu bukti diakui dirasakan oleh salah seorang orang tua anak, Deva Sustri, dari Desa Sungai Keli, Kecamatan Ngabang, yang anaknya mendapatkan perawatan intensif di fasilitas tersebut.

Depa menceritakan perkembangan signifikan putranya, Jaksen Ari, setelah menjalani pendampingan di Rumah Gizi. “Pertama ke sini kemarin berat badannya 7,6 kg. Sekarang sudah naik menjadi 8,5 kg,” ujar Depa dengan nada bersyukur.

Tak hanya soal peningkatan berat badan, Deva mengaku mendapatkan banyak ilmu baru terkait pola asuh dan kebersihan. Selama di Rumah Gizi, ia diajarkan cara mencuci tangan yang benar, jadwal pemberian makan yang tepat, hingga konsumsi susu yang teratur.

Berita terkait

Sekolah Rakyat Permanen Tahap II, Terus Dilakukan Secara Masif  di Aceh

Sekolah Rakyat Permanen Tahap II, Terus Dilakukan Secara Masif di Aceh

Spektroom – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan permanen Sekolah Rakyat (SR) Tahap II di Provinsi Aceh sebagai bagian dari pemulihan pasca bencana banjir bandang sekaligus upaya memutus mata rantai kemiskinan melalui peningkatan akses pendidikan yang berkualitas. Pembangunan Sekolah Rakyat di Aceh diharapkan menjadi simpul pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak

Nurana Diah Dhayanti