Ritual Adat Menyuke, Cara Masyarakat Dayak Menjaga Api Kemerdekaan dari Tanah Leluhur

Ritual Adat Menyuke, Cara Masyarakat Dayak Menjaga Api Kemerdekaan dari Tanah Leluhur
Ritual masyarakat Adat Dayak Menyuke Darit jelang Hari Kemerdekaan RI ke .80 . Cara menghormati para pahlawan Dayak yg gutur dalam perjuangan melawan penjajahan. Foto : Spektroom .

Landak - Spektroom : Di tengah rimbunnya kawasan adat Menyuke, Kabupaten Landak, suara doa dan lantunan adat menggema dari Panyugu 9 Ansenkg Landak, Darit, Minggu (16/08/2026).

Bagi masyarakat Dayak setempat, kemerdekaan Indonesia bukan sekadar catatan sejarah yang diperingati setiap Agustus, melainkan warisan perjuangan yang terus dihidupkan melalui tradisi dan penghormatan kepada leluhur.

Di bawah naungan pohon beringin yang menjadi pusat ritual di Panyugu Nek Patih, tokoh adat, pemimpin masyarakat, aparat pemerintah, hingga generasi muda berkumpul dalam satu lingkaran kebersamaan.

Mereka hadir untuk mengenang jasa para pejuang Dayak yang ikut mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Ritual dipimpin langsung oleh Pangkalatn Nek Patih, Selvanus Itus. Prosesi berlangsung khidmat dengan pembacaan doa, persembahan adat, serta penyampaian pesan-pesan penghormatan kepada para leluhur.

Di tengah suasana yang sarat makna, masyarakat tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga merefleksikan nilai perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Menyuke Thomas Ronaldo Oktora, Plt Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Menyuke Agustinus Idjam, Kapolsek Menyuke IPTU I Nyoman Astika, anggota Koramil 05 Menyuke Sertu Irwanto, Kepala Desa Darit Ardiono, serta sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Kehadiran berbagai elemen itu menunjukkan bahwa pelestarian sejarah dan budaya merupakan tanggung jawab bersama.

Menurut Selvanus Itus, ritual tahunan ini menjadi pengingat bahwa kontribusi masyarakat Dayak dalam perjalanan bangsa tidak boleh terhapus oleh waktu.

“Peringatan melalui ritual adat di Panyugu 9 Ansenkg Landak ini akan terus dilakukan setiap tahun sebagai wujud nyata bahwa sejarah perjuangan masyarakat Dayak tidak boleh dilupakan,” ujarnya.

Di era ketika generasi muda semakin akrab dengan dunia digital, ritual seperti ini menjadi ruang belajar yang hidup.

Anak-anak dan remaja menyaksikan langsung bagaimana nilai hormat kepada leluhur, semangat gotong royong, serta kecintaan terhadap tanah air diwariskan melalui tradisi.

Setelah prosesi adat selesai, suasana berubah menjadi lebih hangat. Para tamu dan warga berkumpul di pendopo untuk menikmati hidangan bersama.

Tidak ada sekat antara pejabat, tokoh adat, maupun masyarakat. Semua duduk berdampingan, berbagi cerita dan tawa.

Di Menyuke, kemerdekaan tidak hanya diperingati dengan upacara dan bendera.

Kemerdekaan hadir dalam ritual, doa, dan ingatan kolektif masyarakat adat yang terus menjaga api perjuangan tetap menyala dari tanah leluhur hingga ke masa depan.

Berita terkait

Gubernur Mirza : Pembangunan Jalan Tol Diarahkan Untuk Berikan Manfaat Ekonomi Bagi Masyarakat

Gubernur Mirza : Pembangunan Jalan Tol Diarahkan Untuk Berikan Manfaat Ekonomi Bagi Masyarakat

Bandarlampung - Spektroom: Keberhasilan membangun jalan tol tidak cukup diukur dari panjang ruas dan kemudahan konektivitas, tetapi juga dari sejauh mana infrastruktur tersebut mampu menghubungkan sentra produksi dengan pasar, mendorong investasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat membuka acara Pengukuhan Pengurus Forum Ekosistem

Anggoro AP
UNS Dampingi Kemuning Orchid Tingkatkan Produksi Bibit Anggrek Berbasis Kultur Jaringan

UNS Dampingi Kemuning Orchid Tingkatkan Produksi Bibit Anggrek Berbasis Kultur Jaringan

Surakarta – Spektroom: Pendampingan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terhadap pelaku usaha budidaya anggrek Kemuning Orchid di Kabupaten Karanganyar berhasil meningkatkan kapasitas produksi pembibitan anggrek berbasis kultur jaringan. Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan selama sekitar tiga tahun tersebut juga mencakup penataan manajemen dan pengembangan arah bisnis agar lebih terukur. “Selama kurang

Ciptati Handayani