Rektor UIN Malang Prof. Ilfi Nur Diana Tegaskan Tiga Pilar Pendidikan Unggul di Hardiknas 2026
Malang-Spektroom : Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Ilfi Nur Diana, menegaskan pentingnya komitmen bersama dalam mewujudkan pendidikan berkualitas saat memimpin Apel Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, yang digelar di halaman Rektorat kampus, Sabtu (1/5/2026).
Apel berlangsung khidmat dengan seluruh peserta mengenakan pakaian adat daerah, mencerminkan semangat kebhinekaan dalam dunia pendidikan. Dalam amanatnya, Rektor menekankan bahwa aparatur sipil negara (ASN) di bawah Kementerian Agama memiliki tanggung jawab besar dalam membangun pendidikan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat dalam aspek spiritualitas dan moralitas.
“Pendidikan yang kita bangun tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga harus melahirkan generasi dengan spiritualitas dan moralitas yang kokoh,” tegas Prof. Ilfi.
Dalam momentum Hardiknas tersebut, ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk melakukan refleksi atas komitmen yang selama ini dijalankan. Ia mengibaratkan komitmen layaknya iman yang bisa naik dan turun, sehingga perlu terus diperkuat.
Prof. Ilfi kemudian memaparkan tiga pilar utama yang harus menjadi fokus pengembangan pendidikan di UIN Malang. Pertama, mewujudkan pendidikan unggul yang tidak hanya berorientasi pada capaian akreditasi, tetapi juga menjamin standar kualitas layanan pendidikan setara dengan level internasional.
“Kita tidak boleh berhenti pada label unggul. Yang lebih penting adalah menjaga kualitas layanan pendidikan agar setara dengan standar global, bahkan memiliki keunggulan nilai,” ujarnya.
Pilar kedua adalah inovasi berbasis nilai. Menurutnya, kampus harus mampu menghasilkan riset yang memberikan solusi nyata terhadap persoalan sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, dengan mengintegrasikan perspektif keislaman dan sains modern.
“Riset tidak boleh berhenti pada publikasi. Harus berdampak nyata melalui pengabdian kepada masyarakat,” imbuhnya.
Adapun pilar ketiga adalah internasionalisasi, yakni mendorong pengakuan global terhadap kampus melalui karya ilmiah, publikasi, dan pemikiran para akademisi.
Lebih lanjut, Prof. Ilfi menyoroti pentingnya membentuk lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga berkarakter kuat. Ia mengingatkan bahwa berbagai persoalan seperti gangguan kesehatan mental hingga kasus pelecehan seksual di kalangan mahasiswa menjadi tantangan serius yang harus dihadapi dunia pendidikan.
“Masih ada generasi terdidik yang mengalami gangguan mental hingga melakukan tindakan menyimpang. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa penanaman nilai spiritualitas dan moralitas bukan hanya tugas dosen, tetapi juga seluruh tenaga kependidikan melalui keteladanan sikap, integritas, kedisiplinan, dan kejujuran.
Selain itu, Rektor juga menyinggung tantangan dunia kerja, khususnya fenomena oversupply tenaga kerja dan ketidaksesuaian keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri. Ia menegaskan bahwa penutupan program studi bukanlah solusi.
“Solusinya adalah pembaruan kurikulum yang relevan dengan perkembangan zaman serta reposisi dan transformasi program studi agar lebih adaptif tanpa menghilangkan disiplin keilmuan,” jelasnya.
Sampaikan Pesan Mendiktisaintek
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ilfi juga menyampaikan pesan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Indonesia, Brian Yuliarto, Ph.D., dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional ke-78 tahun 2026.
Dalam pesannya, Mendiktisaintek menekankan bahwa Hardiknas menjadi momentum untuk memperkuat semangat persatuan dan harapan bagi masa depan Indonesia. Pendidikan disebut sebagai jantung peradaban, tempat pembentukan akal budi, karakter, dan penentu arah masa depan bangsa.
Di tengah perubahan global yang cepat—mulai dari disrupsi digital, krisis iklim dan lingkungan, hingga ketimpangan sosial—pendidikan tetap diyakini sebagai jawaban paling mendasar, strategis, dan beradab.
Selain itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga mengusung visi besar melalui Astagita atau cita-cita pembangunan yang sejalan dengan arah Presiden Republik Indonesia, yakni mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif, dan berdampak menuju Indonesia Emas 2045.
“Semangat Diktisaintek berdampak harus menjiwai setiap langkah transformasi dan menggerakkan ikhtiar bersama untuk kemajuan bangsa,” demikian pesan yang disampaikan.
Ia juga menyoroti perubahan dunia kerja akibat perkembangan kecerdasan buatan serta kompleksitas tantangan global yang saling berkaitan. Meski demikian, pendidikan tetap menjadi kunci utama dalam menjawab berbagai persoalan tersebut.
Amanat konstitusi, lanjutnya, menegaskan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tugas negara. Oleh karena itu, pendidikan yang bermutu, adil, inklusif, dan memerdekakan menjadi sebuah keharusan, bukan pilihan.
Tema Hardiknas 2026 pun menegaskan pentingnya “menguatkan partisipasi semesta dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.”
Di akhir amanatnya, Prof. Ilfi mengajak seluruh elemen kampus untuk saling menguatkan dan bekerja bersama dalam mewujudkan pendidikan berkualitas.
“Jangan saling melemahkan. Mari kita bergandeng tangan, saling mengingatkan, dan bekerja dengan niat tulus demi masa depan pendidikan yang lebih baik,” pungkasnya.