Reses di Tapal Batas, Lasarus Tegaskan Proyek Strategis Nasional Tetap Berlanjut
Kapuas Hulu-Spektroom : Deru alat berat memecah sunyi hutan perbatasan.
Di jalur lintas timur Kabupaten Kapuas Hulu, hamparan aspal hitam membelah hijau rimba yang selama puluhan tahun terisolasi.
Di titik inilah Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, berdiri memastikan satu hal: proyek yang sudah berjalan tak boleh berhenti.
Dalam kunjungan resesnya, Lasarus meninjau langsung progres pembangunan Jalan Paralel Perbatasan Kalimantan Barat–Kalimantan Timur.
Proyek strategis nasional yang dimulai sejak era Presiden Joko Widodo itu kini memasuki tahap lanjutan.

“Tahun ini dianggarkan Rp139,8 miliar untuk menyambung enam kilometer menuju ujung aspal.
Total masih ada 28 kilometer ke depan,” ujar Lasarus, Jum'at (27/2/2026).
Baginya, jalan paralel perbatasan bukan sekadar proyek infrastruktur.
Jalur ini menyangkut pertahanan dan keamanan negara, pengamanan wilayah terluar, sekaligus membuka akses ekonomi masyarakat perbatasan.
Namun, medan ekstrem menjadi tantangan nyata. Kontur tanah labil dan tebing yang berbatasan langsung dengan aliran Sungai Kapuas memunculkan ratusan titik rawan longsor.
Beberapa ruas bahkan menunjukkan bekas gerusan tanah akibat curah hujan tinggi.
“Jangan sampai longsor kembali ke badan jalan dan memutus akses masyarakat. Ini harus dijaga,” tegasnya.
Lasarus berharap minimal ruas di wilayah Kalbar bisa tuntas diaspal, termasuk konektivitas menuju Desa Tanjung Lokang yang diperkirakan membutuhkan anggaran hingga Rp1 triliun.
“Saya bukan sekadar seremonial, tapi memastikan pembangunan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat perbatasan,” katanya.
Tak jauh dari jalan nasional, Lasarus juga meninjau pendalaman Danau Jaras Sinau dan Selanyut di Putussibau.
Danau yang selama ini menjadi salah satu kantong penahan banjir itu tengah dikeruk menggunakan ekskavator long arm.
Target penyelesaian dipatok 2026. Namun pekerjaan tak sesederhana mengeruk lumpur.
Karakter danau yang berlumpur membuat volume air meningkat saat sedimentasi diangkat.
“Setelah long arm masuk, perlu pekerjaan lanjutan pakai drejer.
Itu sudah ada di lokasi,” jelas Lasarus.
Pendalaman ini diyakini meningkatkan daya tampung air secara signifikan.
Selain mengurangi risiko banjir, danau tersebut juga diproyeksikan menjadi kawasan konservasi sekaligus mendukung pengembangan perikanan air tawar, termasuk industri ikan arwana yang bernilai ekonomi tinggi.
Bupati Kapuas Hulu, Fransiskus Diaan, mengakui dampak proyek tersebut mulai terasa.
Menurutnya, saat musim hujan, genangan kini lebih cepat surut karena kapasitas tampung air meningkat.
“Surutnya cepat sekali.
Daya tampung sudah besar sehingga tidak menyebabkan banjir lama tergenang,” ujarnya.
Agenda reses berlanjut ke ruas Nanga Danau–Nanga Bunut.
Jalan sepanjang 3,7 kilometer tengah dikerjakan dalam tiga segmen tahun ini, setelah sebagian selesai pada 2024.
Meski demikian, masih tersisa sekitar 30 kilometer yang belum tertangani.
Lasarus mendorong kolaborasi pemerintah pusat dan daerah agar aspal bisa tembus hingga Nanga Bunut.
“Supaya masyarakat sejahtera dan bahagia,” katanya.
Selain jalan, perhatian juga tertuju pada jembatan di ruas nasional.
Pemerintah berencana mengganti jembatan secara bertahap, termasuk membangun rangka baja yang memenuhi standar nasional agar truk dapat berpapasan dengan aman.
Ia juga menyinggung kondisi Bukit Biru yang dinilai tak lagi layak dari sisi keamanan dan kenyamanan.
Kementerian Pekerjaan Umum tengah menyusun perencanaan matang sebelum pekerjaan fisik dilakukan.
Di tengah hamparan hutan dan sungai yang mengelilingi Kapuas Hulu, pesan Lasarus terdengar tegas: konektivitas adalah kunci.
Infrastruktur bukan sekadar beton dan aspal, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan rasa kehadiran negara di tapal batas.
“Kita berkomitmen pembangunan infrastruktur di Kapuas Hulu terus kita dorong sehingga konektivitas masyarakat berjalan lancar,” pungkasnya.