UNS Dampingi Kemuning Orchid Tingkatkan Produksi Bibit Anggrek Berbasis Kultur Jaringan

UNS Dampingi Kemuning Orchid Tingkatkan Produksi Bibit Anggrek Berbasis Kultur Jaringan
Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNS dalam kegiatan pendampingan budidaya anggrek Kemuning Orchid di Karanganyar. (Foto: Dokumentasi Humas UNS)

Surakarta – Spektroom: Pendampingan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terhadap pelaku usaha budidaya anggrek Kemuning Orchid di Kabupaten Karanganyar berhasil meningkatkan kapasitas produksi pembibitan anggrek berbasis kultur jaringan. Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan selama sekitar tiga tahun tersebut juga mencakup penataan manajemen dan pengembangan arah bisnis agar lebih terukur.

“Selama kurang lebih tiga tahun ini ada beberapa program yang kita lakukan, dan produktivitas Kemuning Orchid meningkat secara signifikan. Kemudian dari sisi pemasaran juga mulai dikembangkan, termasuk melalui media daring,” ungkap Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNS, Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S., Sabtu (3/10/2026).

Berbeda dengan mitra sasaran lainnya yang lebih berfokus pada pengembangan anggrek dewasa, Kemuning Orchid lebih banyak mengembangkan anggrek dalam bentuk botolan atau bibit. Pengembangan bibit tersebut membutuhkan keterampilan khusus, penggunaan bahan kimia yang relatif mahal, ketelitian, serta kesabaran.

Menurut Prof. Okid, kemampuan dalam pembibitan melalui kultur jaringan tidak hanya ditentukan oleh latar belakang pendidikan, tetapi juga pengalaman dan keterampilan yang diperoleh melalui proses pendampingan secara berkelanjutan.

Selain meningkatkan kapasitas produksi, pendampingan UNS juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas usaha sekaligus membangun ekosistem pembelajaran. Kemuning Orchid mulai mengembangkan konsep sekolah anggrek dan sekolah pembenihan anggrek sebagai wadah pembelajaran bagi mahasiswa maupun masyarakat.

“Saat ini telah tersedia enam fasilitas atau ruang yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produksi, magang mahasiswa, maupun pembelajaran masyarakat. Pengadaan sarana dan prasarana dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan mitra dan ketersediaan anggaran dari setiap program,” jelasnya.

Prof. Okid berharap perkembangan Kemuning Orchid dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekitar, sehingga kawasan Kemuning ke depan mampu berkembang sebagai sentra pembenihan dan budidaya anggrek.

Sementara itu, pemilik Kemuning Orchid, Yanuar Mahir Hermawan, mengatakan ketertarikannya mengembangkan usaha anggrek berawal dari peluang ekonomi komoditas tersebut. Anggrek memiliki daya tahan yang cukup baik dalam proses pengiriman sehingga dinilai potensial untuk dikembangkan sebagai usaha pembibitan.

Kemuning Orchid kemudian memfokuskan pengembangan pembibitan melalui kultur jaringan, terutama jenis Dendrobium dan Cattleya. Namun, keterbatasan fasilitas, modal, dan pengetahuan teknis sempat membuat perkembangan usaha berjalan lambat.

Melalui pendampingan UNS, Kemuning Orchid juga memperoleh pengetahuan, pengalaman, serta dukungan sarana produksi, antara lain Laminar Air Flow (LAF), enkas, shaker, autoklaf, greenhouse, timbangan analitik, dan sejumlah peralatan pendukung kultur jaringan.

“Pendampingan UNS membawa perubahan dalam proses pengembangan Kemuning Orchid. Hal ini juga mencakup pengelolaan keuangan usaha dengan pembekalan pembukuan sehingga penghitungan biaya produksi lebih terukur,” tuturnya. (Ciptati Handayani)

Berita terkait